Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena baru terjadi di negara-negara bumi saat ini. Banyak negeri berburu bahan bakar nuklir.
Dengan permintaan nan diperkirakan berlipat dobel pada 2040, beragam negara kembali membuka tambang uranium, memperluas kapabilitas pengayaan, serta mengeksplorasi bahan bakar alternatif, ekstraksi uranium dari air laut, dan teknologi fusi. Hal ini terlihat dalam laporan laman Singapura CNA The Nuclear Option, Kamis (20/8/2026).
Dari Amerika
Di Amerika Serikat (AS), khususnya wilayah Texas selatan, misalnya. Pertambangan uranium hidup lagi setelah lama meninggal suri.
Alta Mesa Uranium Project menggenjot pencarian uranium sejak 2024. Padahal perihal ini sudah lama ditinggalkan penduduk sejak 1990-an ketika permintaan dan impor uranium turun drastis usai berakhirnya Perang.
Belum lagi, kecelakaan pembangkit listrik nuklir (PLTN) Fukushima Jepang 2011 usai gempa dan tsunami. Peristiwa meningkatkan kesadaran pemerintah bumi soal keselamatan nuklir.
"Saya mau melanjutkan warisan family dan meninggalkan jejak saya," kata salah satu pekerja tambang, Jesus "Jesse" Garza Jr.
"Energi nuklir adalah daya bersih. Ini adalah masa depan dan saya mau menjadi bagian dari itu," tegasnya.
Kebangkitan daya nuklir tidak hanya terjadi di Texas. Lebih dari 40 negara berencana membangun reaktor baru alias sedang mempertimbangkannya.
Pencarian ke sumber listrik baru nan rendah karbon menjadi alasan. Pada saat nan sama, industri seperti kepintaran buatan (artificial intelligence/AI) dan penambangan mata uang digital semakin meningkatkan kebutuhan energi.
Salah satu daya tarik daya nuklir adalah kepadatan daya uranium. Satu pelet bahan bakar uranium berukuran sekitar ujung jari dapat menghasilkan daya setara dengan satu ton batu bara alias 17.000 kaki kubik gas alam.
Namun, meningkatnya minat terhadap kapabilitas nuklir dunia terjadi setelah periode panjang produksi uranium nan rendah. Permintaan diperkirakan berlipat dobel pada 2040 dan berpotensi mulai melampaui pasokan setelah 2030.
Kondisi ini memunculkan peringatan mengenai potensi kekurangan bahan bakar dalam dua dasawarsa mendatang. Karenanya kini, banyak negara berburu di beragam tempat.
Kazakstan hingga Australia dan Swedia
Sebenarnya, uranium 500 kali lebih banyak ditemukan dibandingkan emas. Tetapi persediaan terbesar nan diketahui dan dapat ditambang terkonsentrasi di kurang dari 10 negara.
Perlu diketahui, produsen uranium terbesar bumi saat ini adalah Kazakhstan. Di tambang Kharasan-2 di Kazakhstan selatan, uranium diekstraksi melalui metode in-situ recovery (ISR).
Sumur digunakan untuk memompa larutan ke bawah tanah guna melarutkan uranium. Uranium kemudian dibawa ke permukaan dan diproses menjadi yellowcake, ialah serbuk pekat nan digunakan untuk membikin bahan bakar nuklir.
ISR menyumbang lebih dari separuh produksi uranium dunia dan membantu Kazakhstan menghasilkan sekitar 40% uranium primer dunia. Namun, mengambil uranium dari dalam tanah hanyalah tahap pertama.
Kazakhstan terutama tetap mengandalkan Rusia untuk melakukan pengayaan uranium sebelum bahan tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar reaktor. Perang di Ukraina juga mempersulit jalur ekspor Kazakhstan melalui Rusia.
Ketika perhatian bumi beranjak ke pemasok alternatif, Australia kembali menjadi sorotan. Negara itu mempunyai sumber daya uranium terbesar nan diketahui di dunia, dua kali lebih banyak dibandingkan Kazakhstan.
Namun, mengubah persediaan tersebut menjadi pasokan memerlukan waktu nyaris satu dekade. Perusahaan dapat menghabiskan sekitar lima tahun untuk melakukan pengeboran dan menilai cadangan, kemudian lima tahun berikutnya untuk memperoleh izin.
