ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Calon presiden dari kubu konservatif, Keiko Fujimori, sukses memenangkan pemilihan presiden Peru setelah unggul tipis atas kandidat sayap kiri, Roberto Sanchez. Kemenangan ini diraih setelah otoritas pemilu menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk meninjau kembali surat bunyi nan disengketakan pascapemungutan bunyi putaran kedua.
Mengutip laporan The Associated Press, Selasa (30/06/2026), hasil kalkulasi akhir menunjukkan bahwa Fujimori memenangkan pemilu nan digelar pada Minggu (7/6/2026) tersebut dengan selisih nan sangat tipis, ialah unggul kurang dari 50.000 bunyi dari total lebih dari 18 juta surat bunyi nan masuk.
Dewan Elektoral Nasional Peru dijadwalkan bakal mengumumkan secara resmi penetapan pemenang ini pada tanggal 3 Juli mendatang, sebelum sang presiden terpilih resmi dilantik pada tanggal 28 Juli untuk masa kedudukan lima tahun.
"Setiap kali kita melangkah lebih dekat untuk memulai jalan ketertiban dan angan bagi seluruh rakyat Peru," tulis Fujimori melalui akun media sosial X miliknya setelah hasil kalkulasi bunyi rampung diumumkan.
Kemenangan politisi berumur 51 tahun ini sekaligus menandai keberhasilannya menduduki bangku kepresidenan pada uji coba nan keempat kalinya.
Sepanjang masa kampanye, putri dari mendiang presiden otoriter Alberto Fujimori ini berjanji bakal memulihkan ketertiban umum dan menerapkan kebijakan tangan besi guna memberantas lonjakan kasus pemerasan dan pembunuhan berencana nan meresahkan masyarakat.
Di sisi lain, Roberto Sanchez hingga saat ini terpantau belum memberikan reaksi resmi atas pengumuman hasil tersebut. Sebelum posisinya tersalip, Sanchez sempat memimpin perolehan bunyi dan sempat melayangkan ancaman tidak bakal mengakui pemerintahan buatan rivalnya lantaran mendeteksi adanya indikasi pelanggaran administratif mengenai pengelolaan surat bunyi dari pemilih di luar negeri.
Sosok Fujimori sendiri telah lama dikenal sebagai figur nan konfrontatif, namun dia bekerja keras di jalur kampanye untuk melunakkan gambaran publiknya. Ia tercatat pernah menjadi Ibu Negara Peru pada usia 19 tahun setelah ibunya berpisah dengan sang ayah, dan kemudian menempuh pendidikan manajemen upaya di Amerika Serikat.
Bagi jutaan masyarakat Peru, nama besar dinasti politik Fujimori ibaratkan pisau bermata dua lantaran bisa memberikan pedoman pemilih loyal nan besar namun sekaligus memicu kritik tajam.
Sebagian masyarakat tetap menyimpan memori kelam atas pemerintahan diktator Alberto Fujimori nan sempat dipenjara akibat kasus korupsi dan kejahatan kemanusiaan, di mana rekam jejak kelam sang ayah tersebut sempat menjegal langkah politik Keiko Fujimori dalam tiga pilpres sebelumnya.
(luc/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·