ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas China mengungkap kebenaran baru mengenai kejadian pesawat ringan nan menabrak gedung pencakar langit tertinggi di Beijing pada Juni lalu. Pemerintah menduga sang pilot sengaja mengarahkan pesawat ke gedung tersebut untuk mengakhiri hidupnya.
Insiden nan terjadi sekitar pukul 17.55 waktu setempat itu menewaskan pilot di letak kejadian dan melukai 13 orang nan berada di dalam gedung. Peristiwa ini juga memicu pertanyaan besar mengenai gimana sebuah pesawat ringan dapat memasuki wilayah udara pusat ibu kota China nan selama ini dikenal mempunyai sistem pengawasan sangat ketat.
Pihak berkuasa menyatakan pesawat olahraga ringan bermesin tunggal berkapasitas dua bangku itu menyimpang dari jalur penerbangan nan telah disetujui sebelum menabrak sebuah gedung tinggi di Distrik Chaoyang, dekat Jalan Lingkar Ketiga Timur.
"Pilot menyimpang dari area penerbangan nan telah disetujui, kehilangan kontak dengan airport tempat lepas landas, lampau menabrak gedung dan meninggal di lokasi," demikian pernyataan Pemerintah Distrik Chaoyang, dikutip Reuters, Rabu (8/7/2026).
Meski pemerintah tidak menyebut nama gedung nan ditabrak, Reuters mengidentifikasi letak tersebut sebagai Menara CITIC alias China Zun, gedung setinggi 528 meter dengan 108 lantai nan merupakan gedung tertinggi di Beijing.
Foto-foto dari letak memperlihatkan dua panel kaca besar di bagian atas kebinasaan gedung pecah akibat benturan. Investigasi resmi mengenai kejadian tersebut tetap berlangsung.
Diduga Sengaja Bunuh Diri
Data pencarian penerbangan Flightradar24 menunjukkan pesawat bernomor registrasi B-12PP lepas landas dari Bandara Shifosi, Beijing, sebelum terbang menuju pusat kota. Sinyal terakhir pesawat tercatat sekitar 6 kilometer dari Menara CITIC dengan kecepatan sekitar 191 kilometer per jam.
Dengan kecepatan tersebut, pesawat diperkirakan tetap bisa mencapai gedung dalam waktu sekitar dua menit setelah titik pencarian terakhir. Namun Reuters tidak dapat memverifikasi jalur penerbangan setelah sinyal pesawat hilang.
Hampir sepekan setelah kecelakaan, pemerintah China mengungkap identitas pilot, ialah laki-laki bermarga Liu berumur 66 tahun nan merupakan penduduk Beijing. Menurut otoritas, Liu telah lama mengalami insomnia dan gangguan kecemasan.
Dari hasil penyelidikan, kitab harian miliknya berulang kali memuat kemauan untuk mengakhiri hidup. "Buku hariannya berulang kali menyebut kemauan untuk mengakhiri hidupnya. Insiden ini disebabkan oleh argumen pribadi," ujar Pemerintah Distrik Chaoyang.
Pesawat nan digunakan merupakan Sunward Aurora SA60L, pesawat olahraga ringan buatan China bermesin tunggal dengan dua kursi. Berdasarkan spesifikasi pabrikan, pesawat tersebut mempunyai kecepatan jelajah sekitar 220 km/jam, jangkauan hingga 1.200 kilometer, serta bisa terbang pada ketinggian maksimum sekitar 4.200 meter.
Reuters juga melaporkan materi promosi nan mereka telaah mengindikasikan pesawat tersebut kemungkinan dioperasikan oleh Dongshi Shuangyue General Aviation nan berbasis di Beijing. Namun, pihak perusahaan belum dapat memastikan apakah pesawat bernomor registrasi B-12PP memang merupakan armadanya.
Keamanan Wilayah Udara Dipertanyakan
Investigasi Reuters juga menemukan potensi kejadian nan lebih serius beberapa menit sebelum tabrakan terjadi. Data Flightradar24 menunjukkan sebuah Airbus A330-300 milik Hainan Airlines nan sedang mendekati Bandara Internasional Ibu Kota Beijing sempat melakukan go-around alias membatalkan pendaratan ketika pesawat ringan tersebut melintasi koridor kehadiran bandara.
Meski kedua pesawat mempunyai selisih ketinggian lebih dari 1.000 kaki, info penerbangan memperlihatkan pesawat komersial itu sempat meningkatkan ketinggian secara tajam. Ini sebelum akhirnya mendarat melalui jalur berbeda.
Insiden tersebut turut memicu sorotan terhadap keamanan penerbangan ketinggian rendah di China nan tengah berkembang pesat. Reuters melaporkan sejumlah operator penerbangan wisata dan perusahaan penerbangan umum menghentikan sementara operasional sembari menunggu pengarahan regulator.
Meski pemerintah menyimpulkan kejadian dipicu oleh argumen pribadi sang pilot, banyak pihak tetap mempertanyakan gimana pesawat tersebut dapat menembus wilayah udara sensitif di pusat Beijing tanpa sukses dicegah terlebih dahulu.
(tfa/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·