Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China tiba-tiba memuji Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim. Hal ini terjadi usai laki-laki 79 tahun itu berkomentar soal "satu China" dalam sebuah wawancara dunia dengan laman Al-Jazeera awal pekan lalu.
Prinsip "satu China" sebenarnya mengenai Taiwan. Ini merujuk hanya ada satu China, di mana Taiwan merupakan bagian dari Republik Rakyat China, nan mewakili China.
Anwar kala itu menyatakan dukungannya terhadap prinsip tersebut. Ia memihak kewenangan China untuk menggunakan kekuatan jika reunifikasi lintas Selat Taiwan secara tenteram gagal.
Dalam laporan terbaru Channel News Asia (CNA), Kamis (20/8/2026), China mengatakan sikap Anwar mencerminkan sentimen masyarakat dan komitmen organisasi internasional terhadap prinsip tersebut nan "tidak boleh digoyahkan". Unggahan unik diberikan Kementerian Luar Negeri China ke Anwar melalui media sosial (medsos) X.
"China memuji pernyataan PM Malaysia Anwar Ibrahim mengenai masalah Taiwan dan sikap teguhnya terhadap prinsip Satu China," tegas kementerian.
"Tidak ada nan bakal menghentikan China untuk berasosiasi kembali," bunyi pernyataan tersebut.
Hal senada juga dikatakan ahli bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian. Menurutnya mempertahankan prinsip "satu China" mencerminkan sentimen masyarakat dan "berpihak pada apa nan benar".
"Hanya ada satu China di bumi dan Taiwan merupakan bagian nan tidak dapat dipisahkan dari wilayah China," kata Lin sebagai tanggapan atas pernyataan Anwar, sebagaimana dimuat Xinhua.
"Reunifikasi China merupakan tren sejarah nan tidak dapat dihentikan," katanya.
China tidak pernah mencabut opsi penggunaan kekuatan untuk membawa Taiwan berada di bawah kendalinya, tetapi Beijing mengatakan lebih mengutamakan "reunifikasi secara damai".
Meskipun negara-negara mempunyai interpretasi berbeda mengenai kebijakan "satu China", Kementerian Luar Negeri Malaysia dalam pernyataan berbareng dengan China pada 2025 menyatakan bahwa Malaysia mengakui pemerintah Republik Rakyat China sebagai "satu-satunya pemerintahan sah China".
Pernyataan tersebut menyebut Taiwan sebagai "wilayah Republik Rakyat China nan tidak dapat dipisahkan". Untuk membantu China mencapai reunifikasi nasional, Malaysia juga menyatakan "tidak bakal mendukung seruan apa pun untuk kemerdekaan Taiwan".
Sebelumnya, dalam wawancara dengan Al Jazeera, Anwar, nan berbincang dengan wartawan Sreenivasan Jain dalam program "A Changing World? The Contest for Global Power", ditanya mengenai pandangannya terhadap keengganan Taiwan menerima pemerintahan China. Pewawancara bertanya apakah kemauan rakyat Taiwan tidak diperhitungkan, mengingat beragam jajak pendapat menunjukkan kebanyakan penduduk Taiwan tidak mau diperintah Beijing.
Anwar menjawab bahwa argumen historis kudu dipertimbangkan. Ia menegaskan bahwa Taiwan memang merupakan bagian dari China.
"Saya memandang Taiwan sebagai bagian dari China, titik," kata Anwar.
"Kita mungkin tidak setuju dengan... Ada beberapa perihal nan berlebihan. Ya, sampaikan pandangan Anda. Namun, kudu dalam konteks tersebut. Ini adalah satu China. Hal itu diterima oleh semua pihak," ujarnya.
Ketika ditanya mengenai posisi China nan mempertahankan kewenangan menggunakan kekuatan jika reunifikasi tenteram gagal, Anwar menggunakan Malaysia sebagai contoh. Ketika ditanya apakah itu berfaedah dirinya bakal menggunakan kekuatan jika terjadi kemungkinan pemisahan diri, Anwar menjawab "iya".
"Saya bakal menggunakan Malaysia sebagai contoh. Jika satu provinsi memutuskan untuk memisahkan diri, apakah kita menggunakan kekuatan? Saya pikir saya bakal melindungi kesucian dan persatuan bangsa," katanya.
"Ya, jika tidak, negara bakal terpecah," ujarnya.
Respons Taiwan
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Taiwan dengan sigap mengecam pernyataan Anwar. Kementerian tersebut menyebut Anwar membikin pernyataan "keliru" dengan "secara absurd menyiratkan bahwa Taiwan adalah provinsi China nan memisahkan diri dan secara terbuka membenarkan posisi China untuk menyatukan Taiwan melalui kekuatan".
"Mengingat hubungan erat antara kedaulatan nasional dan keamanan ekonomi, support (Anwar) Ibrahim terhadap China dapat berakibat negatif terhadap kepercayaan pelaku upaya Taiwan nan berinvestasi di Malaysia," tambah kementerian tersebut, seperti dikutip Taiwan News.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

12 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·