Dilema Likuiditas Perbankan: Memarkir Dana atau Membiayai Sektor Riil?

2 jam yang lalu 3

loading...

Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI dan Direktur Riset GREAT Institute. Foto/Ist

Perdana Wahyu Santosa
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI dan Direktur Riset GREAT Institute

DI BALIK megahnya gedung-gedung perbankan di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, sebuah dilema sunyi namun krusial sedang berlangsung. Para kepala akibat dan pengelola likuiditas bank saban hari dihadapkan pada pilihan kalkulatif: menyalurkan likuiditas ke sektor riil nan penuh akibat usaha, alias memarkirkannya di instrumen moneter jangka pendek nan memberikan imbal hasil menarik tanpa akibat angsuran sama sekali.

Dilema ini memuncak seiring ketatnya kebijakan moneter dunia dan domestik. Penerbitan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sukses menyerap likuiditas dan menahan guncangan nilai tukar Rupiah.

Namun, di sisi lain, kejadian ini melahirkan akibat sampingan (side effect): terciptanya persaingan penyerapan biaya domestik. Likuiditas perbankan nan semestinya mengalir sebagai darah bagi ekspansi bumi usaha, sebagian berbelok menuju pelabuhan kondusif (safe haven) moneter.

Kondisi ini tegar terlihat pada dinamika transmisi suku bunga. Ketika suku kembang referensi dipertahankan tinggi demi meredam gejolak eksternal, suku kembang biaya (deposito) dan angsuran perbankan turut terkerek. Bagi industri ritel, manufaktur dan UMKM, kenaikan biaya pinjaman (cost of credit) menjadi beban tambahan di tengah daya beli masyarakat nan sedang mengalami normalisasi.

Selengkapnya