Blak-blakan! Hunter Biden Akui Kontroversi Pengampunan Joe Biden

57 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Putra mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, ialah Hunter Biden mengakui bahwa keputusan sang Ayah nan menggunakan kewenangan presiden untuk membebaskannya dari ancaman balasan pidana federal bukan merupakan pilihan nan baik bagi AS maupun warisan politik Joe Biden.

Hunter mengakui, kontroversi pemaafan norma nan diberikan pada tahun 2024 lampau tak dapat lepas dari kritikan publik.

"Itu adalah sesuatu nan mudah dikritik dan memang ada alasannya," ungkapnya mengutip BBC Internasional, Minggu (9/8/2026).

Ia menyebut dirinya menjadi orang nan paling spesial setelah menerima putusan pemaafan norma nan menjadi buah upaya mantan orang nomor satu di negara adikuasa tersebut.

"Itu tidak adil... nan saya tahu hanyalah bahwa saya berterima kasih dia melakukannya untuk saya," ucapnya.

Namun, menurutnya, kondisi bakal berbeda jika sang Ayah tak membantunya. "Apa nan bakal Anda pikirkan tentang ayah saya jika dia tidak melakukan itu untuk saya," sebutnya.

Ia menilai bahwa tindakan sang Ayah mempunyai argumen lain, lantaran kekhawatirannya pada sasaran pemerintahan Donald Trump nan bakal datang.

Meskipun demikian, Hunter Biden juga menegaskan bahwa dia dan ayahnya tidak pernah membicarakan kemungkinan pemaafan sebelum pemaafan itu diberikan.

"Tidak mungkin Anda bisa melakukan pembicaraan semacam itu tanpa menjadi konsumsi publik," katanya.

Sikap Biden dalam memberikan pemaafan penuh dan tanpa syarat kepada putranya pada Desember 2024 bertolak belakang pada pernyataannta nan berulang kali dikatakan bahwa dirinya tidak bakal menggunakan kewenangan kepresidenan untuk kombinasi tangan dalam kasus-kasus norma putranya.

Saat mengumumkan keputusan tersebut, mantan presiden itu mengatakan bahwa putranya telah dituntut secara selektif dan tidak adil.

Pengampunan tersebut mencakup vonis federal atas kepemilikan senjata api nan dijatuhkan kepada putranya, kasus pajak nan telah dia akui bersalah, serta segala tindak pidana federal nan dilakukan antara tahun 2014 dan 2024.

Selain itu, Hunter juga bicara tentang kondisi kesehatan Biden nan mengalami penyakit kanker. "Kanker itu betul-betul berat," katanya.

Ia mengaku prihatin dengan kondisi kanker nan diderita sang Ayah lantaran telah menyebar, bermetastasis ke tulang-tulangnya dan ke bagian lain. "Sungguh menyedihkan melihatnya," ucapnya.

Namun, Ia menekankan, diluar karir dan reputasinya di bumi politik, hingga hari ini, Biden tetap menjadi pusat keluarga. "Dia adalah ayah terbaik, suami terbaik, dan kakek terbaik," tegasnya.

"Satu-satunya perihal nan mau kukatakan tentang ayahku, mengenai kesehatannya saat ini, adalah saya berambisi dia lebih sering mengeluh," lanjutnya.

Hunter Biden juga menyinggung debat presiden pada Juni 2024 lampau nan pada akhirnya mengakhiri kampanye pencalonan kembali ayahnya. Ia mengatakan telah menonton debat tersebut dari rumahnya di California dan langsung merasakan ada nan tidak beres.

"Saya terkejut. Saya tahu ada nan tidak beres," ungkapnya.

Hunter Biden sebelumnya beranggapan bahwa penampilan ayahnya nan jelek dalam debat tersebut mencerminkan kelelahan bentuk setelah perjalanan nan melelahkan. Menyusul pemeriksaan kanker nan diderita Joe Biden, dia juga mempertanyakan kemungkinan penyakit tersebut sudah memengaruhi ayahnya.

Meskipun sang ayahnya kala itu tetap aktif dalam politik dan berkeinginan untuk terus berbincang di depan umum.

Di sisi lain, Hunter juga bercerita tentang kondisinya saat mengalami kecanduan alkohol dan narkotika nan parah. Ia menggambarkan bahwa pada masa terburuknya, dia mengonsumsi nyaris satu galon vodka setiap hari sembari menghisap kokain crack nyaris setiap 15 menit.

"Itu adalah neraka di dunia," katanya.

"Tidak ada nan kegemerlapan dari perihal itu," sebutnya.

Saat merenungkan argumen kenapa dia terjerumus ke dalam narkoba dan alkohol, Hunter Biden menolak dugaan bahwa dia merasa kebal norma lantaran statusnya sebagai putra seorang presiden.

"Saya tidak mencari apa pun selain pelarian," katanya.

Ia mengaku, bahwa kecanduannya merupakan langkah untuk melarikan diri dari emosi resah dan terisolasi. "Narkoba dan alkohol awalnya terasa seperti solusi sebelum akhirnya menjadi "hal nan nyaris membunuhku", katanya.

Namun, ketika ditanya mengenai rumor bahwa dia mungkin bakal terjun ke bumi politik, alias apalagi mencalonkan diri sebagai presiden, Hunter mengatakan bahwa dia sendiri tidak tertarik pada politik elektoral dan menepis segala spekulasi bahwa suatu hari kelak dia bakal mencalonkan diri untuk kedudukan publik.

Sebaliknya, Hunter mengatakan dia mau mencurahkan waktunya untuk berbincang tentang kecanduan dan pemulihan, nan dia gambarkan sebagai rumor nan bisa menjembatani perpecahan politik di Amerika.

"Saya percaya bahwa kecanduan dan angan bakal pemulihan adalah perihal nan menghubungkan kita semua," katanya.

Ketika ditanya apa nan paling membuatnya bangga terhadap ayahnya, Hunter Biden tidak menyebut masa-masa ayahnya menjabat di pemerintahan, melainkan ketangguhannya.

"Saya paling bangga dengan ketangguhannya," katanya.

"Ia telah membuktikan acapkali bahwa ketika Anda terjatuh, Anda bisa bangkit kembali. "Ia adalah laki-laki terkuat nan saya kenal," pungkasnya.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya