Ilustrasi.(Dok. Magnific)
RASA mau buang air mini kembali sesaat setelah selesai kencing mungkin pernah dialami sebagian orang. Kondisi ini kerap dianggap sepele. Padahal, andaikan terjadi terus-menerus, keluhan tersebut bisa menjadi salah satu tanda kandung kemih tidak dapat mengosongkan urine secara sempurna alias dikenal sebagai retensi urine.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), retensi urine adalah kondisi ketika seseorang tidak bisa mengosongkan seluruh urine dari kandung kemih. Kondisi ini dapat terjadi secara akut alias tiba-tiba, maupun berkembang secara perlahan dan berjalan dalam jangka panjang.
Pada retensi urine kronis, seseorang tetap dapat buang air kecil, tetapi sebagian urine tetap tertinggal di dalam kandung kemih. Gejalanya dapat berupa rasa tidak tuntas setelah buang air kecil, sering buang air mini dalam jumlah sedikit, susah memulai aliran urine, serta aliran urine nan lemah alias terputus-putus.
Bisa Berdampak pada Kesehatan Ginjal
Retensi urine nan tidak ditangani berpotensi menimbulkan sejumlah komplikasi serius. NIDDK menjelaskan bahwa urine nan tidak dapat keluar dengan baik dapat meningkatkan akibat infeksi saluran kemih (ISK) lantaran kuman mempunyai kesempatan untuk berkembang biak di dalam cairan nan mengendap.
Selain itu, tekanan akibat penumpukan urine dapat menyebabkan urine mengalir kembali ke arah ginjal (refluks). Kondisi ini dapat memicu pembengkakan ginjal dan tekanannya berpotensi merusak jaringan ginjal. Dalam jangka panjang, kerusakan ini meningkatkan akibat penyakit ginjal kronis hingga kandas ginjal.
Kondisi kandung kemih nan terus-menerus terlalu penuh juga dapat menyebabkan otot kandung kemih meregang secara berlebihan dan mengalami gangguan fungsi. Akibatnya, kandung kemih menjadi semakin susah berkontraksi secara efektif untuk mengeluarkan urine di masa mendatang.
Apa Saja Penyebabnya?
Penyebab rasa kencing tidak tuntas sangat bervariasi pada setiap individu. NIDDK menyebut beberapa kondisi medis nan dapat menghalang aliran urine, di antaranya:
- Pembesaran prostat pada laki-laki (BPH).
- Penyempitan uretra (striktur).
- Batu saluran kemih.
- Konstipasi kronis.
- Infeksi saluran kemih.
- Masalah pada otot dasar panggul.
Selain halangan fisik, gangguan pada saraf nan mengatur kerja kandung kemih juga menjadi aspek penyebab. Kerusakan saraf ini membikin otot kandung kemih tidak berkontraksi dengan cukup kuat untuk mendorong seluruh urine keluar.
Langkah Pemeriksaan dan Penanganan
Pemeriksaan medis secara menyeluruh diperlukan untuk menentukan penyebab pasti. Salah satu metode nan umum digunakan adalah pengukuran postvoid residual, ialah prosedur untuk menghitung jumlah urine nan tersisa di kandung kemih segera setelah pasien buang air kecil.
Pemeriksaan penunjang lainnya dapat mencakup tes laboratorium, pencitraan (USG), pemeriksaan urodinamik, hingga sistoskopi, tergantung pada penilaian master terhadap kondisi pasien.
Seseorang nan tiba-tiba tidak dapat buang air mini sama sekali, disertai nyeri dahsyat dan pembengkakan di perut bagian bawah, kudu segera mencari pertolongan medis. Retensi urine akut adalah kondisi darurat nan memerlukan penanganan sigap untuk mencegah kerusakan permanen pada kandung kemih dan ginjal.
Keluhan kencing nan terasa tidak tuntas dan terjadi berulang sebaiknya tidak diabaikan. Deteksi awal melalui pemeriksaan ke tenaga kesehatan dapat membantu menemukan penyebabnya dan menentukan penanganan nan tepat sebelum muncul komplikasi nan lebih berat. (NIDDK/H-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·