Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah

1 hari yang lalu 4
ARTICLE AD BOX

loading...

Harryanto Aryodiguno, Ass. Prof. International Relations, President University. Foto/Dok SindoNews

Harryanto Aryodiguno
Ass. Prof. International Relations, President University

KETIKA movie Dear You: A Love Letter to Chaoshan dituduh sebagai instrumen propaganda Beijing untuk memengaruhi diaspora Tionghoa di Asia Tenggara, perdebatan nan muncul sebenarnya bukan tentang movie itu sendiri. Perdebatan tersebut menyentuh persoalan nan jauh lebih mendasar: gimana identitas diaspora terbentuk, dan apa nan sebenarnya menentukan kesetiaan politik seseorang.

Film berkata Teochew tersebut menceritakan kisah seorang keturunan perantau nan menelusuri jejak keluarganya melalui surat-surat, kenangan, dan kiriman duit nan selama puluhan tahun menghubungkan Asia Tenggara dengan kampung laman di Chaoshan, Guangdong.

Tidak ada pidato politik. Tidak ada semboyan ideologis. Tidak ada seruan untuk mendukung Republik Rakyat Tiongkok. nan ditampilkan justru pengalaman manusia nan sangat universal: kerinduan terhadap keluarga, pengorbanan para migran, dan hubungan emosional antara generasi nan terpisah oleh lautan.

Namun justru lantaran itulah movie ini dianggap rawan oleh sebagian pengamat. Mereka memandang movie tersebut sebagai bagian dari strategi soft power Tiongkok untuk membangun kembali hubungan emosional antara diaspora dan tanah leluhur. Dalam pandangan ini, nostalgia budaya dianggap sebagai pintu masuk bagi pengaruh politik. Semakin kuat seseorang merasa dekat dengan leluhurnya, semakin besar kemungkinan dia bakal mengembangkan loyalitas politik terhadap negara asal leluhurnya.

Masalahnya, dugaan tersebut terlalu menyederhanakan langkah identitas manusia bekerja. Ia mengandaikan bahwa identitas dapat dibentuk secara sepihak oleh budaya. Seolah-olah seseorang nan menonton movie tentang leluhurnya bakal otomatis mengubah orientasi politiknya. Seolah-olah memori sejarah lebih kuat daripada pengalaman hidup sehari-hari sebagai penduduk negara.

Padahal pengalaman diaspora Tionghoa di Asia Tenggara menunjukkan perihal nan sebaliknya. Identitas tidak dibentuk terutama oleh film, bahasa, alias nostalgia leluhur. Identitas dibentuk oleh pengalaman sosial dan politik nan dialami seseorang sepanjang hidupnya.

Indonesia memberikan contoh nan menarik.
Selama puluhan tahun, negara menjalankan kebijakan asimilasi nan ketat terhadap penduduk keturunan Tionghoa. Nama Tionghoa diganti dengan nama Indonesia. Bahasa Mandarin dibatasi. Sekolah-sekolah Tionghoa ditutup. Organisasi budaya dibubarkan. Secara teori, kebijakan tersebut semestinya menghapus identitas Tionghoa dari generasi berikutnya.

Selengkapnya