ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menggenjot Program Pelatihan Vokasi Nasional sebagai upaya mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi lulusan SMA dan SMK nan mau langsung masuk ke bumi kerja.
Tahun ini, kuota peserta program tersebut melonjak lebih dari empat kali lipat, menjadi 300 ribu orang, dari sekitar 70 ribu peserta pada tahun lalu.
Yassierli mengatakan, langkah itu diambil setelah pemerintah meluncurkan Program Magang Nasional nan menyasar lulusan perguruan tinggi. Sementara bagi lulusan SMA dan SMK, pemerintah menyiapkan jalur training vokasi melalui balai-balai training kerja milik Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).
"Jadi Alhamdulillah kita launching program pemagangan nasional, itu kan untuk mereka nan lulus perguruan tinggi, mau D1, D2, D3, S1, fresh graduate lah gitu ya. Kemudian kita tanya, 'gimana dengan teman-teman kita SMK, adik-adik kita nan lulusan SMK/SMA', oke ini kudu nih kita revitalisasi lagi program training vokasi nasional," kata Yassierli dalam Economic Update CNBC Indonesia, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, training vokasi sebenarnya telah melangkah selama ini di balai-balai training kerja. Namun, pelaksanaannya tetap tersebar sehingga belum dikelola secara optimal. Karena itu, Kemnaker sekarang mengelola program tersebut secara lebih profesional, serupa dengan Program Magang Nasional.
"Selama ini sudah jalan di balai-balai kita, tapi sifatnya scatter, makanya kemudian saya mengambil kebijakan, ini kudu kita kelola secara ahli seperti kita mengelola magang," ujarnya.
Ia menjelaskan, selain meningkatkan kapabilitas peserta, pemerintah juga memperbaiki tata kelola program, mulai dari proses pendaftaran nan dibuat lebih transparan hingga pembaruan kurikulum dan peningkatan kualitas instruktur.
"Tahun lampau kita vokasi itu hanya 70 ribu orang di anggaran nan kita terima. Kita kelola dan kemudian kita buat prosesnya transparan, kita mau semua orang bisa mengakses. Kita pembaruan kurikulumnya, pembimbing nan kita perbaiki, kemudian kita jalankan ya batch nan pertama," terang dia.
"Kemudian kita evaluasi. Saya sampaikan ke Pak Presiden, ini adalah menjadi salah satu solusi. Kemudian Alhamdulillah, nan tahun lampau kita 70.000 sekarang menjadi 300.000. Tiga kali lipat," ucap Yassierli.
Ia menilai training vokasi tidak hanya menjadi solusi untuk menutup kesenjangan keahlian (skill gap), tetapi juga dapat menjadi stimulus ekonomi lantaran peserta memperoleh duit saku selama mengikuti pelatihan.
"Karena memang kita memandang tadi, ini bisa menjadi stimulus ekonomi, lantaran mereka dapat duit saku. Dan mereka selama ini skill gap. jika universitas agak beda, jika ini SMA/SMK kan dengan beragam variasinya se-Indonesia," tutur dia.
Yassierli mencontohkan, training vokasi di balai Kemnaker telah melahirkan peserta nan bisa membangun upaya sendiri. Salah satunya adalah peserta training reparasi AC di Medan nan sekarang telah mempunyai belasan karyawan.
"Mereka ikut training reparasi AC selama 2 bulan ya, sesudah itu dia keluar, sudah selesai, dapat sertifikat, dia membangun upaya jasa servis AC,l, dan sekarang mereka punya tenaga kerja 19 orang," ungkap Yassierli.
Ia mengatakan, tetap banyak kebutuhan tenaga kerja pada level kompetensi tertentu nan dapat dipenuhi melalui training vokasi jangka pendek. Misalnya operator forklift nan memerlukan training sekitar tiga bulan.
"Inilah balai-balai Kemnaker hadir. itulah nan kita sebut dengan training vokasi. jadi training short-term, skill siap kerja, ya paling rata-rata banyak itu 3 bulan," ujarnya.
Selain keahlian dan sertifikat kompetensi, pemerintah juga meningkatkan duit saku bagi peserta pelatihan. Jika sebelumnya peserta hanya menerima Rp20.000 per hari, sekarang nilainya dinaikkan menjadi Rp50.000 per hari.
Menaker Yassierli Soal Program Magang Hub - Tantangan Kerja Era Digital Foto: CNBC INDONESIA
(dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·