Di Bawah Tenda Darurat, Dua Bayi Lahir saat Gempa Mengguncang NTT

12 jam yang lalu 4
Di Bawah Tenda Darurat, Dua Bayi Lahir saat Gempa Mengguncang NTT Dokter ahli kandungan, dr. Yona Sara Pardede(MI/Marianus Marselus)

NUSA Tenggara Timur tetap berhadapan dengan gempa susulan ketika pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Daerah Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) kudu dipindahkan ke tenda darurat.

Gedung rumah sakit tidak lagi memadai. Sejumlah peralatan rusak dan aliran listrik padam. Di tengah kondisi itu, para dokter, bidan, dan perawat tetap memperkuat untuk melayani pasien nan memerlukan pertolongan.

Di bawah tenda darurat, dua persalinan berlangsung. Tidak ada ruang operasi dengan akomodasi lengkap. Tidak ada penerangan seperti dalam kondisi normal. nan tersedia hanya peralatan nan tetap bisa digunakan dan tenaga medis nan bekerja dengan segala keterbatasan.

Dokter ahli kandungan, dr. Paramita Sari, mengatakan kondisi saat itu membikin proses persalinan kudu dilakukan di tenda darurat.

“Semuanya pasrah kita dengan keterbatasan. Ada guncangan gempa, kemudian peralatan semuanya rusak, gedungnya tidak memadai, kemudian listrik kita padam. Jadi memang proses persalinannya itu dilakukan di tenda darurat,” ujar dr. Paramita.

Salah satu persalinan nan berjalan dalam situasi paling menegangkan dialami Maria Florida Noko Kelen. Perempuan berumur 39 tahun itu kudu menjalani operasi caesar darurat, sekitar dua bulan lebih awal dari hari perkiraan lahir.

Di saat nan sama, gempa susulan tetap terjadi.

Dokter ahli kandungan, dr. Yona Sara Pardede, menangani operasi tersebut. Kondisi bayi nan berada dalam posisi sungsang membikin proses persalinan semakin memerlukan kehati-hatian.

Bayi nan hendak dilahirkan mempunyai berat sekitar 1,3 hingga 1,4 kilogram. Di tengah operasi, tremor gempa tetap terasa.

“Di tengah-tengah operasi itu gempa tetap banyak tremor. Bed-nya juga tidak mudah dinaik-turunkan. Bayinya sekitar 1.300 sampai 1.400 gram dan posisinya sungsang,” kata dr. Yona.

Dalam kondisi tersebut, setiap tindakan kudu dilakukan secara hati-hati. Posisi sungsang membikin proses kelahiran memerlukan teknik unik untuk menghindari cedera pada bayi.

“Kalau lahir sungsang kita kudu pelan-pelan. Sementara gempa bisa terjadi kapan saja. Kita takut kakinya patah, tangannya patah. Kita juga takut terjadi cedera leher,” ujarnya.

Di tengah situasi itu, dr. Yona hanya bisa bermohon sembari melanjutkan tindakan medis.

“Tuhan, tolong. Tuhan, bantu saya,” ucapnya mengenang situasi ketika operasi berlangsung.

Operasi akhirnya selesai. Bayi prematur itu lahir dengan selamat dengan berat sekitar 1,3 kilogram.

Kelahiran tersebut menjadi bagian dari pengalaman nan tidak terlupakan bagi family maupun tenaga kesehatan nan menanganinya. Bayi itu kemudian diberi nama Gempita, diambil dari kata “gempa”, nan menjadi latar kelahirannya.

Bagi Maria Florida, keselamatan anaknya tidak terlepas dari tenaga kesehatan nan tetap berada di rumah sakit ketika situasi musibah membikin semua orang menghadapi risiko.

“Gedung sudah ambruk. Saat itu sebenarnya berpikir untuk menyelamatkan diri masing-masing. Tapi dokter, bidan, dan perawat tetap tetap setia dengan kami nan membutuhkan,” tutur Maria.

Persalinan lainnya juga berjalan di bawah tenda darurat. Dengan akomodasi terbatas, tenaga kesehatan tetap memberikan pertolongan hingga bayi lahir dengan selamat.

Maria mengaku berterima kasih lantaran para perawat dan master tidak meninggalkannya dalam kondisi darurat.

“Puji Tuhan, teman-teman perawat dan master tidak meninggalkan saya begitu saja. Mereka sangat menolong saya dalam keadaan darurat, di bawah tenda,” katanya.

Di Rumah Sakit Daerah Aeramo, tenda darurat menjadi ruang pelayanan sekaligus tempat berlangsungnya dua kelahiran ketika gempa dan gempa susulan tetap membayangi.

Di tengah kerusakan fasilitas, padamnya listrik, dan keterbatasan peralatan, para tenaga kesehatan tetap menjalankan tugasnya.

Dua bayi lahir dengan selamat. Salah satunya datang lebih awal dari perkiraan dan lahir melalui operasi caesar dalam kondisi gempa nan tetap mengguncang.

Di bawah tenda darurat itu, kehidupan baru dimulai ketika tenaga kesehatan berpacu dengan waktu untuk memastikan dua ibu dan bayinya melewati situasi musibah dengan selamat.(MM/E-4)

Selengkapnya