Donald Trump Terjebak Konflik Iran tanpa Strategi Keluar yang Jelas

1 jam yang lalu 2
Donald Trump Terjebak Konflik Iran tanpa Strategi Keluar nan Jelas Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru saja meraih terobosan diplomatik di Timur Tengah melalui kesepakatan pelucutan senjata militan Hamas. Namun, pencapaian tersebut dibayangi oleh bentrok berkepanjangan dengan Iran nan membikin Trump terjebak dalam pencarian strategi keluar (exit strategy) nan hingga sekarang belum membuahkan hasil.

Setelah lima bulan berperang, ruang mobilitas Trump tampak sangat terbatas. Muncul kesan bahwa sang presiden semakin sering membikin rencana secara mendadak seiring berjalannya konflik.

"Kami bakal membalas mereka dengan sangat keras lantaran sekarang giliran kami untuk memukul," ujar Trump pada Rabu (30/7). Ia merujuk pada rencana serangan jawaban terhadap Teheran atas serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania.

Kebuntuan di Camp David

Upaya pemimpin Partai Republik tersebut untuk memaksa Iran menyerah melalui serangan udara sejauh ini belum berhasil. Ketika bentrok meluas dari Irak ke Arab Saudi apalagi hingga Mesir, Trump sekarang berada di titik buntu. Pada Jumat (31/7), dia mengumpulkan personil kabinetnya di tempat peristirahatan kepresidenan Camp David, tetapi tidak ada indikasi adanya perubahan strategi nan signifikan.

Laporan dari NBC News, mengutip pejabat AS nan tidak disebutkan namanya, menyebut bahwa Trump sempat meluapkan kemarahan dalam pertemuan di Gedung Putih baru-baru ini. Ia dikabarkan merasa sangat frustrasi karena terbatasnya pilihan nan tersedia untuk mengakhiri perang ini.

Situasi saat ini sangat berjuntai pada sikap Teheran. Pasca serangan campuran AS dan Israel pada 28 Februari nan menewaskan sejumlah pejabat tinggi termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, perkembangan di lapangan rupanya tidak melangkah sesuai rencana awal Washington.

Tanpa Solusi Cepat

Di awal konflik, Trump sempat memprediksi lini masa serangan selama empat hingga enam minggu untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Meski pejabat AS mengeklaim telah mencapai tujuan militer utama--seperti menghancurkan angkatan laut Iran dan mendegradasi keahlian rudal balistik mereka--fokus bentrok sekarang bergeser ke kendali Selat Hormuz.

Teheran telah mengganggu lampau lintas maritim utama dengan serangan terhadap kapal-kapal pengangkut, langkah nan tampaknya mengejutkan Washington. Kesepakatan gencatan senjata pada 17 Juni pun telah runtuh. Militer AS terus melancarkan serangan ke sasaran militer Iran, sementara Garda Revolusi Iran membalas dengan menyerang pangkalan AS dan sekutunya di area tersebut.

"Sulit untuk memandang kenapa pendekatan ini bakal sukses sekarang, padahal tidak membuahkan hasil selama lima bulan terakhir," tulis Richard Haass, mantan presiden Council on Foreign Relations.

Karen Young, peneliti senior di Middle East Institute, memperingatkan bahwa bentrok ini tetap dalam tahap awal dan masyarakat kudu bersiap untuk gangguan nan berkepanjangan. "Ini bentrok nan tidak mempunyai solusi cepat, apalagi transisi rezim sekalipun bisa menyebabkan ketidakstabilan nan lebih besar di kawasan," jelasnya.

Tekanan Politik Domestik

Di dalam negeri, perang ini semakin tidak populer. Lonjakan nilai bahan bakar minyak (BBM) memicu kemarahan konsumen Amerika. Berdasarkan rata-rata jajak pendapat nan disusun oleh master politik Nate Silver hingga Kamis (31/7), sebanyak 58,3 persen penduduk Amerika menentang perang tersebut, sementara hanya 37,4 persen nan mendukung.

Isu ini menjadi sangat sensitif secara politik mengingat pemilihan paruh waktu (midterm elections) bakal digelar dalam tiga bulan ke depan. Sejarah menunjukkan pemilu ini biasanya susah bagi partai nan menguasai Gedung Putih. Jika tren ini berlanjut, Trump berisiko kehilangan kebanyakan bangku Partai Republik di DPR dan Senat.

Alex Vatanka dari Middle East Institute merangkum situasi ini sebagai persamaan kalah-kalah (lose-lose equation) lantaran tidak ada satu pihak pun nan diuntungkan dari eskalasi nan terus berlanjut. (AFP/I-2)

Selengkapnya