Demand Listrik Naik, Tegaskan Peran LNG untuk Ketahanan Kelistrikan

59 menit yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian geopolitik bumi menegaskan pentingnya ketahanan daya (energy security) selain energy sustainability dan affordability. LNG nan berasal dari dalam negeri dan daya fosil paling bersih bakal berkedudukan krusial untuk mendukung ketahanan daya dan daya transisi terutama untuk kelistrikan nasional.

Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN (Persero) sekaligus Pelaksana Harian Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Rakhmad Dewanto, mengatakan pertumbuhan kebutuhan gas didorong oleh meningkatnya konsumsi listrik akibat ekspansi sektor industri, elektrifikasi transportasi, berkembangnya area ekonomi baru. Peningkatan kebutuhan juga disebabkan dengan meningkatnya kebutuhan pusat info (data center) nan dalam lima tahun mendatang diperkirakan memerlukan tambahan listrik sekitar 15 gigawatt.

"Permintaan listrik Indonesia bakal terus meningkat. Karena itu kita memerlukan pasokan daya nan aman, andal, dan fleksibel. Dalam konteks tersebut, gas tidak hanya berkedudukan sebagai daya transisi, tetapi juga menjadi bagian krusial dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional," ujar Rakhmad, dikutip Minggu (2/8/2026).

Menurut Rakhmad, kebutuhan daya primer nasional diproyeksikan meningkat sekitar 2% per tahun, sedangkan permintaan listrik tumbuh lebih tinggi, ialah 4,6-5,4% per tahun. Kondisi tersebut menuntut kesiapan pasokan gas dan LNG nan semakin andal untuk menjaga elastisitas sistem tenaga listrik di tengah sekaligus mendukung peningkatan pemanfaatan daya baru terbarukan.

Dalam RUPTL 2025-2034, produksi listrik nasional diproyeksikan meningkat dari 304,4 TWh menjadi 584,3 TWh. Pada saat nan sama, porsi pembangkit berbasis batu bara menurun menjadi sekitar 47%, sementara kontribusi daya baru terbarukan meningkat hingga 33 persen. Dalam kondisi tersebut, LNG tetap menjadi daya penyeimbang (balancing fuel) nan bisa menjaga keandalan sistem ketika pembangkit berbasis surya maupun angin mengalami fluktuasi.

PT PLN (Persero) memproyeksikan kebutuhan gas untuk pembangkit listrik nasional bakal tumbuh rata-rata sekitar 4,5% per tahun, dari 1.748 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD) pada 2026 menjadi nyaris 2.490 BBTUD pada 2034. Seiring pertumbuhan tersebut, porsi Liquefied Natural Gas (LNG) dalam pasokan gas PLN diperkirakan meningkat dari 57% menjadi 67%, mempertegas peran LNG sebagai tulang punggung keandalan sistem kelistrikan sekaligus penopang transisi daya nasional.

Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan tersebut, PLN EPI memperkuat pengamanan pasokan melalui perjanjian gas dan LNG jangka panjang berbareng West Natuna Exploration Limited (WNEL), Mubadala Energy, INPEX, dan South Hub. Kerja sama tersebut mencakup pasokan gas hingga 300 BBTUD dan perjanjian LNG lebih dari 49 juta ton, sehingga memberikan kepastian pasokan daya primer bagi sistem kelistrikan nasional dalam jangka panjang.

Selain mengamankan pasokan, PLN juga mempercepat pembangunan prasarana LNG nasional melalui pengembangan FSRU di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Cilegon, pembangunan klaster gasifikasi di Indonesia Timur, serta peningkatan kapabilitas penyimpanan LNG nasional menjadi sekitar 1,2 juta meter kubik dengan kapabilitas regasifikasi mencapai 3.850 MMSCFD. Infrastruktur tersebut dirancang untuk meningkatkan elastisitas pengedaran LNG sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok daya di tengah dinamika geopolitik global.

"Kita tetap mendorong peningkatan daya baru dan terbarukan. Namun sistem kelistrikan juga kudu tetap andal. Di sinilah gas mempunyai peran strategis untuk menjaga keseimbangan antara keamanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan," kata Rakhmad.

Melalui penguatan perjanjian pasokan jangka panjang, percepatan pembangunan prasarana LNG, dan diversifikasi rantai pasok daya primer, PLN terus membangun sistem daya nan semakin tangguh, fleksibel, dan berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi fondasi krusial dalam menjaga ketahanan daya nasional, mempercepat integrasi daya baru terbarukan, serta mendukung penerapan prinsip ESG dan pencapaian sasaran Net Zero Emissions Indonesia.

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya