Ekspor Menigkat, Perajin Sarung di Pantura Tegal Buka Pelatihan Gratis Targetkan 2.500 Pekerja

1 jam yang lalu 2
Ekspor Menigkat, Perajin Sarung di Pantura Tegal Buka Pelatihan Gratis Targetkan 2.500 Pekerja Seorang pekerja sedang menenun sarung.(MI/SUPARDJI RASBAN)

TINGGINYA permintaan ekspor sarung ke pasar ekspor internasiona saat ini, membikin seorang perajin alias pengusaha sarung di Pantura Tegal, Jawa Tengah, terus memperluas program training menenun secara cuma-cuma bagi masyarakat. Program tersebut disiapkan untuk mencetak pekerja sekaligus pengrajin baru untuk menuhi kebutuhan ekspor tersebut.

Perajin alias pengusaha sarung di Kabupaten Tegal, Jamaludin Alkatiri, saat menerima kunjungan Bupati Tegal, Ischaq Maulana Rohman, Minggu (2/8/2026), menyampaikan, sentra tenun sarung miliknya di Desa Pacul, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, sekarang genap beraksi selama satu tahun. Selama periode tersebut, telah menyerap sekitar 600 tenaga kerja baru, sementara total tenaga kerja di seluruh unit usahanya telah mencapai sekitar 2.400 orang.

“Saya menargetkan kelak akhir tahun alias setelah Lebaran jumlah tenaga kerja mencapai 2.500 orang dan nan diutamakan lulusan baru nan belum mempunyai pekerjaan. Semua dilatih gratis, apalagi peserta mendapatkan makan siang dan duit transport sampai betul-betul bisa menenun,” ujar Jamal

Selain training tanpa biaya, peserta nan telah mempunyai keahlian dipersilakan bekerja di perusahaan miliknya yakniPT Asaputex Jaya. Atau di sentra-sentra tenun lainnya di Kabupaten Tegal. Jamaludin menjelaskan, argumen utama perusahaan membuka training secara berkepanjangan adalah tingginya permintaan pasar ekspor nan hingga sekarang belum bisa dipenuhi.

“Permintaan ekspor sangat luar biasa, terutama dari Afrika dan Timur Tengah. Saat ini industri tenun di Kabupaten Tegal dan Pemalang baru bisa memenuhi sekitar 20 persen dari total permintaan. Saat ini kendalanya bukan pemasaran, tetapi tetap kurangnya pengrajin,” terang Jamal.

Jalam menambahkan salah satu jenis sarung produksinya ialah sarung goyor, mempunyai kelebihan lantaran seluruh proses pembuatan motif dilakukan secara manual, mulai dari menggambar, mengikat, hingga melepaskan ikatan benang. Proses tersebut tidak dapat digantikan oleh mesin sehingga kualitas dan nilai seninya tetap terjaga.

Menurut Jamal, untuk meningkatkan semangat para pengrajin, perusahaan juga rutin menggelar program family gathering setiap bulan. Puluhan pengrajin diajak mengunjungi lokasi wisata di Kabupaten Tegal, seperti Guci, Rodjo Tater, dan Waduk Cacaban. “Seluruh biaya perjalanan, konsumsi, tiket masuk hingga duit saku ditanggung perusahaan. Para peserta juga diberi tantangan membikin konten promosi wisata dengan bingkisan duit tunai bagi karya terbaik,” Jelas Jamal.

Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, menyampaikan bahwa sarung goyor asal Kabupaten Tegal telah dipasarkan hingga ke 12 negara, terutama di area Afrika. Industri tersebut tidak hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memberikan faedah besar bagi masyarakat melalui pembuatan lapangan kerja.

"Ini luar biasa bahwa produknya berbobot dan tidak hanya memproduksi sarung-sarung berkualitas, tetapi juga memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat sekitar," ujar Ischak.

Ischak  menjelaskan, sebagian besar tenaga kerja berasal dari wilayah sekitar pabrik, seperti Dawuhan, Kaladawa, Getaskerep, dan desa-desa lainnya di Kabupaten Tegal. “Sistem kerja nan diterapkan juga cukup elastis lantaran pengrajin dibayar berasas jumlah hasil tenun nan diselesaikan,” terang Ischak.

Menurutnya, seorang pengrajin dapat menghasilkan 10 hingga 13 pangkas sarung dalam sepekan. Dengan bayaran berkisar Rp60 ribu hingga Rp75 ribu per potong, penghasilan nan diperoleh dapat mencapai sekitar Rp3 juta setiap bulan.

"Harapannya kesejahteraan masyarakat meningkat, daya beli masyarakat juga meningkat, sehingga pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Tegal semakin baik,” ucap Ischak.

Dalam kunjungan tersebut, Bupati juga menyampaikan rencana kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Tegal, PC Fatayat NU Kabupaten Tegal, dan PT Asaputex Jaya untuk memperluas pemberdayaan masyarakat melalui training keahlian menenun.

"Kami membawa PC Fatayat NU agar anggotanya mendapatkan pelatihan, dan setelah siap nantinya dapat bekerja di pabrik Pak Haji Jamal. Ini memberikan kesempatan kepada masyarakat Kabupaten Tegal agar kesejahteraannya semakin meningkat," pungkas bupati. 

Diketahui, Jamaludin Al Katiri, merupakan seoarng perajin/pengusaha sarung terbesar di area Pantura Eks-Karesidenan Pekalongan, Jawa Tengah. Sarung produksinya bukan sakadar untuk memenuhi pasaran dalam negeri, tapi juga disekpor ke sejumlah negara terutama Afrika. (H-2)

Selengkapnya