ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin melalui Menteri Pertahanannya dilaporkan telah memberikan restu tingkat tinggi secara rahasia bagi pasukan militernya untuk mengikuti training militer terselubung di China pada tahun lalu. Pelatihan militer sensitif nan melibatkan langsung sedikitnya empat jenderal senior dari kedua negara ini terendus oleh intelijen Barat dan seketika memicu sirine kewaspadaan tinggi di seantero Eropa.
Mengutip laporan The Straits Times berasas arsip rahasia Kremlin nan bocor, Rabu (1/07/2026), salah satu konsentrasi utama dari kerja sama militer ini adalah kursus kilat selama tiga pekan nan digelar di sebuah akomodasi militer di Beijing pada November tahun lalu. Kursus intensif ini berfokus pada pertahanan radiologis, kimia, dan biologi.
Foto-foto dan laporan intelijen memperlihatkan momen saat tentara Rusia mendengarkan kuliah dari pembimbing China dan mempelajari maket model reaktor nuklir. Mereka juga dilatih mengenai strategi pengintaian kimia, pengintaian radiasi, hingga perlindungan sistem ventilasi udara dari kontaminasi unsur berbahaya.
Dokumen militer itu menjabarkan bahwa delegasi angkatan bersenjata Rusia dikirim secara unik ke beragam akomodasi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China. Keterlibatan perwira tinggi ini berkah titah internal Menteri Pertahanan Andrei Belousov pada Agustus 2025.
Berdasarkan daftar manifes peserta, delegasi Rusia tersebut dipimpin langsung oleh Kolonel Jenderal Rustam Muradov selaku Wakil Panglima Tertinggi Pasukan Angkatan Darat Rusia. Agenda ini juga melibatkan Mayor Jenderal Vitaly Gerasimov dan Mayor Jenderal Rustam Khusainov.
Dari pihak Beijing, nama Mayor Jenderal Li Jinsun selaku kepala Akademi Militer Pertahanan Radiologis, Kimia, dan Biologi PLA berbareng Senior Kolonel Sun Dayun tercatat ikut menandatangani arsip perjanjian kerja sama tersebut.
Dokumen internal militer Rusia nan diperiksa menunjukkan adanya penilaian nan beragam mengenai performa latihan di kota Nanjing dan Bengbu tersebut. Laporan Rusia memuji standar peralatan tempur China nan sangat modern, penggunaan simulator canggih, serta tingkat pengetahuan teoritis pembimbing PLA nan sangat tinggi.
Kendati demikian, arsip tersebut memberikan catatan kritis bahwa militer China tetap mempunyai kelemahan besar, ialah kurangnya pengalaman tempur nyata di lapangan. Rusia sendiri tercatat telah mengumpulkan pengalaman tempur masif selama lebih dari empat tahun di Ukraina, sementara militer China belum pernah terlibat dalam perang terbuka dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Reaksi Geopolitik dan Bantahan Keras
Langkah rahasia ini menuai sorotan tajam lantaran Beijing selama ini berulang kali mengeklaim posisi netral dan bertindak sebagai mediator perdamaian dalam bentrok Ukraina. Meskipun Uni Eropa telah menjatuhkan hukuman pada beberapa korporasi China nan dituduh menyokong logistik Moskow, temuan latihan tempur ini memaksa blok 27 negara tersebut menggelar obrolan tertutup guna membahas langkah pembalasan jual beli nan lebih keras.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengonfirmasi bahwa Brussels telah memverifikasi aktivitas tersebut melalui saluran intelijen mandiri. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri China langsung membantah keras tudingan Eropa tersebut.
"Tuduhan mengenai sepenuhnya tidak mendasar. Sikap kami terhadap krisis Ukraina tetap konsisten," bantah pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China nan menepis laporan tersebut.
Kecaman senada juga dilayangkan oleh Ketua Komite Pertahanan Parlemen Rusia, Andrei Kartapolov. Ia menyebut laporan intelijen Barat itu sebagai provokasi murahan nan mengada-ada.
"Laporan tentang training itu sama sekali tidak masuk logika (complete nonsense) dan militer Rusia tidak mempunyai perihal apapun untuk dipelajari dari China," ketus Kartapolov kepada media RTVI.
(tps/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·