Di Luar Nalar, Segini Keuntungan Belanda Selama Jajah Indonesia

59 menit yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pemerintah dan masyarakat Belanda menyikapi lepasnya Indonesia, nan sebelumnya merupakan wilayah jajahan Belanda dengan nama Hindia Belanda, dengan penuh kekhawatiran.

Kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari kepentingan ekonomi. Selama bertahun-tahun, kekuatan ekonomi Belanda tidak hanya ditopang oleh aktivitas ekonomi di dalam negeri, tetapi juga sangat berjuntai pada wilayah jajahannya.

Sehingga, kehilangan tanah Indonesia adalah musibah bagi Belanda. Apabila Indonesia lepas, mereka bisa membayangkan sungguh hancur kehidupan nanti. Besarnya ketergantungan terhadap Indonesia, membikin banyak orang bertanya-tanya:

Seberapa besar untung Belanda selama menjajah Indonesia?

Jejak kolonialisme Belanda di Indonesia diawali sejak pendirian Kongsi Dagang Hindia Timur alias VOC pada 1602.

Sejarah mencatat VOC kelak tak hanya beraksi sebagai perusahaan dagang, tapi juga layaknya pemerintahan. Sebab, VOC bisa memulai perang, membikin perjanjian dengan kerajaan lokal, hingga mencetak mata duit sendiri.

Besarnya kekuasaan nan lantas berakibat pada kekuatan ekonomi membikin VOC jadi perusahaan dengan valuasi terbesar di masanya. Situs Visual Capitalist mencatat, nilai VOC mencapai 78 juta gulden pada 1637. Nominal tersebut setara dengan US$7,9 triliun alias sekitar Rp140.000 triliun.

Disebut pula, valuasi VOC melampaui campuran perusahaan terbesar bumi sekarang, Apple, Microsoft, Google, dan sebagainya. Pada sisi lain, sejarawan Lodewijk Petram dalam The World's First Stock Exchange (2014), mencatat valuasi VOC "hanya" US$1 triliun pada masa sekarang alias sekitar Rp17.800 triliun.

Yang jelas, setelah VOC bercempera pada 1799, nomor untung makin bertambah. Sebab, pemerintah Hindia Belanda makin kuat mengendalikan ekonomi. Salah satu buktinya saat memberlakukan tanam paksa. Melalui kebijakan tersebut pemerintah mendapat untung tak terkira.

Sejarawan Angus Maddison dalam Dutch Income in and from Indonesia 1700-1938 (1989) menyebut, sistem tanam paksa sukses meningkatkan aliran pendapatan dari Indonesia untuk PBD Belanda. Bahkan, separuh untung tanam paksa langsung masuk ke kas pemerintah Belanda.

Maddison juga menjelaskan, persentase aliran biaya dari Indonesia untuk PDB Belanda selalu meningkat setiap masa. Pada tahun 1700, biaya dari Indonesia menyumbang 1% PDB Belanda. Sementara setelah tanam paksa, alias periode 1840-1870, melonjak menjadi 8% PDB.

"Secara perhitungan, aliran biaya dari Indonesia ke Belanda mencapai 234 juta gulden pada 1831-1850. Lalu, 491 juta gulden dari 1851-1870. Angka segini, setara 31,5% PDB Belanda di periode tersebut," ungkap Maddison.

Bahkan, Maddison juga menghitung pendapatan Belanda dari Indonesia selama 1878-1941 menyentuh 23,5 miliar gulden alias setara US$398 miliar pada masa sekarang. Namun, nomor segitu belum termasuk keuntungan-keuntungan perusahaan swasta, nan bisa dipunguti pajak juga oleh pemerintah Belanda. Tentu, jika dihitung-hitung luar biasa besar.

Seluruh biaya dari Indonesia tersebut kemudian dipakai untuk pembangunan Belanda. Mereka sukses membangun banyak bendungan, jalan, dan prasarana lain. Meski begitu, kemajuan ekonomi dan pembangunan negeri kincir angin berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia.

Sejarah mencatat, semasa pendudukan Belanda, masyarakat Indonesia hidup sengsara sebagai penduduk negara kelas dua di tanah kelahirannya sendiri. Tak jarang penduduk Indonesia juga menjadi budak sebagai akibat kebijakan kolonial alias budak di beragam perusahaan.

Atas dasar ini, ketika Indonesia merdeka pada 1945, Belanda ketir-ketir. Meski demikian, kekhawatiran Belanda tersebut tak terbukti. Selepas kemerdekaan Indonesia, Belanda tak jadi ambruk karena mendapat sokongan biaya dari AS lewat kebijakan Marshall Plan.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya