Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghidupkan kembali kesepakatan tenteram sementara kembali menemui jalan buntu. Ketegangan makin meningkat setelah muncul serangan baru terhadap kapal-kapal di area tersebut.
Seorang sumber senior Iran mengatakan tidak ada kemajuan dalam pembicaraan mengenai kembalinya AS ke kesepakatan sementara nan dicapai pada Juni sekaligus penetapan kerangka waktu pelaksanaannya.
"Sama sekali tidak ada kemajuan mengenai rumor ini," ujar sumber tersebut, seperti dikutip Reuters, Kamis (13/8/2026).
Kesepakatan Juni sebelumnya menetapkan penghentian segera dan permanen operasi militer di seluruh lini. Namun, kesepakatan itu kemudian runtuh, dengan Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan tersebut "berakhir" pada 7 Juli, sementara Kementerian Luar Negeri Iran menyebutnya "ditangguhkan" sepekan kemudian.
AS menuding Iran kandas memenuhi kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Sebaliknya, Teheran menilai Washington nan melanggar komitmen, termasuk mengenai pencabutan blokade pelabuhan Iran dan pencairan aset-aset Iran nan dibekukan.
Trump pada Rabu (12/8/2026) apalagi menyatakan AS mempunyai "kendali penuh" atas Selat Hormuz. Namun, Otoritas Selat Teluk Persia nan dibentuk Iran menegaskan jalur tersebut tetap ditutup dan baru bakal dibuka setelah persyaratan Teheran dipenuhi. Trump juga menulis di Truth Social bahwa Iran "hanya banyak bicara tanpa tindakan nyata".
Di tengah kebuntuan itu, sumber Iran membantah laporan bahwa periode gencatan senjata 60 hari bakal diperpanjang.Menurutnya, AS telah melanggar kesepakatan hanya 48 jam setelah tercapai dan kemudian menarik diri beberapa hari berselang.
"Tidak ada pembicaraan mengenai perpanjangan karena, dari perspektif pandang Iran, tidak ada periode nan pernah dimulai sehingga tidak ada nan perlu diperpanjang," katanya.
Ketegangan semakin mengkhawatirkan setelah serangan terhadap kapal di kawasan. Selat Hormuz sebelumnya menjadi jalur sekitar seperlima arus minyak dan gas alam cair dunia, sementara nilai minyak Brent sempat melonjak hingga US$126 per barel sebelum kemudian berada di kisaran US$88 per barel. Minyak WTI juga diperdagangkan sekitar US$83 per barel.
Konflik nan dimulai sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Pada Selasa, sebuah kapal kargo mini diduga diserang golongan Houthi di Selat Bab el-Mandeb hingga menewaskan empat awak, sementara militer AS mengatakan helikopter MH-60 Angkatan Laut AS menembakkan dua rudal Hellfire untuk melumpuhkan sistem kemudi kapal berbendera Panama, menambah kekhawatiran bahwa kebuntuan diplomasi dapat kembali mendorong eskalasi di kawasan.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]

45 menit yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·