Destry Damayanti Dinilai Sosok Tepat unutk Pimpin BI

57 menit yang lalu 4
Destry Damayanti Dinilai Sosok Tepat unutk Pimpin BI Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (kanan) mengucapkan sumpah kedudukan saat pelantikannya di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (7/8/2024).(Antara)

KEPALA Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai  keputusan Presiden Prabowo mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia merupakan pilihan nan tepat untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter sekaligus mempersiapkan Bank Indonesia menghadapi perubahan ekonomi dunia nan berjalan semakin cepat.

Menurut Fakhrul, Destry merupakan salah satu teknokrat moneter paling komplit nan pernah dimiliki Indonesia. Pengalamannya nan membentang dari bumi akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga lebih dari tujuh tahun berada di jejeran Dewan Gubernur Bank Indonesia menjadikannya mempunyai perspektif nan utuh mengenai gimana kebijakan moneter bekerja, gimana pasar merespons kebijakan, dan gimana stabilitas sistem finansial kudu dijaga. Kombinasi pengalaman seperti tersebut dianggap krusial ketika tantangan bank sentral semakin kompleks.

"Menurut saya, Ibu Destry Damayanti adalah salah satu teknokrat moneter paling komplit nan pernah dimiliki Indonesia," ujar Fakhrul dalam keterangannya, Senin (10/8). 

Fakhrul menilai tantangan Gubernur Bank Indonesia berikutnya tidak lagi sama seperti ketika kerangka inflation targeting pertama kali dibangun lebih dari dua dasawarsa lalu.
Menurutnya, bank sentral sekarang memasuki era baru ketika perubahan teknologi, kepintaran buatan (Artificial Intelligence), digitalisasi, fragmentasi perdagangan global, perubahan rantai pasok, transisi energi, perubahan demografi hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik mulai mengubah langkah perekonomian bekerja.

Ia mengatakan bumi nan bakal dihadapi Gubernur BI berikutnya bukan lagi bumi ketika inflasi dan suku kembang menjadi satu-satunya variabel utama nan menentukan arah ekonomi. 

"Kita sedang memasuki periode ketika AI mengubah produktivitas, digitalisasi mengubah sistem pembayaran, deglobalisasi mengubah rantai pasok, dan geopolitik mengubah arah arus modal global," ucapnya.

Menurut Fakhrul, perubahan tersebut membikin tantangan bank sentral semakin luas. Perubahan nan sedang terjadi bukan sekadar perubahan siklus ekonomi, tetapi perubahan struktur ekonomi dunia. Karena itu, bank sentral kudu bisa membaca perubahan jangka panjang, bukan hanya mengelola perubahan jangka pendek.

Fakhrul berpendapat, Destry tidak tepat dilihat melalui dikotomi klasik antara hawkish maupun dovish sebagaimana sering digunakan dalam menilai bank sentral.

Menurutnya, selama beberapa tahun terakhir keputusan Dewan Gubernur BI lebih mencerminkan pendekatan nan pragmatis dan berorientasi pada stabilitas, ialah mengambil langkah tegas ketika kredibilitas kebijakan dan stabilitas rupiah memerlukan respons, namun tetap memperhatikan gimana kebijakan tersebut ditransmisikan kepada perekonomian domestik.

"Saya tidak memandang Ibu Destry sebagai seorang hawk ataupun dove. Saya memandang beliau sebagai seorang central banker nan adaptif dan berorientasi pada stabilitas dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan," ucapnya.

Fakhrul mengatakan ketika kondisi memerlukan kebijakan nan tegas untuk menjaga kredibilitas dan stabilitas pasar, beliau mendukung langkah tersebut. Namun ketika stabilitas mulai terbentuk, konsentrasi berikutnya tentu memastikan likuiditas dan transmisi kebijakan dapat kembali mendukung sektor riil untuk pertumbuhan ekonomi.

Menurut Fakhrul, pendekatan tersebut bakal semakin krusial ketika Bank Indonesia memasuki fase normalisasi setelah periode stabilisasi nan cukup panjang.

Menurut Fakhrul, pekerjaan terbesar Gubernur BI berikutnya bukan hanya mengambil keputusan nan tepat, tetapi juga membangun komunikasi nan bisa menjelaskan perubahan bumi kepada pasar dan masyarakat.

Dalam bumi nan penuh ketidakpastian, kepastian komunikasi mempunyai nilai ekonomi nan sangat besar. Pasar disebut tidak hanya memerlukan keputusan nan tepat, tetapi juga memerlukan pemahaman mengenai kenapa keputusan tersebut diambil.

"Dan gimana beragam instrumen digunakan secara bersama-sama, dan ke mana arah kebijakan berikutnya," pungkasnya. (E-4)

Selengkapnya