Ilmuwan ungkap skenario ekstrem megaengineering agar Bumi tetap layak huni hingga 9,1 kuadriliun tahun.(Dok. Magnific)
MATAHARI diperkirakan bakal kehabisan bahan bakar dalam satu miliar tahun ke depan, sebuah fase nan menakut-nakuti keberlangsungan seluruh kehidupan di Bumi. Namun, penelitian terbaru berjudul Retaining Earth's Habitability Beyond the Life of the Sun karya Gabriel Harry mengungkapkan skenario ekstrem megaengineering nan secara teoritis memungkinkan Bumi tetap layak huni meski Matahari telah mati.
Penelitian nan diterbitkan dalam Journal of the British Interplanetary Society dan diperbarui pada 9 Agustus 2026 ini, memaparkan solusi menghadapi fase raksasa merah Matahari. Sebelum betul-betul padam, Matahari bakal mengembang dan memanaskan suhu Bumi secara ekstrem, nan berisiko melenyapkan atmosfer serta lautan.
Untuk menangkal panas tersebut, Harry mengusulkan pembangunan sunshade alias perisai raksasa di antara Bumi dan Matahari. Material pembangunan struktur ini direncanakan berasal dari objek luar angkasa, seperti penambangan 40 persen asteroid Ceres untuk kabel karbon sepanjang 2 juta kilometer dan pemanfaatan 0,01 persen material Bulan untuk perisai aluminium beradius 350.000 kilometer.
Karena perisai tersebut bakal menghalangi sinar alami, penelitian ini menawarkan Jupiter sebagai sumber "Matahari buatan". Dengan memanfaatkan persediaan hidrogen dan helium di atmosfer Jupiter, reaktor fusi dapat menghasilkan daya nan dikirim ke Bumi melalui sistem relay laser raksasa. Sistem ini diklaim bisa menyediakan daya bagi Bumi hingga 9,1 kuadriliun tahun.
Selain masalah energi, ancaman bentuk berupa ekspansi volume Matahari nan dapat menelan Bumi juga diantisipasi. Harry mengusulkan penggunaan pengaruh gravitational slingshot secara berjenjang untuk memindahkan orbit Bumi menjauh dari Matahari ke area nan lebih aman.
Meski seluruh pendapat ini didukung oleh kalkulasi teoritis, para peneliti menekankan bahwa implementasinya tetap berada di ranah fiksi ilmiah untuk saat ini. Teknologi megaengineering nan dibutuhkan tetap jauh melampaui keahlian teknis manusia di abad ke-21. (Daily Galaxy/Arxiv/Z-10)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·