Jakarta, CNBC Indonesia - Defisit anggaran Amerika Serikat (AS) melonjak ke level bulanan tertinggi dalam lebih dari lima tahun. Lonjakan tersebut terjadi di tengah peningkatan biaya Medicare (program agunan kesehatan AS) dan beban pembayaran kembang utang pemerintah federal nan terus menekan kondisi fiskal AS.
Hal ini terungkap dari laporan Departemen Keuangan AS pada Rabu sore waktu setempat, dimuat CNBC International, Kamis (13/8/2026). Defisit pada Juli 20206 mencapai US$432,3 miliar (Rp 7.700 triliun), naik sekitar 48% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi defisit bulanan terbesar sejak Maret 2021.
Pengeluaran Medicare pada Juli mencapai US$174 miliar, naik dari US$103 miliar pada Juni. Secara kumulatif, pengeluaran Medicare sepanjang tahun telah mencapai US$955 miliar.
Medicare menjadi pos pengeluaran terbesar pada Juli. Ini jauh di atas pengeluaran US$141 miliar untuk Social Security (program jamninan sosial AS) dan US$104 miliar untuk pembayaran kembang bersih atas utang nasional.
Pengembalian biaya tarif juga membebani anggaran, mencapai US$33 miliar, ketika pemerintahan AS terus memberikan pengembalian biaya atas sejumlah tarif nan sebelumnya dinyatakan terlarangan oleh Mahkamah Agung (MA). Selain itu, anggaran pemerintah terdampak sebesar US$99 miliar lantaran hari pertama bulan tersebut jatuh pada hari nonkerja.
Kondisi ini mempercepat pencairan beragam tunjangan, termasuk Supplemental Security Income (program support tunai unik untuk kebutuhan dasar di AS) dan pembayaran Medicare. Pembiayaan utang untuk keseluruhan tahun fiskal sekarang menjadi pos pengeluaran terbesar ketiga setelah Social Security dan Medicare.
Selain lonjakan defisit dalam satu bulan, akumulasi defisit selama 10 bulan pertama tahun fiskal pemerintah AS juga telah mendekati US$1,8 triliun (sekitar Rp Rp32.166 triliun). Ini melampaui periode nan sama pada 2025.
Sementara itu, sepanjang tahun fiskal berjalan, pemerintah AS telah bayar US$1,17 triliun untuk utang nasional senilai US$39,9 triliun (Rp 713 kuadriliun). Sekitar US$32,1 triliun di antaranya merupakan utang nan dipegang publik.
Sebagai perbandingan, biaya pembayaran utang pada periode nan sama tahun sebelumnya mencapai US$1,01 triliun. Sementara itu, pembayaran kembang bersih-yakni total kembang nan dibayarkan Departemen Keuangan dikurangi kembang nan diterimanya-mencapai US$931 miliar.
Sebenarnya, Presiden AS Donald Trump selama bertahun-tahun telah mendesak bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) untuk menurunkan suku kembang referensi sebagai salah satu langkah mengurangi biaya utang pemerintah. Namun, Trump berakhir mengkritik bank sentral tersebut sejak calon pilihannya, Kevin Warsh, mengambil alih posisi Ketua The Fed pada Mei.
Hingga baru-baru ini, pasar memperkirakan The Fed bakal meningkatkan suku kembang untuk mengendalikan inflasi nan telah berada di atas sasaran bank sentral sebesar 2% selama lebih dari lima tahun. Namun, info inflasi terbaru nan relatif jinak dan laporan ketenagakerjaan nan lemah telah mengurangi ekspektasi tersebut.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·