Militer AS Meledak dari Dalam, Ramai Pelaut Stres Berat-Mau Bunuh Diri

40 menit yang lalu 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran mengenai kondisi psikologis awak kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln makin meningkat setelah family militer dan sejumlah personil Kongres memperingatkan adanya krisis kesehatan mental nan memburuk di tengah penugasan laut terpanjang dalam sejarah modern kapal induk tersebut.

USS Abraham Lincoln saat ini telah memasuki bulan kelima operasi tempurnya melawan Iran.

Menurut laporan dua media militer AS, Navy Times dan Stars and Stripes, sibagaimana dikutip Kamis (13/8/2026), telah terjadi beberapa upaya pelaut untuk melompat ke laut di tengah tekanan berat nan dialami awak kapal selama penugasan panjang nan mengenai dengan perang melawan Iran.

Lebih dari 5.000 pelaut dan marinir nan berada di atas USS Abraham Lincoln sekarang telah menjalani bulan kesembilan mereka di laut. Kapal tersebut tercatat telah menghabiskan 250 hari berturut-turut tanpa bersandar di daratan, sebuah rekor baru bagi kapal induk dalam era modern.

Kecemasan para family memuncak dalam sebuah pertemuan nan berjalan emosional di San Diego pekan lalu. Laporan Stars and Stripes menyebut sekitar 200 personil family menghadiri forum tersebut untuk menyampaikan langsung keluhan mereka kepada ketua Angkatan Laut AS.

Dalam pertemuan itu datang Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao berbareng sejumlah pejabat tinggi lainnya.

Salah satu pasangan awak kapal mengatakan suaminya mengirim pesan singkat pada hari nan sama dan mengungkapkan kondisi mental nan sangat mengkhawatirkan.

"Dia berambisi tidak terbangun lagi besok," kata wanita tersebut mengutip pesan suaminya.

Keluarga juga menyampaikan kekecewaan mereka kepada ketua Angkatan Laut.

Menurut laporan tersebut, seorang wanita dalam pertemuan mengatakan kepada Cao bahwa Angkatan Laut telah kehilangan kepercayaan para keluarga.

Navy Times mengungkap sejumlah rincian mengenai dugaan upaya bunuh diri nan sukses digagalkan selama penugasan USS Abraham Lincoln.

Annabelle Loma mengatakan kepada media tersebut bahwa suaminya sempat mencoba melompat ke laut setelah masa tugasnya terus diperpanjang.

"Dia ketakutan. Dia berpikir bakal menerima pemecatan tidak terhormat, dan hanya lantaran mengalami kelelahan berat, kariernya selama 13 tahun hancur begitu saja," katanya.

Media itu juga mengutip istri pelaut lain nan mengatakan suaminya pernah terlibat dalam kejadian berbeda ketika sukses mencegah seorang awak kapal lain melompat ke laut.

Menurut kesaksian tersebut, sang pelaut sukses menangkap rekannya dan membawanya kembali ke geladak kapal.

Anggota Kongres AS dari California, Mike Levin, turut menyuarakan kekhawatiran mengenai kondisi di kapal induk tersebut. Dalam unggahan di platform X, Levin menggambarkan kondisi nan dihadapi awak kapal.

Ia menyebut mereka kudu menghadapi:

"Kamar mandi berjamur, toilet rusak, akomodasi laundry tidak berfaedah selama berminggu-minggu, periode panjang tanpa air panas, makanan nan hanya terdiri dari separuh cangkir nasi dan dua tortilla. Tidak ada sabun, deodoran, maupun pasta gigi," tuturnya.

Anggota Kongres Demokrat lainnya, Jason Crow dari Colorado nan merupakan mantan personil pasukan Ranger dan pernah bekerja di Afghanistan serta Irak, juga memperingatkan tekanan terhadap awak kapal dan family mereka terus meningkat.

"Terus menumpuk dari minggu ke minggu," katanya.

Adapun krisis saat ini tidak muncul secara tiba-tiba. USS Abraham Lincoln berangkat dari San Diego pada 21 November. Awalnya kapal tersebut dijadwalkan bekerja di area Pasifik.

Namun setelah pecah perang AS-Israel melawan Iran, kapal itu dialihkan ke Timur Tengah.

Laporan MS Now menyebut lebih dari 5.000 awak kapal hanya mendapatkan dua hari kesempatan menginjak daratan selama penugasan tersebut. Mereka sempat singgah di Guam pada Desember dan Oman pada Juli.

Penugasan itu sebenarnya dijadwalkan berhujung pada Mei, tetapi kemudian diperpanjang beberapa kali seiring berlanjutnya perang.

Pada April lalu, kritik publik mengenai kondisi kehidupan di atas kapal mulai bermunculan. Foto-foto nan beredar menunjukkan kualitas makanan nan jelek serta adanya pembatasan jatah makanan.

Selain itu, muncul laporan mengenai kekurangan air, bilik mandi berjamur, dan mesin cuci nan rusak.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kala itu menepis laporan tersebut. Namun Levin membalas komentar Hegseth minggu ini.

"Para laki-laki dan wanita ini mendaftar untuk melayani negara mereka. Hal paling minimal nan kudu diberikan negara kepada mereka adalah air panas, toilet nan berfungsi, dan makanan nan layak. Hegseth apalagi tidak bisa menyediakan itu, tetapi tetap berani menatap family mereka dan menyebut mereka pembohong," tegasnya.

Setelah tulisan mengenai kondisi di USS Abraham Lincoln dipublikasikan, Angkatan Laut AS akhirnya memberikan tanggapan resmi.

Seorang pejabat Angkatan Laut mengatakan pihaknya memahami bahwa penugasan panjang memberikan tekanan besar terhadap personil militer dan family mereka.

"Penugasan nan diperpanjang memberikan tekanan besar bagi personel kami dan family mereka, dan kami berterima kasih atas ketangguhan serta pengorbanan nan mereka lakukan," ujarnya.

Pejabat tersebut menegaskan kesehatan dan kesejahteraan seluruh awak USS Abraham Lincoln merupakan prioritas. Ia juga membantah adanya peningkatan kasus percobaan bunuh diri.

"Berdasarkan info nan tersedia bagi komando, kami tidak menemukan adanya peningkatan laporan buahpikiran bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di atas kapal."

Menurut Angkatan Laut, tersedia jaringan support nan terdiri dari tenaga medis, ahli kesehatan mental, pemuka agama, konselor ketahanan penugasan, serta kapelan kapal.

Pihak militer juga mengakui perang telah mengganggu jalur pasokan tradisional, namun mereka membantah kondisi kapal seburuk nan diberitakan. "Laporan terbaru dari kapal menunjukkan akses berkepanjangan terhadap air bersih, pendingin udara nan berfungsi, dan pilihan makanan nan sehat."

Tantangan kesehatan mental di kalangan personel aktif Angkatan Laut AS sebenarnya bukan rumor baru. Sebuah studi nan dipublikasikan tahun lampau meneliti beragam aspek stres nan dialami pelaut selama penugasan.

Penelitian tersebut menemukan bahwa aspek paling umum meliputi kebisingan tinggi, kurang istirahat, serta jasa kesehatan mental dan bentuk nan dianggap tidak memadai.

Survei terhadap para pelaut nan sedang bekerja menunjukkan nyaris separuh responden mengeluhkan kurangnya support dalam menghadapi tekanan selama berada di laut.

"Mengingat tingginya nomor bunuh diri di kalangan militer, termasuk di Angkatan Laut, upaya untuk meningkatkan akses jasa kesehatan di kapal sangat mendesak untuk dilakukan," kata penelitian itu.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya