Ilustrasi(Dok Istimewa)
PENGEMBANGAN wisata religi Katolik di Pulau Flores terus menunjukkan kemajuan positif. Sejak mulai digencarkan pada 2024, pengembangan wisata minat unik ini tidak lagi hanya berfokus pada penyelenggaraan beragam aktivitas religi dan budaya, tetapi mulai diarahkan pada pengembangan produk wisata nan lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan bisa memberikan pengalaman spiritual lebih mendalam bagi para peziarah dan wisatawan.
Melihat potensi tersebut, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) sekarang sedang menginisiasi pengembangan Camino Flores, sebuah jalur kunjungan (pilgrimage trail) nan mengangkat semangat dan konsep Camino de Santiago de Compostela di Spanyol.
Inisiatif ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam pengembangan wisata religi Katolik di Pulau Flores dengan menghadirkan pengalaman kunjungan nan memadukan nilai-nilai spiritual, kekayaan budaya, dan keelokan alam. Kehadiran Camino Flores diharapkan tidak hanya memperkaya pilihan produk wisata minat khusus, tetapi juga memperkuat posisi Flores sebagai lokasi wisata spiritual nan berkepanjangan dan berkekuatan saing.
Konsep pengembangan Camino Flores dinilai sangat relevan untuk dikembangkan di Pulau Flores. Berdasarkan info Disdukcapil Kemendagri 2025, sekitar 2 juta umat Katolik tinggal di Pulau Flores alias sekitar 22,6% dari total umat Katolik di Indonesia. Jumlah itu menjadi modal besar bagi Flores untuk berkembang sebagai lokasi wisata kunjungan nasional.
Potensi tersebut semakin diperkuat sejarah panjang penyebaran kepercayaan Katolik di Pulau Flores nan meninggalkan warisan spiritual dan budaya nan kaya. Berbagai gereja bersejarah, gua Maria, biara, seminari, tradisi liturgi nan tetap lestari, hingga bentang alam nan memukau menghadirkan pengalaman kunjungan autentik bagi para peziarah.
Sejak 2024, BPOLBF memperkuat fondasi pengembangan wisata religi melalui penyusunan Travel Pattern Wisata Religi Katolik Pulau Flores, penguatan narasi destinasi, promosi digital, forum bisnis, serta kerjasama dengan keuskupan, pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, dan komunitas.
Berbeda dengan wisata religi nan umumnya berfokus pada satu lokasi, Camino Flores dirancang sebagai perjalanan spiritual lintas wilayah nan menghubungkan beragam situs religi dan sejarah misionaris. Selain beribadah, peziarah diajak berinteraksi dengan masyarakat, menikmati budaya, kuliner, produk UMKM, dan atraksi alam di sepanjang rute.
Plt Direktur Utama BPOLBF Andhy M T Marpaung mengatakan Camino Flores tak sekadar menghadirkan jalur peziarahan, tetapi membangun ekosistem pariwisata berbasis spiritualitas, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
"Pulau Flores mempunyai modal sangat kuat untuk menghadirkan Camino Flores sebagai ikon wisata religi Katolik Indonesia. Kita mempunyai situs-situs religi, tradisi ketaatan nan hidup, budaya lokal autentik, dan bentang alam nan menawarkan pengalaman perjalanan reflektif," ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Menurut Andhy, penyelenggaraan Camino Flores berkesempatan dimulai tahun ini. Jalur tersebut dirancang dalam tiga etape, ialah Etape Barat (Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur), Etape Tengah (Bajawa, Nagekeo, dan Ende), serta Etape Timur (Maumere dan Flores Timur). Masing-masing etape mempunyai panjang sekitar 70 kilometer dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan para peziarah.
Pengembangan Camino Flores sejalan dengan arah pembangunan pariwisata nasional nan menekankan kualitas pengalaman wisatawan, keberlanjutan destinasi, serta pemerataan faedah ekonomi.
"BPOLBF berambisi Camino Flores dapat menjadi ikon baru wisata religi Indonesia sekaligus memperkuat posisi Pulau Flores sebagai destinasi pariwisata nan berkualitas, inklusif, dan berkekuatan saing global," tutup Andhy. (H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·