Menko Polkam Djamari Chaniago (tengah).(MI/Devi Harahap)
PEMERINTAH meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran rimba dan lahan (karhutla) seiring potensi menguatnya kejadian El Nino nan diperkirakan membikin kondisi kering berjalan lebih panjang.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengatakan keenam provinsi tersebut mempunyai tingkat kerawanan nan perlu mendapat perhatian serius lantaran kondisi cuaca kering dapat mempercepat penyebaran api.
“Yang kita waspadai memang ada pada enam provinsi. Itu adalah mulai dari Riau, kemudian Jambi, Sumatera Selatan, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel,” kata Djamari dalam konvensi pers penanganan karhutla di Kantor Kemenko Polkam, Senin (10/8).
Menurut Djamari, kondisi karhutla di sejumlah wilayah prioritas sejauh ini tetap dapat dikendalikan. Namun, pemerintah tidak mau lengah mengingat ancaman El Nino berpotensi meningkatkan akibat kebakaran dalam beberapa waktu ke depan. “Dan itu pun sudah kita kendalikan,” ujarnya.
Kesiapan pemerintah wilayah juga menjadi salah satu modal utama dalam menghadapi potensi peningkatan karhutla. Djamari menyebut laporan dari para pejabat mengenai dan kepala wilayah menunjukkan adanya kesiapan untuk merespons kebakaran secara cepat.
“Beberapa laporan tadi nan disampaikan oleh para direktur, para kepala daerah, juga sudah meyakinkan bahwa situasi nan bakal dihadapi itu bakal dihadapi dengan cepat,” katanya.
Pemerintah tidak hanya memusatkan perhatian pada enam provinsi tersebut. Sejumlah wilayah lain nan sempat mengalami kebakaran juga terus dipantau. Djamari menyebut kebakaran di area Bromo dan sejumlah titik di Jawa Barat telah sukses ditangani. “Kemarin terbakar di Bromo. Itu sudah segera kita tuntaskan. Semalam sudah tuntas dengan tiga titik api di Jambian,” ujarnya.
Cegah asap lintas negara
Djamari juga menegaskan pemerintah berupaya keras mencegah akibat karhutla meluas hingga negara tetangga, khususnya Singapura dan Malaysia. Menurut dia, pengendalian kebakaran tidak semata-mata ditujukan untuk memadamkan api, tetapi juga mencegah asap menyebar dan mengganggu negara-negara nan berada di sekitar Indonesia.
“Kita juga upaya sekeras mungkin agar tidak mengganggu tetangga kita. Baik tetangga nan mana pun nan berdekatan dengan kita,” katanya.
Djamari memastikan hingga saat ini belum terdapat laporan asap karhutla Indonesia nan mengganggu negara tetangga. “Selama nan sampai hingga sehari ini, tidak ada itu. Jadi tidak ada. Kita jaga betul agar tidak,” ujarnya.
Dia menekankan penanganan karhutla mempunyai dimensi nan lebih luas lantaran menyangkut kesehatan masyarakat, lingkungan, serta kepentingan nasional.
“Kami menekankan betul pada rekan-rekan nan berada di lapangan, upaya ini bukan hanya sekadar gimana pemadaman api, gimana menjaga lingkungan agar tidak mengganggu kesehatan, tapi juga di sini adalah masalah kebangsaan,” kata Djamari.
Selain rimba dan lahan, pemerintah turut mewaspadai potensi kebakaran di tempat pembuangan akhir (TPA). Kebakaran di area tersebut dinilai rawan lantaran material sampah nan terbakar dapat menghasilkan gas metana dan berakibat terhadap kesehatan. “Jangan sampai itu terbakar. Kita memikirkan nan sana, nan di sini terbakar,” ujar Djamari.
Pemerintah mendorong pengelola TPA melakukan pembasahan secara rutin untuk mencegah material sampah menjadi sumber api. “Upaya nan dilakukan untuk mengendalikan itu adalah di TPA itu selalu dibasahi agar tidak terbakar,” katanya. (Dev/P-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·