Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mulai berinvestasi ke industri semikonductor. Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa menjelaskan apalagi Danantara mencatat antusiasme permintaan kerja sama.
"Kita investasi cukup besar, ada satu platform nan cukup bagus, semiconductor 94% platform semiconductor itu menggunakan mitra nan kita pilih. nan 6% adalah open source," ungkap dia dalam MINDialogue 2026 "Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI", Kamis (13/8/2026).
Dia menjelaskan Indonesia mempunyai mineral kritis nan dibutuhkan dunia. Menurut dia tren bumi saat ini memerlukan logam tanah jarang (LTJ) alias rare earth elements sebagai komoditas nan eksklusif dan mahal.
LTJ merupakan golongan 17 unsur kimia nan menjadi bahan baku krusial dan tak tergantikan dalam komponen cip semikonduktor modern, perangkat elektronik, kendaraan listrik, serta teknologi pertahanan.
"Jadi off-taker-nya menurut saya tidak hanya dipakai untuk global, domestik, tapi dunia juga siap, apalagi teman-teman nan berada di pasal 33, pasal 33 mineral ini teman-teman nan ada di ruangan ini, saya kira ini potensi dunia nan luar biasa sekali," ungkap dia.
Sigit menegaskan bahwa pengelolaan LTJE di Indonesia bakal dilakukan secara langsung oleh PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Menurut dia, saat ini pihaknya tengah membangun Perminas sebagai perusahaan nan bakal mengelola LTJ sekaligus mendorong pengembangan industri turunannya, termasuk industri magnet permanen.
"Kami di Danantara juga bangun Perminas nan bakal mengelola dan bakal industri magnet kelak ada motor traksi sampai motor mobil," ujar Sigit.
Di sisi lain, Sigit menjabarkan tantangan utama hilirisasi mineral adalah teknologi. Selama ini mitra nan masuk pun tidak konsentrasi pada transfer teknologi, melainkan hanya mau mengambil apalagi baku.
"Oleh lantaran itu, proses teknologi tetap menjadi tantangan pertama, namun sebenarnya, teknologi ini gap-nya tidak lagi untuk sebagian mineral, namun nan paling jauh gap-nya adalah pada mineral nan berbasis untuk semikonduktor. Juga untuk beberapa mineral khusus, berfaedah mineral memang agak jauh, lantaran memang hanya negara tertinggi nan bisa menangani," rinci Sigit.
Untuk mengatasi perihal tersebut, Danantara mengambil langkah kemitraan strategis dengan perguruan tinggi demi membangun pusat riset dan pengembangan.
Langkah ini juga didukung Presiden Prabowo, nan telah mengumpulkan 2.600 rektor dan dekan untuk ditawarkan 31 sampai 40 industrialisasi dari Danantara. Menurutnya perihal ini dilakukan agar perguruan tinggi mencari kekuatan masing-masing untuk bisa diajak berkolaborasi.
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]

59 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·