Dorong Kolaborasi Lintas Perspektif untuk Masa Depan Arsitektur Indonesia

2 jam yang lalu 3
Dorong Kolaborasi Lintas Perspektif untuk Masa Depan Arsitektur Indonesia Ilustrasi(Dok spesial )

LIXIL Water Technology Indonesia mendorong penguatan kerjasama lintas disiplin dalam pengembangan arsitektur dan kreasi di Indonesia melalui penyelenggaraan LIXIL Day of Architecture & Design (LDAD) 2026.

Mengusung tema “Archipelago Dialogues: Architecture as a Space of Co-Creation”, gelaran nan berjalan di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada Rabu (12/8) itu mempertemukan arsitek, praktisi desain, serta pelaku industri dari dalam dan luar negeri untuk membahas masa depan arsitektur dan kualitas ruang hidup. Leader LIXIL Water Technology APAC, Audrey Yeo mengatakan LDAD merupakan bagian dari kontribusi LIXIL terhadap perkembangan organisasi arsitektur dan kreasi di Indonesia.

“Bagi kami, LDAD lebih dari sekadar sebuah acara. LDAD merupakan kontribusi LIXIL bagi organisasi arsitektur dan kreasi Indonesia, mencerminkan komitmen kami untuk terus tumbuh berbareng industri. Kami memandang antusiasme nan luar biasa, di mana jumlah registrasi tahun ini apalagi melampaui kapabilitas nan tersedia,” ujar Audrey dikutip dari siaran pers nan diterima, Sabtu (15/8).

Menurut dia, tema co-creation nan diangkat tahun ini menjadi ruang untuk mempertemukan beragam perspektif dalam merespons perubahan masyarakat, lingkungan, dan perkembangan teknologi. LDAD 2026 menghadirkan empat sesi obrolan nan menghadirkan sejumlah arsitek dan praktisi nasional maupun internasional.

Pembahasan diarahkan pada gimana arsitektur dapat berkembang melalui proses dialog, pemahaman konteks, pemanfaatan teknologi, serta kerjasama lintas keahlian. Pada sesi pertama, Managing Director Asia Snøhetta Richard Wood menekankan pentingnya arsitektur dalam menciptakan warisan positif bagi masyarakat lokal. Menurutnya, arsitektur tidak semata berangkaian dengan bangunan, tetapi juga menciptakan platform bagi kehidupan publik dan hubungan manusia dengan ruang.

Ia memperkenalkan konsep “ecotone”, ialah ruang pertemuan antara beragam kejadian berbeda. Dalam konteks arsitektur, konsep tersebut menggambarkan pertemuan karakter manusia, perspektif, dan skill nan dapat menghasilkan ruang baru sekaligus memperkaya proses perancangan.

Sementara itu, Principal Yolodi+Maria Architects Gregorius Supie menyoroti pentingnya memahami konteks dalam menghasilkan sebuah karya arsitektur. Menurut dia, corak gedung tidak kudu ditentukan sejak awal, tetapi dapat berkembang melalui proses observasi terhadap kehidupan di sekitar lokasi. Proses desain, lanjutnya, perlu mempertimbangkan kondisi alam, kebutuhan masyarakat, budaya, material, hingga karakter suasana setempat.

Perspektif mengenai konteks juga diperlihatkan Principal andramatin studio Andra Matin melalui pemanfaatan tradisi, material lokal, dan prinsip arsitektur tropis dalam karya kontemporer. Strategi seperti ventilasi alami, naungan, lanskap, dan ruang sosial dinilai dapat menciptakan gedung nan mempunyai identitas sekaligus responsif terhadap suasana dan kebutuhan penggunanya. 

Adapun Principal ZHA Patrik Schumacher membawa obrolan pada perkembangan teknologi dalam arsitektur. Menurutnya, teknologi tidak hanya berfaedah sebagai perangkat bantu desain, tetapi juga berpotensi mengubah langkah arsitektur dirancang, dikembangkan, hingga digunakan. Pemanfaatan metaverse, virtual reality (VR), dan gaming engines memungkinkan proses kerjasama dilakukan secara lebih interaktif sejak tahap awal.

Teknologi tersebut juga memungkinkan perancang mengeksplorasi ruang secara virtual sebelum proyek direalisasikan. Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara mengatakan keempat sesi tersebut menunjukkan bahwa arsitektur tidak dapat dibangun melalui satu perspektif saja.

“Masing-masing pembicara membawa perspektif pandang berbeda, namun keseluruhan sesi menunjukkan satu kesamaan, bahwa arsitektur tidak dibentuk secara tunggal. Setiap pengetahuan dapat saling melengkapi dalam menjawab tantangan tata ruang nan semakin dinamis. Dialog, pemahaman serta kerjasama merupakan kunci krusial dalam membentuk arsitektur nan relevan, solutif, dan berkelanjutan,” kata Arfindi.

Apresiasi Karya Arsitektur Rangkaian LDAD 2026 juga ditutup dengan pemberian penghargaan bagi para pemenang LIXIL Architectural Design Competition (LADC) 2026. Kompetisi nan diinisiasi LIXIL Water Technology Indonesia berbareng Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) tersebut menjadi wadah bagi arsitek ahli dan talenta muda untuk merespons persoalan nyata tata ruang melalui pendapat desain.

Pada kategori profesional, Juara I diraih karya “Pagar Laut: Reclaiming Our Coastline” nan dirancang Ar. Iqbal Nurhidayat (IAI), Fahry Triza Nugraha, dan Imam Darmawan Putra. Sementara itu, kategori mahasiswa dimenangkan karya “ei peowu: Catalyzing Resilience Across Sabu Raijua” nan dirancang Melvino Anindra Bagaswara, S.Ars., Bayu Putra Setiawan, dan Muhammad Fathur Rahman.

Selain forum obrolan dan penghargaan LADC 2026, LDAD juga menghadirkan sejumlah aktivitas pendukung, antara lain 10x10 Archinesia, area pameran karya terpilih LADC 2026, serta LIXIL Product Display Area.

Arfindi menambahkan, seluruh strategi dan inisiatif tersebut merupakan bagian dari komitmen LIXIL melalui semangat “Better Homes for Everyone, Everywhere”. 

“Di LIXIL, kami percaya bahwa menghadirkan ruang hidup nan lebih baik tidak berakhir pada produk dan solusi fungsional nan menjawab kebutuhan masyarakat. Ketika seluruh pemangku kepentingan dapat semakin saling memahami dan bersinergi, ekosistem bakal menjadi lebih kuat, sehingga bersama-sama kita dapat menciptakan perubahan nan lebih berfaedah hari ini dan untuk masa depan,” pungkasnya. (E-4)

Selengkapnya