Catatan Purbaya Soal APBN Semester I: Pajak Tumbuh, Defisit Tetap Aman

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keahlian APBN Semester I 2026 tetap sehat dan terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Hingga akhir Juni 2026, pendapatan negara mencatat pertumbuhan nan kuat, didukung meningkatnya penerimaan pajak, kepabeanan dan cukai, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

"Secara keseluruhan, capaian semester I menunjukkan bahwa momentum penerimaan negara berada pada jalur nan positif," ujar Purbaya dalam rapat Laporan Semester (Lapsem) I-2026 di Badan Anggaran (Banggar) DPR, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Adapun, shopping negara hingga semester I-2026 mencapai Rp1.656,0 triliun alias 43,1% dari pagu APBN. Penerimaan pajak pada Semester I-2026 bisa mencapai Rp 1.035,7 triliun alias naik 24,6% dibanding periode nan sama tahun lampau Rp 831,3 triliun, meski baru sebesar 43,9% dari sasaran APBN 2026.

Purbaya mengatakan, moncernya setoran pajak ini terjadi untuk seluruh jenis pajak, mulai dari pajak penghasilan (PPh) hingga Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

"Pertumbuhan ini mencerminkan kombinasi kondisi ekonomi domestik nan tetap terjaga, semakin efektifnya penerapan Coretax, dan penguatan langkah intensifikasi dan ekstensifikasi perpajakan," kata Purbaya.

Hingga akhir tahun, shopping negara diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun alias 102,6% dari pagu. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan shopping pemerintah hingga akhir tahun berpotensi melampaui pagu awal.

Dari sisi belanja, Purbaya menjelaskan bahwa hingga Semester I 2026, shopping pemerintah pusat terealisasi sebesar Rp1.298,6 triliun alias meningkat 29,4% dibandingkan periode nan sama tahun lalu.

Belanja negara tersebut difokuskan untuk mendukung beragam program prioritas nasional, seperti penyelenggaraan MBG, penyaluran support sosial seperti support Iuran Jaminan Kesehatan untuk masyarakat tidak mampu, penyaluran Kartu Sembako, Program Keluarga Harapan, penyaluran Kartu Indonesia Pintar Kuliah, serta pembayaran penghasilan aparatur termasuk THR dan penghasilan ke 13.

"Peningkatan realisasi shopping pemerintah pusat pada tahun 2026 ini menjadi katalisator untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di semester pertama tahun 2026," ungkapnya.

Sementara itu, transfer ke wilayah alias TKD telah mencapai Rp357,4 triliun alias 51,6% dari pagu APBN, menjadi realisasi tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Dengan demikian, Purbaya menuturkan pada semester I-2026 mengalami defisit sebesar Rp 196,5 triliun alias secara persentase sebesar 0,76%.

"Defisit APBN dijaga di pemisah aman. Kalau kita pakai langkah sama 6 bulan 0,7% berfaedah jika setahun (defisit) 1,52%. Mereka bakal tetap bilang anggaran parah. Ini nomor terjadi betulan," katanya.

Untuk keseluruhan tahun, Purbaya memperkirakan defisit APBN 2026 bakal mencapai 2,85% PDB alias senilai Rp 734,3 triliun. "Outlook defist Rp 734,3 triliun, persentase 2,85% PDB. Saya percaya bisa tekan defisit ini ke bawah," ungkap Purbaya.

Outlook defisit APBN ini mempertimbangkan pendapatan negara nan diramal bakal terkumpul Rp 3.208,1 triliun alias setara 101,7% dari sasaran APBN 2026. Lalu, Belanja negara Rp 3.942,4 triliun alias setara 102,6% dari target.

"Peran APBN sebagai shock absorber pada saat nilai minyak tinggi. Kita tidak naikkan BBM subsidi, untuk pemerintah itu bagus jaga stabilitas," paparnya.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya