Ilustrasi(Dok Istimewa)
PT Jasa Raharja (Persero) terus memperkuat penerapan manajemen risiko sebagai bagian dari transformasi tata kelola perusahaan melalui gelaran Risk Townhall 2026 di Kantor Pusat Jasa Raharja, Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Mengusung tema "Transforming Governance for a Sustainable and Resilient Future – Leveraging AI, GRC, ESG & ERM for Smarter Decisions and Resilience", forum ini digelar untuk mendorong peralihan pengelolaan akibat konvensional menuju sistem Risk Intelligence.
Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, menjelaskan bahwa Risk Intelligence memanfaatkan olahan info operasional harian menjadi kajian prediktif (predictive analytics) serta peringatan awal (early warning) bagi manajemen.
"Melalui pendekatan Risk Intelligence, info perlu diolah menjadi info dan insight nan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan nan lebih cepat, tepat, dan terukur. Karena itu, membangun Risk Intelligence merupakan tanggung jawab seluruh unit kerja, bukan hanya kegunaan Manajemen Risiko," ujar Awaluddin, Selasa (18/8/2026).
Integrasikan AI dan ESG dalam Tata Kelola Perusahaan
Pakar Governance, Risk, and Compliance (GRC) sekaligus Founder CRMS Indonesia, Antonius Alijoyo memaparkan pentingnya pemanfaatan kajian info dan Artificial Intelligence (AI) untuk memperkuat ketahanan organisasi.
Ia menekankan bahwa penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) serta Enterprise Risk Management (ERM) tidak boleh sebatas pemenuhan kepatuhan administratif, melainkan kudu terintegrasi dalam strategi dan operasional upaya jangka panjang.
Bangun Trusted Risk Intelligence untuk Pelayanan Publik
Sementara itu, Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko Jasa Raharja, Harwan Muldidarmawan, menegaskan arah penguatan manajemen akibat perusahaan berfokus pada pembentukan Trusted Risk Intelligence.
Langkah ini dilakukan melalui integrasi info nan akurat, penguatan risk sensing, serta translator kajian akibat menjadi kebijakan nan berakibat langsung bagi masyarakat.
"Arah nan mau kita bangun adalah keahlian untuk memandang akibat lebih awal, memahami lebih dalam, memutuskan lebih tepat, dan bertindak lebih cepat. Keputusan nan lebih baik kudu memberikan outcome nan lebih baik bagi masyarakat melalui mobilitas nan semakin kondusif dan pelayanan nan semakin baik," pungkas Harwan. (H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·