ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev mengungkapkan Iran mempunyai senjata nan kekuatannya setara dengan "senjata nuklir", ialah Selat Hormuz. Menurutnya jalur perdagangan sempit ini krusial untuk menjadi daya tawar dalam negosiasi.
Menurutnya keahlian Iran membatasi lampau lintas di jalur perairan itu menunjukan jangkauan strategis Teheran, seperti nan dilaporkan Anadolu. Pengaruh Iran atas Selat Hormuz memberinya daya tawar sebanding dengan senjata nuklir.
Medvedev mengatakan Teheran juga dapat mengganggu pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb jika bentrok regional meluas. Dia memperingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi menghentikan pengiriman minyak dan perdagangan melalui jalur laut.
"Saya berambisi perihal itu tidak terjadi, tetapi semua negara nan mau memicu bentrok di area kudu mengingat perihal ini," kata Medvedev, sebagaimana dikutip Middle East Monitor, Minggu (5/7/2026).
Medvedev juga mengkritik serangan AS terhadap Iran baru-baru ini. Menurutnya serangan itu "tidak beralasan" dan beranggapan bahwa Iran tidak menimbulkan ancaman terhadap Amerika Serikat ketika perundingan antara kedua negara tetap berlangsung.
Ia menyebut serangan tersebut melemahkan norma internasional dan menyatakan bahwa Rusia sebelumnya telah mengusulkan solusi tenteram untuk mengatasi kekhawatiran mengenai program nuklir Iran.
Mengenai nota kesepahaman antara AS dan Iran, Medvedev mengatakan negosiasi tetap lebih baik daripada konflik. Namun, dia memperingatkan bahwa mencapai kesepakatan final bakal menjadi sangat sulit, terutama mengenai pencabutan hukuman dan pendanaan bagi rekonstruksi Iran.
Dalam kesempatan itu Medvedev juga bicara mengenai pendapat pembentukan platform kerjasama dengan Rusia untuk menghimpun negara-negara nan dikenai sanksi, seperti pembatasan. Menurutnya usulan itu pertama kali diajukan Teheran beberapa waktu lalu, dan dapat diwujudkan dalam corak perjanjian ataupun organisasi.
Diketahui, Medvedev berjumpa dengan Pezeshkian di Teheran pada Jumat (3/7/2026), di sela-sela upacara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Ia mengunjungi Iran sebagai utusan unik Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk menyampaikan belasungkawa dari Moskow.
(luc/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·