Defisit Transaksi Berjalan Tembus US$12,5 M, Ancaman Besar Buat Rupiah

1 jam yang lalu 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelebaran defisit transaksi melangkah alias current account deficit (CAD) nan tengah dialami Indonesia berisiko makin membebani pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sebagaimana diketahui, transaksi melangkah Indonesia pada kuartal II-2026 mencatatkan defisit sebesar US$ 12,5 miliar alias setara 3,3% PDB. Melebar dibanding catatan pada kuartal I-2026 nan sebesar US$ 3,6 miliar alias 1% PDB.

Kepala Riset Makroekonomi dan Market Permata Bank Faisal Rachman apalagi memperkirakan secara keseluruhan tekanan pada aspek eksternal itu bakal memengaruhi persediaan devisa RI.

"Secara keseluruhan, kami memproyeksikan persediaan devisa bakal menurun ke kisaran US$ 143-147 miliar pada akhir tahun 2026, dari US$ 156,47 miliar pada akhir tahun 2025," kata Faisal dikutip dari analisisnya, Jumat (21/8/2026).

Dengan kondisi itu, Faisal juga mempertahankan proyeksi nilai tukar rupiah hingga akhir tahun bakal berada dalam kisaran Rp 17.800 sampai dengan Rp 18.000 per dolar AS, meski per hari ini rupiah bisa bergerak ke kisaran Rp 17.685 per dolar AS, berasas info Refinitiv.

"Kami juga mempertahankan proyeksi nilai tukar Rupiah pada akhir tahun 2026 berada dalam kisaran Rp17.800-Rp18.000 per dolar AS," tuturnya.

Menurut Faisal, tekanan terhadap defisit transaksi melangkah sampai dengan akhir tahun tetap berpotensi terjadi, utamanya didorong oleh agenda kebijakan pemerintah nan berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini diperkirakan bakal menjaga permintaan domestik dan mendorong pertumbuhan impor nan lebih tinggi.

Pada saat nan sama, melemahnya permintaan global-khususnya dari Tiongkok-serta ketegangan geopolitik nan bersambung di Timur Tengah dan perang jual beli dunia dapat menekan keahlian ekspor. Perkembangan ini juga berpotensi mengganggu rantai pasok dunia dan makin membatasi pertumbuhan ekspor.

"Kami bakal terus memantau dinamika ini dan menilai dampaknya terhadap posisi eksternal Indonesia. Oleh lantaran itu, kami memproyeksikan CAD bakal membengkak menjadi 2,5-3,0% dari PDB pada tahun 2026, dari 0,11% dari PDB pada tahun 2025," tuturnya.

Dari sisi transaksi finansial, dia menganggap arus modal portofolio diperkirakan tetap rentan terhadap ketidakpastian dunia maupun domestik, meskipun terdapat sedikit perbaikan pada sentimen penanammodal menyusul keputusan MSCI untuk mempertahankan pengelompokkan Indonesia sebagai emerging market serta keputusan S&P nan mempertahankan prospek stabil.

Transaksi finansial dan arus modal sebetulnya memang bisa tercatat surplus pada kuartal II-2026 sebesar US$12 miliar, dari kuartal sebelumnya defisit US$4,8 miliar, mengompensasi tekanan pada transaksi perdagangan dan pendapatan primer.

Namun, secara global, Faisal memperingatkan, ketidakpastian seputar perkembangan geopolitik di Timur Tengah terus membayangi arah kebijakan The Fed, mengingat tingginya nilai daya dapat menahan inflasi AS di atas sasaran 2% dalam jangka waktu nan lebih lama. Hal ini dapat memperkuat sentimen risk-off dan membatasi arus modal masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Oleh lantaran itu, arus masuk investasi portofolio diproyeksikan tetap terbatas, sementara nilai tukar Rupiah berpotensi tetap naik turun dan Bank Indonesia diperkirakan bakal terus memanfaatkan persediaan devisa untuk menjaga stabilitas mata duit dalam jangka pendek hingga menengah," tuturnya.

Kendati demikian, Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan, meskipun defisit transaksi melangkah melebar, sebetulnya akibat tekanan terhadap kurs tidak bakal langsung terjadi, lantaran sisi positif dari neraca finansial dan modal nan surplus.

"Cerminan dari kepercayaan penanammodal asing nan tetap positif," tuturnya.

Tapi, dia memperingatkan, akibat tekanan besar terhadap kurs memang tetap ada, terutama jika tensi bentrok seperti di Timur Tengah dan beragam bagian bumi lainnya meningkat, beriringan dengan rotasi penanammodal dari aset-aset teknologi nan relatif sudah overvalued.

Makanya, dalam jangka menengah panjang, dia memperkirakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap berpotensi bergerak di kisaran Rp 17.600 sampai dengan Rp 18.100 per dolar AS.

"Dalam jangka menengah sampai akhir tahun Rp 17.600-Rp 18.100 per dolar AS," tutur David.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya