Citi Indonesia Ungkap Faktor Global dan Domestik yang Dapat Menurunkan Tekanan terhadap Nilai Tukar Rupiah

7 jam yang lalu 3
Citi Indonesia Ungkap Faktor Global dan Domestik nan Dapat Menurunkan Tekanan terhadap Nilai Tukar Rupiah Ilustrasi(MI/NAUFAL ZUHDI)

CHIEF Economist Citi Indonesia, Helmi Arman menyampaikan bahwa terdapat beragam aspek dunia dan juga aspek domestik nan dapat mendukung penurunan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Dari aspek dunia nan pertama, Helmi menyebut bahwa tren harga minyak dunia relatif bakal lebih rendah terhadap kuartal sebelumnya, walaupun belum bakal kembali ke level pra-konflik dalam waktu dekat. 

“Perkiraan tim Komoditi Citi adalah bahwa, jika arus perdagangan minyak di selat Hormuz ini sepenuhnya sudah kembali lancar, itu kondisi pasar minyak bumi bakal surplus, dalam makna supply minyak bakal lebih besar dari demand minyak dunia. Surplusnya kami perkirakan lebih besar dibandingkan dengan surplus nan terjadi sebelum konflik. Sekitar 2027, surplus 4 juta barel per hari dengan dugaan selat Hormuz kembali normal, itu satu aspek dunia nan pertama, penurunan tren nilai minyak dunia,” ucap Helmi di Jakarta, Kamis (20/8).

Kemudian aspek dunia nan kedua, Citi memperkirakan bahwa yield alias imbal hasil dari US Treasury, terutama nan tenor-tenor pendek bakal bergerak turun hingga akhir tahun. 

“Jadi kami punya view the fact tidak bakal meningkatkan suku kembang dan malah mungkin menurunkan suku kembang sebelum akhir tahun. Hal ini lantaran dalam perkiraan kami, inflasi inti di Amerika sebenarnya berada dalam tren nan menurun. Dan kami berespektasi dari sekitar sekarang 2,5% itu turun ke arah 2,2 alias 2,3% inflasi inti di Amerika,” sebut Helmi.

Helmi menjelaskan, penurunan inflasi inti di Amerika antara lain disebabkan oleh consumer demand nan relatif lemah meskipun pertumbuhan ekonomi di Amerika secara keseluruhan tetap relatif kuat tapi ditopang kebanyakan oleh investasi AI.

Dirinya menambahkan, aspek dunia lain nan mendukung meredanya tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjelang akhir tahun adalah bahwa Citi memperkirakan dolar bakal melemah terhadap euro. 

“Sehingga indeks dolar nan kita kenal dengan DXY kami perkirakan bakal bergerak turun. Ini disebabkan oleh perbedaan ekspektasi pergerakan suku kembang antara Amerika dan Eropa ECB, kami perkirakan bakal meningkatkan interest rate di bulan September, sementara US tidak meningkatkan interest rate dan turun dalam perkiraan kami,” terang Helmi.

Selain dolar dengan euro, Citi juga memprediksi kondisi dolar terhadap yuan Tiongkok juga diperkirakan dolar melemah.

“Jadi yuan menguat terhadap dolar. Hal ini adalah lantaran surplus neraca transaksi melangkah alias surplus neraca perdagangan Tiongkok relatif kuat, melampaui 3% dari PBD-nya Tiongkok,” ucapnya.

Sementara untuk aspek domestik, Helmi menyampaikan bahwa penurunan nilai minyak bumi nan terjadi bakal mengurangi defisit neraca transaksi melangkah Indonesia di kuartal III dibanding di kuartal III. 

“Memang info merancat transaksi melangkah kuartal II belum ada tapi kami perkirakan cukup besar defisitnya, di atas 2% PDB. Dan kami perkirakan di semester 2 defisit neraca transaksi melangkah Indonesia ini kembali mengecil, sering dengan penurunan nilai minyak ke level sekitar 1,5% dari PDB,” ungkap dia.

Penurunan defisit transaksi melangkah ini kelihatannya sudah kita bisa lihat, jika kita lihat info merancat perdagangan bulan Juni itu sudah mulai lebih mini defisitnya dibanding di bulan Mei. 

Helmi menekankan, nilai tukar rupiah nan telah terdepresiasi sejak akhir tahun dan rupiah nan melemah tersebut menandakan dividen investasi asing nan direpatriasikan ke luar negeri dalam satuan dolar menjadi lebih kecil.

“Jadi ini faktor-faktor nan bakal mengurangi defisit meraca transaksi melangkah Indonesia di kuartal III,” imbuhnya.

Lebih jauh, Helmi memandang bahwa interest alias appetite dari penanammodal asing terhadap SBN alias obligasi negara sudah lebih meningkat di kuartal III ini dibandingkan dengan di kuartal II. 

Adapun faktor-faktor domestik nan mendukung tren ini adalah pertama, defisit APBN untuk 2026 tidak sebesar nan diperkirakan sebelumnya lantaran pemerintah sudah merilis outlook 2026 di mana defisit APBN tetap di bawah 3% dari PDB.
 

“Ini seiring dengan pengurangan dan penundaan belanja-belanja tertentu termasuk shopping MBG dan juga peningkatan di sisi penerimaannya ada percepatan penerimaan pajak. Kemudian rencana defisit APBN 2027 juga tetap di bawah 3% dari PDB. Dan ini dianggap oleh penanammodal obligasi bahwa resiko oversupply dari SBN di pasar obligasi itu jadinya menurun di mana sebelumnya penanammodal obligasi cemas bahwa terjadi oversupply andaikan defisit APBN menembus 3% dari PDB,” tandasnya. (H-2)

Selengkapnya