ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Dua jet tempur canggih milik aliansi pertahanan NATO membayangi sejumlah pesawat pengebom strategis Rusia nan bisa membawa senjata nuklir jarak jauh pada awal pekan ini. Insiden udara ini terjadi saat armada militer Moskow sedang melakukan apa nan mereka sebut sebagai penerbangan latihan teragendakan di wilayah Arktik nan sekarang dalam pengawasan ketat global.
Mengutip laporan Newsweek, Rabu (24/6/2026), pencegatan pesawat nuklir di dekat wilayah aliansi ini dinilai sebagai strategi intimidasi nan nyata dari pihak Rusia. Manuver tersebut memicu kekhawatiran serius bagi NATO, terutama di tengah meningkatnya kehadiran militer Rusia dan China di kutub utara.
Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi bahwa beberapa pesawat pengebom supersonik jenis Tu-160 mereka sedang melaksanakan penerbangan latihan di atas Laut Barents dan Laut Norwegia. Selama penerbangan 16 jam melintasi ruang udara internasional tersebut, pesawat pengebom strategis Moskow dikawal ketat oleh jet tempur MiG-31 milik Angkatan Udara Rusia.
"Pada tahapan tertentu dalam rute tersebut, pesawat pengebom strategis dikawal oleh jet tempur dari negara-negara asing," demikian pernyataan resmi dari pemerintah Rusia tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Seorang pejabat militer senior NATO mengungkapkan bahwa dua jet tempur F-35 milik Norwegia dikerahkan ke letak untuk merespons pergerakan armada Moskow tersebut. Pihak aliansi menegaskan bahwa hubungan udara antara kedua angkatan udara tersebut berjalan secara ahli tanpa kejadian lanjutan.
Norwegia sendiri berbagi perbatasan darat sepanjang 120 mil dengan Rusia nan terletak tidak jauh dari pangkalan militer utama Moskow di Murmansk dan Severomorsk. Kawasan tersebut merupakan rumah bagi armada kapal selam nuklir strategis Kremlin nan bakal dikerahkan jika bentrok nuklir pecah.
Militer Norwegia mempunyai prosedur siaga sigap untuk menerbangkan sepasang F-35 dalam waktu 15 menit jika mendeteksi pergerakan pesawat asing nan mendekat. Setiap tahunnya, otoritas Oslo biasanya melakukan sekitar 40 misi kedaruratan udara seperti ini demi menjaga kedaulatan wilayah udara NATO.
Ketegangan di Arktik diprediksi bakal terus meningkat lantaran mencairnya es kutub akibat perubahan suasana mulai membuka jalur pelayaran baru bagi lampau lintas militer maupun sipil. Rusia saat ini bertindak sebagai negara paling dominan di area tersebut dengan terus membuka kembali pangkalan era Soviet, sementara China juga mulai menyatakan diri sebagai negara dekat Arktik.
(luc/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·