Ilustrasi.(Magnific)
STASIUN Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi curah hujan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bakal berada dalam kategori bawah normal (BN) selama tiga bulan ke depan. Kondisi ini dipicu oleh aktivitas El Nino kategori sangat kuat nan berkesempatan memperkuat hingga Desember 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Mamenun, menjelaskan bahwa pada dasarian III Agustus hingga dasarian II September 2026, curah hujan diprediksi sangat rendah, ialah berkisar antara 0-10 milimeter per dasarian.
"Dengan kondisi tersebut, Stasiun Klimatologi mengeluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis DIY. Pada Dasarian III Agustus 2026, status Awas ditetapkan untuk Kota Yogyakarta, Kabupaten Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul, sementara Kabupaten Sleman berada dalam status Siaga," ujar Mamenun di kantornya, Kamis (20/8).
Prediksi Curah Hujan Tiga Bulan ke Depan
BMKG merinci proyeksi curah hujan bulanan di DIY sebagai berikut:
- September 2026: 0-20 mm/bulan (Kriteria rendah, sifat Bawah Normal).
- Oktober 2026: 0-20 mm/bulan (Kriteria rendah, sifat Bawah Normal).
- November 2026: 0-100 mm/bulan (Kriteria rendah, sifat Bawah Normal).
Mamenun menambahkan, puncak musim tandus 2026 di DIY terjadi pada Agustus ini di seluruh Zona Musim (ZOM). Durasi tandus diprediksi bervariasi antara 16 hingga 21 dasarian, dengan total curah hujan selama musim tandus berkisar 250-400 milimeter.
"Akhir musim tandus 2026 di DIY diprediksi baru bakal terjadi pada dasarian I dan II November 2026," jelasnya.
Dampak El Nino sangat Kuat
Fenomena El Nino kategori sangat kuat menjadi aspek utama nan mengurangi curah hujan dan memperpanjang lama tandus di wilayah DIY. BMKG mengimbau pemerintah wilayah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap akibat kekeringan meteorologis.
"Kami meminta masyarakat mewaspadai sifat hujan nan bawah normal, nan artinya kondisi tandus kali ini lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Hal ini berpotensi memicu kebakaran rimba dan lahan (karhutla) serta berkurangnya kesiapan air bersih," tambah Mamenun.
Selain itu, sektor pertanian diharapkan melakukan langkah antisipatif dengan menyesuaikan pola tanam agar terhindar dari akibat kandas panen. Pengelolaan sumber daya air secara efisien menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi kekeringan nan diprediksi berjalan hingga akhir tahun ini. (I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·