DPR RI Dorong Pemberian Insentif untuk Nakes yang Bertugas di NTT

57 menit yang lalu 2
DPR RI Dorong Pemberian Insentif untuk Nakes nan Bertugas di NTT Sejumlah petugas melayani penduduk untuk pendataan manajemen keluarganya nan menjadi pasien di tenda darurat RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, NTT, Senin (24/8/2026).(Antara)

KOMISI IX mendorong adanya insentif bagi seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan nan bekerja di letak musibah gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, insentif tersebut bukan sekadar persoalan finansial, tetapi juga corak penghargaan atas dedikasi tenaga kesehatan nan tetap bekerja dalam situasi sulit.

Bantuan tenaga kesehatan di letak musibah dinilai tidak boleh hanya berfokus pada master spesialis. Kebutuhan terhadap tenaga perawat juga kudu menjadi perhatian.

“Bantuan tenaga medis jangan hanya untuk master spesialis, tetapi juga perawat. Bisa mengambil dari Poltekkes nan ada agar perawat di tempat musibah mempunyai waktu untuk beristirahat dan tidak mengalami burnout,” kata Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKB, Nihayatul Wafiroh, Selasa (25/8).

Menurutnya, kebutuhan tambahan tenaga perawat menjadi semakin krusial lantaran sebagian tenaga kesehatan nan bekerja di RS Ruteng juga merupakan korban gempa. 

Komisi IX, lanjut Ninik sapaan akrabnya juga meminta pemerintah wilayah segera melakukan pendataan terhadap rumah tenaga medis dan tenaga kesehatan nan mengalami kerusakan akibat gempa.

“Pemerintah wilayah kudu segera mendata rumah tenaga kesehatan dan tenaga medis nan rusak lantaran musibah agar bisa segera mendapatkan support perbaikan dari pemerintah pusat,” tegas Ninik.

Selanjutnya, Ninik berbareng rombongan Komisi IX DPR RI juga meninjau langsung kondisi kerusakan akomodasi kesehatan lainnya nan cukup masif di Pulau Flores. Salah satunya adalah Puskesma Bangka Kenda, Manggarai. Puskesmas tersebut adalah satu dari 68 unit nan mengalami kerusakan dan 19 di antaranya dilaporkan belum dapat melayani masyarakat.

"Di Puskesmas Bangka Kenda ini juga parah banget, pengaruh gempa membuatnya tidak lagi bisa dipakai, lantai goyang, tembok runtuh, apalagi kami tidak bisa masuk. Lokasinya di atas gunung. Dan kami sudah meminta Kemenkes untuk tidak merenovasi, tapi merelokasi ke tempat aman," pungkasnya. (E-4)

Selengkapnya