BMKG Ingatkan Potensi El Nino Kuat, DIY Diprediksi Alami Kemarau Lebih Kering hingga November 2026

1 jam yang lalu 4
BMKG Ingatkan Potensi El Nino Kuat, DIY Diprediksi Alami Kemarau Lebih Kering hingga November 2026 Warga merapikan selang nan bakal digunakan untuk mengalirkan air dari mata air alias sendang ke rumahnya di Kalidadap 1, Selopamioro, Imogiri, Bantul, D.I Yogyakarta, Jumat (31/7/2026).(ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)

STASIUN Klimatologi D.I. Yogyakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan info perkembangan suasana tahun 2026. Berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer dan laut terkini per 31 Juli 2026, kejadian El Nino berkesempatan terjadi dalam kategori kuat nan berpotensi memicu kondisi tandus lebih kering dari biasanya di wilayah D.I. Yogyakarta.

Kepala Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Dr. Mamenun, S.Si, M.Si., menyampaikan, mengenai tingkat curah hujan, BMKG memprediksi bahwa intensitas hujan di wilayah DIY selama tiga bulan ke depan (Agustus hingga Oktober 2026) berada pada kategori rendah, ialah berkisar antara 0 hingga 20 mm per bulan. Sifat hujan secara umum diprakirakan Bawah Normal (BN).

Puncak musim kemarau di seluruh wilayah DIY diproyeksikan terjadi pada bulan Agustus 2026, dengan lama tandus berkisar antara 16 hingga 21 dasarian dan total curah hujan musim tandus sekitar 250 hingga 400 mm. Musim tandus diprediksi baru bakal berhujung pada dasarian I dan II November 2026.

Menanggapi potensi akibat dari kejadian suasana tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah, lembaga terkait, serta seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap akibat kekeringan meteorologis beserta akibat turunannya.

"BMKG mengimbau kepada pemerintah daerah, lembaga mengenai dan seluruh masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap akibat musim tandus terutama di wilayah nan rentan terhadap musibah kekeringan meteorologis, seperti kebakaran rimba dan lahan serta berkurangnya kesiapan air bersih," imbau Mamenun dalam keterangan resminya, Jumat (31/7).

Selain ancaman kesiapan air bersih dan karhutla, BMKG juga menyoroti sektor pertanian nan rentan terdampak oleh penurunan curah hujan dan perpanjangan lama tandus ini. Mamenun menegaskan perlunya langkah konkret di sektor pertanian untuk mencegah kerugian nan lebih besar.

"Mewaspadai prediksi sifat hujan musim tandus 2026 di Bawah Normal (BN), nan artinya kondisi musim tandus diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya," terang dia.

El Nino dapat mengakibatkan kekeringan nan berkesempatan mulai bulan Juli hingga Desember 2026. Diperlukan tindakan antisipasif dengan mempersiapkan pola tanam nan sesuai agar tidak mengalami kandas panen terutama di wilayah-wilayah nan rentan terhadap kekeringan meteorologis melalui pengelolaan sumber daya air nan lebih efisien," jelas Mamenun.

Kondisi Atmosfer

Ia menambahkan, kondisi atmosfer saat ini menunjukkan aktifnya Monsun Australia nan ditandai dengan bertiupnya angin dari arah timur di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator. Di samping itu, indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) berada pada kondisi moderat dan berpotensi meningkat.

"Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) dalam kondisi moderat, El Nino kategori kuat berkesempatan terjadi pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2026," ujar Mamenun.

Ia menambahkan bahwa parameter suasana lainnya, ialah Dipole Mode Index (DMI), saat ini berada dalam kategori netral, namun berpotensi bergeser menjadi DMI Positif pada periode September hingga Desember 2026. 

Sementara itu, kejadian Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia, serta anomali suhu muka laut di perairan selatan DIY berkisar antara -0.5°C hingga 1.0°C (netral-hangat) dengan suhu 26°C hingga 28°C.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui info suasana dan cuaca melalui saluran resmi BMKG Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta guna mengantisipasi perubahan dinamika cuaca secara sigap dan akurat. (H-2)

Selengkapnya