Akses terhadap persediaan uranium juga sensitif secara politik dan sosial. Di Australia Barat, tempat tidak ada proyek pertambangan uranium baru nan mendapat izin sejak 2017, sejumlah persediaan berada di bawah tanah nan mempunyai makna mendalam bagi masyarakat budaya Aborigin.
Sementara itu di Swedia, nan mempunyai sekitar 27% persediaan nan diketahui di Eropa, uranium belum dimanfaatkan maksimal. Di negara itu, uranium dan banyak terdapat dalam batuan serpih alum (alum shale), nan dapat melepaskan logam berat ke air tanah dan sungai jika terganggu.
Karena kekhawatiran lingkungan dan pertimbangan politik nan lebih luas, Swedia melarang pertambangan uranium pada 2018. Namun, ketika nilai listrik melonjak di Eropa, tekanan meningkat untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor, terutama dari Rusia, sekaligus memperkuat ketahanan energi.
Swedia kemudian mencabut larangan tersebut mulai Januari. Namun negara tetap mempertahankan pengawasan lingkungan.
Perburuan Baru di Laut Jepang hingga Alternatif China dan India
Karena persediaan uranium di daratan terkonsentrasi di sejumlah negara, Jepang mulai memandang laut sebagai sumber alternatif. Lautan diperkirakan mengandung uranium sekitar 500 hingga 1.000 kali lebih banyak dibandingkan persediaan uranium nan dapat diekstraksi di daratan.
Jumlah tersebut secara teori sangat besar. Bahkan, penelitian di Jepang menyebut uranium di laut berpotensi menopang pembangkit nuklir bumi selama puluhan ribu tahun.
Masalahnya, uranium di air laut mempunyai konsentrasi nan sangat rendah sehingga proses ekstraksinya tetap mahal. Para intelektual Jepang sekarang mengembangkan material unik nan dapat menangkap senyawa uranium dari air laut.
Material tersebut juga tengah diteliti agar dapat digunakan kembali acapkali sehingga biaya ekstraksi dapat ditekan. Jika teknologi ini sukses mencapai tingkat komersial, Jepang nan selama ini sangat berjuntai pada impor uranium berpotensi memperoleh sumber bahan bakar domestik alternatif.
Perburuan sumber daya nuklir juga mendorong pengembangan bahan bakar selain uranium. China, misalnya, tengah mengembangkan reaktor garam cair (molten salt reactor) berbahan bakar thorium, nan merupakan unsur radioaktif alami nan dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar nuklir.
China mengimpor lebih dari 80% kebutuhan uraniumnya sehingga pengembangan thorium menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energinya. China apalagi memperkirakan persediaan thorium domestiknya secara teori dapat memenuhi kebutuhan hingga sekitar 10.000 tahun.
India juga mempunyai persediaan thorium nan sangat besar dan menjadikannya bagian krusial dari strategi daya nuklir jangka panjang. Namun, teknologi thorium tetap memerlukan waktu sebelum dapat digunakan secara luas secara komersial.
Cari 'Obat Kuat" Nuklir di Bumi hingga ke Bulan
Perburuan "obat kuat" nuklir ini apalagi mulai mengarah ke luar Bumi. Para intelektual tengah mengembangkan daya fusi nuklir, teknologi nan meniru proses pembentukan daya di Matahari dengan menggabungkan inti atom.
Salah satu bahan bakar nan berpotensi digunakan dalam fusi adalah helium-3. Berbeda dengan reaksi fusi konvensional nan menggunakan deuterium dan tritium, helium-3 berpotensi menghasilkan daya dengan lebih sedikit produk radioaktif berumur panjang.
Masalahnya, helium-3 sangat langka di Bumi. Sebaliknya, unsur tersebut ditemukan dalam jumlah lebih besar di permukaan Bulan.
Misi China Chang'e-5 pada 2020 apalagi telah membawa sampel tanah Bulan ke Bumi nan mengandung helium-3. Kini, perusahaan asal AS tengah mengembangkan teknologi untuk mengekstraksi helium-3 dari debu Bulan.
Dengan demikian, perlombaan daya nuklir masa depan tidak hanya berangkaian dengan siapa nan mempunyai reaktor, tetapi juga siapa nan bisa menguasai sumber dan teknologi bahan bakarnya.
Dari tambang uranium di Kazakhstan dan Australia, ekstraksi uranium dari laut Jepang, pengembangan thorium di China dan India, hingga eksplorasi helium-3 di Bulan, bumi mulai mencari beragam langkah untuk memastikan kebutuhan daya di masa depan tetap terpenuhi.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·