Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.(Xinhua)
PRESIDEN Turki Recep Tayyip Erdogan melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Erdogan menilai pemimpin Israel tersebut sengaja memanfaatkan eskalasi kekacauan dan bentrok di area Timur Tengah sebagai strategi untuk mengalihkan perhatian masyarakat internasional dari rumor Palestina.
Pernyataan tersebut disampaikan Erdogan dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Ankara, Turki, pada Rabu (12/8). Erdogan menegaskan bahwa manuver politik nan dilakukan pemerintah Israel saat ini bermaksud untuk meminggirkan hak-hak rakyat Palestina dari peta politik global.
"Tujuan pemerintah Netanyahu adalah menghapus Palestina dari agenda berbareng umat manusia dengan memanfaatkan kekacauan dan bentrok baru di area tersebut," ujar Erdogan sebagaimana dilansir dari Al Arabiya, Kamis (13/8).
Dukungan Tak Tergoyahkan untuk Palestina
Meski tekanan regional terus meningkat, Erdogan menyatakan keyakinannya bahwa upaya Israel untuk meredam rumor Palestina tidak bakal membuahkan hasil. Ia menegaskan komitmen Turki untuk tetap berdiri di samping rakyat Palestina dalam menghadapi beragam tekanan dan agresi.
"Apa pun nan mereka lakukan, mereka tidak bakal berhasil. Semakin keras mereka berupaya menghancurkan, semakin kuat juga perjuangan Palestina nan tumbuh di hati masyarakat," tegas Erdogan.
Selain support politik, Erdogan menyoroti pentingnya perlindungan terhadap situs-situs suci umat Islam nan kerap menjadi sasaran provokasi dan pelanggaran. Ia secara spesifik menyebut Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dan Masjid Ibrahimi di Hebron sebagai wilayah nan kudu dilindungi dari tindakan sepihak Israel.
Ketegangan Diplomasi dan Isu Keamanan
Pertemuan kedua pemimpin ini juga menyoroti kebuntuan diplomasi perdamaian. Erdogan menyinggung sikap Netanyahu nan menolak 15 poin rencana perdamaian nan diusulkan oleh Board of Peace, sebuah inisiatif nan mendapat support dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Rencana ini sebelumnya mencuat menyusul berita mengenai keputusan golongan Hamas untuk membubarkan diri.
Di sisi lain, hubungan antara Ankara dan Tel Aviv terus memanas. Netanyahu dilaporkan memandang Turki sebagai ancaman bagi keamanan Israel. Sebagai corak tekanan, pemerintah Israel dikabarkan tengah melobi Amerika Serikat agar membatalkan rencana penjualan pesawat tempur F-35 kepada Turki.
Ketegangan semakin diperkeruh dengan munculnya narasi dari pihak Israel mengenai dugaan rencana pembunuhan terhadap Donald Trump nan diklaim melibatkan Iran saat kunjungan ke Turki. Namun, tudingan tersebut telah dibantah keras oleh pemerintah Turki dan dianggap sebagai klaim nan tidak berdasar. (Fer/I-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·