BMKG Catat 235 Gempa Susulan di Flores NTT, Proses Peluruhan Diprediksi 3 Minggu

1 jam yang lalu 2
BMKG Catat 235 Gempa Susulan di Flores NTT, Proses Peluruhan Diprediksi 3 Minggu Pegawai dan visitor asing memandang gedung Hotel Jayakarta nan rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).(ANTARA/Gecio Viana)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan aktivitas seismik di utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap terus berlangsung. Hingga Sabtu (15/8) pukul 14.00 WIB, tercatat sebanyak 235 kali gempa bumi susulan (aftershocks) terjadi pascagempa tektonik utama.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa aktivitas gempa susulan tersebut terdistribusi di sebelah utara Pulau Flores dengan kekuatan magnitudo nan bervariasi antara M2,5 hingga M6,2. Berdasarkan diagram pemantauan terbaru, tren rekaman gempa susulan saat ini belum menunjukkan tanda-tanda peluruhan nan signifikan.

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar Faisal dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta.

Analisis Geologi dan Dampak Guncangan

Gempa bumi ini dikonfirmasi sebagai jenis gempa dangkal dengan kedalaman 15 km nan dipicu oleh aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back Arc Thrust). Secara historis, struktur ini pernah memicu gempa besar M7,8 pada tahun 1992. Namun, gempa kali ini mempunyai titik pusat nan lebih dangkal dibandingkan kejadian 1992 (28 km), sehingga akibat kerusakan bentuk pada prasarana dilaporkan relatif lebih berat.

Berdasarkan peta intensitas guncangan (intensity map), berikut adalah wilayah dengan akibat guncangan terkuat:

Skala Intensitas (MMI) Wilayah Terdampak
VII MMI Aesesa (Nagekeo), Riung (Ngada), Kota Ambai, Manggarai, Ruteng.
VI MMI Wolowae (Nagekeo), Kota Bajawa.
V MMI Kawasan sekitar pusat gempa lainnya.

Respons Cepat dan Pemantauan Tsunami

Sistem pemantauan BMKG merespons sigap kejadian ini dengan mengeluarkan peringatan awal tsunami hanya dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa utama M7,7 terjadi. Guncangan tersebut terbukti memicu gelombang tsunami nan terobservasi di beberapa titik pesisir NTT hingga Sulawesi.

Berikut adalah info rekaman ketinggian muka air laut (tide gauge) saat tsunami terjadi:

Lokasi Observasi Ketinggian Puncak Gelombang
Reo Manggarai & Manggarai Timur 1,61 meter
Maurole Ende 0,94 meter
Bulukumba & Sape Bima > 0,5 meter

Seluruh peringatan awal tsunami resmi diakhiri pada pukul 07.30 WIB setelah kondisi air laut dipastikan kembali aman.

Langkah Rekonstruksi dan Imbauan

Untuk mendukung pemulihan, BMKG telah menerjunkan tim mahir guna melakukan survei pemetaan mikrozonasi di wilayah Ngada dan Nagekeo. Hasil kajian mengenai jenis tanah dan respons terhadap gempa ini bakal diserahkan kepada pemerintah wilayah sebagai rujukan teknis dalam membangun kembali gedung nan tahan gempa (retrofitting).

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya mempercayai info resmi dari jaringan nasional BMKG nan didukung oleh lebih dari 2.000 sensor kegempaan di seluruh Indonesia. Koordinasi intensif terus dilakukan berbareng BNPB, Basarnas, TNI, Polri, dan Pemerintah Daerah untuk memastikan penanganan darurat melangkah optimal. (Z-1)

Selengkapnya