Jakarta, CNBC Indonesia - Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia bekerja-sama dengan CNBC Indonesia menghadirkan EKONIKLIM Talkshow sebagai bagian ke-15 sekaligus penutup EKONIKLIM Podcast Season 2. Mengangkat tema "Orientasi Kebijakan Iklim Indonesia dari Perspektif Ekonomi dan Keuangan," talkshow ini membahas gimana kebijakan suasana dapat mendukung ketahanan energi, ketahanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi hijau Indonesia.
Sebagai tamu kehormatan pada talkshow ini, Ary Sudijanto, Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Fajar Nuradi, Asisten Deputi Produksi Pangan dan Perubahan Iklim, Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyoroti beragam aspek strategis dalam kebijakan suasana Indonesia, mulai dari kesiapan pemerintah menghadapi krisis iklim, penguatan ketahanan pangan dan energi, hingga peran Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sebagai instrumen pembiayaan inovatif untuk menutup kesenjangan pendanaan pembangunan rendah karbon.
Dalam obrolan mengenai NEK, Ary menekankan pentingnya prinsip akuntabilitas dalam pengembangan ekosistem, termasuk pasar karbon, pajak karbon, dan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) untuk membangun kepercayaan pasar terhadap sistem karbon Indonesia nan berintegritas tinggi.
"Pengembangan pasar karbon Indonesia kudu dibangun di atas tata kelola nan transparan, akuntabel, dan kredibel. SRUK mempunyai peran krusial untuk memastikan setiap unit karbon tercatat dengan baik, mencegah penghitungan ganda, serta meningkatkan kepercayaan penanammodal terhadap integritas pasar karbon Indonesia. Dengan sistem nan kuat, NEK dapat menjadi instrumen strategis untuk mendukung pencapaian sasaran suasana sekaligus membuka kesempatan pembiayaan nan lebih besar bagi pembangunan rendah karbon," ujar Ary dikutip Kamis, (20/8/2026).
Sementara itu, Fajar menyoroti pentingnya koordinasi lintas kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan untuk memastikan kebijakan suasana dapat mendukung agenda pembangunan nasional hingga tingkat daerah. Pembahasan juga mencakup gimana program pangan dan daya di tingkat desa dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, memperkuat ketahanan masyarakat, serta memastikan faedah pembangunan hijau dapat dirasakan oleh petani, nelayan, pemerintah daerah, dan organisasi setempat.
"Ketahanan pangan dan perubahan suasana adalah dua agenda nan saling berkaitan. Di tengah meningkatnya akibat iklim, kebijakan pangan perlu didukung oleh pendekatan nan tidak hanya menjaga produksi, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat dan ekonomi lokal. NEK dapat menjadi salah satu instrumen inovatif untuk menjembatani kebutuhan pembiayaan, selama dikelola melalui koordinasi nan kuat antar kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan," ujar Fajar.
Talkshow ini juga menyoroti bahwa potensi besar NEK sebagai mesin pertumbuhan hijau hanya dapat terwujud andaikan didukung tata kelola nan kuat, sistem pembagian faedah nan adil, serta koordinasi kebijakan nan konsisten antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, bumi usaha, dan masyarakat. Selanjutnya, daya saing Indonesia bakal semakin ditentukan oleh keahlian beradaptasi terhadap dinamika global. Penyelesaian kerangka norma melalui RUU Perubahan Iklim, penguatan penerapan NEK, serta kesiapan menghadapi kebijakan internasional seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) menjadi langkah krusial agar kebijakan suasana tidak hanya mendukung penurunan emisi, tetapi juga memperkuat daya saing industri nasional dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
EKONIKLIM Podcast merupakan bagian dari upaya CPI Indonesia untuk meningkatkan literasi publik mengenai keterkaitan antara ekonomi, keuangan, dan lingkungan, termasuk iklim. Dengan menghadirkan obrolan nan mudah diakses, EKONIKLIM mendorong percakapan nan lebih inklusif mengenai pembiayaan transisi energi, penguatan ketahanan ekonomi dan sosial, serta pencapaian sasaran suasana nasional.
"Musim kedua EKONIKLIM menunjukkan bahwa transisi daya dan tindakan suasana bukan hanya rumor teknologi alias lingkungan, tetapi juga rumor ekonomi, kebijakan, dan pembiayaan. Indonesia memerlukan ekosistem NEK nan kredibel, tata kelola nan transparan, serta instrumen pembiayaan nan bisa mengubah komitmen suasana menjadi tindakan nyata dan faedah ekonomi bagi masyarakat. Melalui bagian final ini, kami mau membawa obrolan ke ruang nan lebih luas. Ketika publik, kreator kebijakan, pelaku pasar, sektor keuangan, dan masyarakat mempunyai pemahaman nan sama, kesempatan untuk membangun ekonomi hijau nan inklusif dan berkepanjangan bakal semakin besar," ujar Direktur CPI Indonesia, Tiza Mafira.
Adapun seluruh bagian EKONIKLIM Podcast Season 2 tersedia di kanal YouTube EKONIKLIM https://www.youtube.com/@EKONIKLIM dan Spotify EKONIKLIM https://creators.spotify.com/pod/profile/ekoniklim/.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

14 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·