Bilangnya Sebentar, Presiden Pergi 10 Minggu ke Eropa dan Baru Pulang

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Kamerun Paul Biya membuat kehebohan. Ia baru saja kembali ke negaranya Kamis, setelah menjalani masa tinggal di luar negeri terlama nan pernah tercatat, sejak dia berkuasa lebih dari empat dasawarsa lalu.

Mengutip Reuters Jumat (21/8/2026), kepulangannya mengakhiri spekulasi selama berbulan-bulan mengenai kondisi kesehatan dan keberadaannya. Pemimpin berumur 93 tahun tersebut nan merupakan kepala negara tertua di dunia, tiba di Bandara Internasional Nsimalen, Yaounde, dengan penerbangan carter dari Jenewa, Swiss, setelah berada di luar negeri selama lebih dari 10 minggu.

Diketahui Biya meninggalkan Kamerun pada 7 Juni untuk menjalani apa nan disebut instansi kepresidenan sebagai "kunjungan pribadi singkat di Eropa". Presiden, nan didampingi Ibu Negara Chantal Biya, mendarat sekitar pukul 16.45 waktu setempat, sebelum meninggalkan airport menggunakan iring-iringan kendaraan menuju Istana Persatuan Etoudi.

"Biya melambaikan tangan melalui jendela nan terbuka sebagian kepada ratusan pendukung Cameroon People's Democratic Movement (CPDM) nan memenuhi jalan-jalan ibu kota untuk menyambut kepulangannya," tulis laman itu.

"Mereka membawa atribut partai dan spanduk nan memuji sang Presiden," tambahnya.

Absennya Biya dalam waktu lama memicu spekulasi luas mengenai kondisi kesehatannya dan kemampuannya menjalankan pemerintahan. Hal itu terjadi meskipun pemerintah berulang kali memastikan bahwa Biya bakal segera kembali.

Ketidakhadirannya juga memunculkan pertanyaan mengenai suksesi politik di Kamerun, sebuah negara nan kekuasaannya sangat terpusat di tangan presiden. Sejumlah politisi oposisi sebelumnya meminta Dewan Konstitusi untuk mempertimbangkan apakah seseorang perlu menjalankan tugas sebagai kepala negara selama Biya tidak berada di Kamerun.

Berdasarkan konstitusi Kamerun, jika tidak ada wakil presiden, presiden Senat kudu menjalankan tugas sementara andaikan kedudukan presiden dinyatakan kosong akibat kematian, pengunduran diri, alias ketidakmampuan permanen. Biya belum menunjuk wakil presiden meskipun kedudukan tersebut kembali diperkenalkan pada April lalu.

Para pengkritiknya mengatakan tidak adanya kerangka suksesi nan jelas menimbulkan ketidakpastian mengenai kemungkinan transisi kekuasaan. Terutama andaikan Biya tidak lagi bisa menjalankan pemerintahan

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya