Fenomena Baru Korsel, Ramai Anak Muda Susah Cari Kerja-Ngungsi ke Sini

56 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia -Fenomena menarik terjadi di Asia Timur. Semakin banyak anak muda Korea Selatan (Korsel) memilih bekerja di Jepang, didorong sulitnya memperoleh pekerjaan di dalam negeri dan tingginya kebutuhan tenaga kerja di Negeri Sakura.

Laporan Reuters dikutip Senin (3/8/2026) menyebut tren tersebut semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir. Jepang nan menghadapi krisis tenaga kerja akibat populasi menua mulai aktif merekrut lulusan baru asal Korea Selatan untuk mengisi beragam posisi profesional.

Salah satu pihak nan memandang kesempatan ini adalah pengusaha Jepang, Moe Kasugai. Saat menjadi mahasiswa di Universitas Yonsei, Seoul, dia terkejut memandang banyak lulusan terbaik Korsel kesulitan memperoleh pekerjaan.

"Saya terkejut lantaran mereka sangat pandai tetapi susah mendapatkan pekerjaan. Banyak nan bisa berkata Jepang, jadi saya berpikir mungkin mereka mempunyai kesempatan lebih baik di Jepang," kata Kasugai.

Pada 2019, dia kemudian mendirikan startup KOREC nan mempertemukan pencari kerja Korea Selatan dengan perusahaan-perusahaan Jepang. Bulan lalu, perusahaan tersebut menggelar bursa kerja di Seoul nan dihadiri lebih dari 100 pencari kerja.

Sulit Cari Kerja dan Kurang Tenaga Kerja?

Sebenarnya, kondisi pasar tenaga kerja di kedua negara sangat berbeda. Di Korsel, perusahaan-perusahaan besar seperti Samsung sekarang lebih banyak merekrut pekerja berilmu dibanding lulusan baru.

Ini membikin kesempatan kerja bagi anak muda semakin terbatas. Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran usia muda di Korsel mencapai 7% pada Juni 2026.

Sebaliknya, Jepang justru mengalami kekurangan tenaga kerja akibat populasi nan menua. Banyak perusahaan memerlukan lulusan baru untuk mengikuti program training kerja sebelum menjadi tenaga kerja tetap.

Sebenarnya, tingkat pengangguran Jepang sendiri hanya sekitar 2,5%. Ini jauh lebih rendah dibanding Korsel.

Melihat kesempatan tersebut, sejumlah perusahaan perekrutan mulai membuka jasa unik untuk menyalurkan talenta Korea ke Jepang. Tahun ini, Wanted Lab dari Korsel dan LAPRAS dari Jepang ikut memasuki pasar tersebut, menyusul perusahaan Jepang Mynavi nan lebih dulu beroperasi.

Datanya

Data Human Resources Development Service of Korea menunjukkan sebanyak 2.257 penduduk muda Korsel memperoleh pekerjaan di Jepang melalui program pemerintah sepanjang 2025. Jumlah itu melonjak 47% dibandingkan 2024 dan menjadikan Jepang sebagai tujuan utama bekerja di luar negeri sementara jumlah penduduk Korea nan memilih bekerja di Amerika Serikat (AS) justru turun 29%.

Mahasiswa Dongguk University, Kim Si-hyeon, mengatakan banyak pencari kerja Korea memang sudah lama tertarik tinggal di Jepang. Selain itu, perusahaan Jepang tetap memberikan training kepada lulusan baru, sesuatu nan sekarang mulai jarang ditemukan di Korsel.

"Saya mau bekerja di bagian teknologi info alias AI. Perusahaan Jepang tetap mau merekrut lulusan baru dan melatih mereka," katanya.

Profesor Hankuk University of Foreign Studies, Lee Chang-min, mengatakan perusahaan Jepang sangat menyukai kandidat asal Korsel. Mereka dinilai mempunyai keahlian bahasa Jepang nan baik serta mudah beradaptasi secara budaya.

"Dari sisi bahasa dan budaya, kualitas kandidat Korea sangat tinggi. Tidak banyak pelamar asing nan bisa menggunakan bahasa Jepang pada level nan dibutuhkan untuk bekerja," ujarnya.

Tomoya Hattori, ketua perusahaan konsultan Jepang Energize, juga mengatakan dirinya lebih memandang kualitas kandidat dibanding kewarganegaraan. Kandidat bagus, tegasnya, lebih krusial dari penduduk negara.

Tantangan Baru

Meski demikian, perusahaan Jepang juga menghadapi tantangan baru. Budaya kerja di Korsel nan lebih terbiasa beranjak pekerjaan demi kenaikan penghasilan dan jenjang pekerjaan berbeda dengan budaya kerja Jepang nan selama ini identik dengan loyalitas jangka panjang kepada satu perusahaan.

Pendiri KOREC, Moe Kasugai, mengakui kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan Jepang. Namun menurutnya, generasi muda Jepang sekarang juga mulai lebih sering beranjak pekerjaan sehingga perusahaan diperkirakan bakal semakin terbuka terhadap perubahan tersebut.

Di luar aspek ekonomi, Kasugai berambisi semakin banyaknya penduduk Korea nan bekerja di Jepang juga dapat mempererat hubungan masyarakat kedua negara nan selama ini kerap diwarnai ketegangan. Keduanya punya sejarah cukup kelam mengenai kolonial Jepang di Semenanjung Korea.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya