Fenomena Jobless Boom: Ekonomi Tumbuh Pesat, Lapangan Kerja Menyusut

58 menit yang lalu 3
 Ekonomi Tumbuh Pesat, Lapangan Kerja Menyusut Ilustrasi.(Magnific)

CEO Stripe, Patrick Collison, baru-baru ini melakukan jajak pendapat terhadap 1,5 juta pengikutnya di platform X mengenai prospek ekonomi masa depan. Hasilnya cukup mengejutkan: dari sekitar 13.000 responden, rata-rata mereka memperkirakan pertumbuhan ekonomi bakal berlipat dobel menjadi 4,3% dalam lima tahun ke depan. Namun di sisi lain, penyerapan tenaga kerja diprediksi ambruk sekitar 8%.

Fenomena ini sering disebut sebagai skenario AI-optimist. Dalam pandangan ini, kecerdasan buatan (AI) diyakini bisa meningkatkan output ekonomi secara masif sekaligus membikin puluhan juta pekerja menjadi redundan alias tidak lagi dibutuhkan. Meski prediksi penurunan tajam lapangan kerja saat ekonomi meroket jarang terjadi dalam sejarah, arah tren saat ini menunjukkan bahwa kejadian jobless boom bukan lagi sekadar teori, melainkan realitas nan mulai terasa.

Kontradiksi GDP dan Pasar Saham

Secara administratif, nomor pertumbuhan ekonomi (GDP) Amerika Serikat tidak terlihat terlalu istimewa dengan rata-rata pertumbuhan riil 2,1% selama setahun terakhir. Namun, pasar saham menunjukkan gambaran nan sangat berbeda. Indeks saham melonjak 13% tahun ini, menembus rekor meskipun dihantam rumor tarif, perang, dan kenaikan nilai minyak.

Ada dua penjelasan utama atas diskoneksi ini. Pertama, kemungkinan ada gelembung (bubble). Kedua, pasar saham sedang memprediksi masa depan berupa pertumbuhan bakal terakselerasi secara eksponensial. Menariknya, info FactSet menunjukkan bahwa untung perusahaan tumbuh lebih sigap daripada nilai saham itu sendiri. Jika mengecualikan Amazon dan Alphabet, untung perusahaan pada kuartal kedua melonjak hingga 32%.

AI bukan Satu-satunya Pendorong

Lonjakan ini sebagian besar didorong oleh permintaan prasarana AI, seperti pusat info dan cip komputer. Namun, Bank of America mencatat bahwa tren ini mulai meluas ke sektor nonteknologi.

Pertumbuhan untung median perusahaan S&P 500 meningkat menjadi 13% dari sebelumnya 8% pada dua tahun lalu. Sektor perbankan dan perusahaan mini nan sensitif terhadap siklus upaya juga mulai mencatatkan kenaikan signifikan.

Deutsche Bank mengungkapkan bahwa istilah berbasis luas (broad-based) semakin sering muncul dalam laporan pendapatan perusahaan. Ini menandakan bahwa permintaan nan solid dan efisiensi operasional sedang terjadi di beragam lini industri, bukan hanya di sektor teknologi tinggi.

Sisi Gelap: Lesunya Penyerapan Tenaga Kerja

Di kembali rekor untung tersebut, terdapat anomali pada sektor ketenagakerjaan. Data menunjukkan bahwa total jumlah pekerja dalam penggajian (payrolls) menyusut pada Juli lalu, menandai penurunan kelima kali dalam 12 bulan terakhir. Pertumbuhan pekerja di sektor swasta hanya rata-rata 50.000 per bulan selama setahun terakhir, tren nan biasanya hanya terjadi saat masa resesi.

Mengapa nomor pengangguran tetap stabil di kisaran 4%? Para mahir menilai perihal ini disebabkan oleh aspek demografi:

  • Menyusutnya angkatan kerja lantaran generasi baby boomers nan mulai pensiun.
  • Menurunnya arus imigrasi nan membatasi pasokan tenaga kerja baru.

Meskipun nomor pengangguran rendah, permintaan bakal tenaga kerja tetap lesu. Data dari Indeed menunjukkan lowongan kerja berada pada titik terendah pascapandemi. Selain itu, pertumbuhan bayaran tahunan hanya sebesar 3,2%, nomor terendah sejak sebelum pandemi, nan mengindikasikan bahwa pemberi kerja tidak lagi garang memperebutkan talenta.

Keberlanjutan Tren

Banyak aspek nan bisa mengganggu skenario jobless boom ini. Permintaan konsumen nan tetap kuat sejauh ini didorong oleh penurunan tingkat tabungan rumah tangga, bukan kenaikan upah. Selain itu, investasi swasta sangat berjuntai pada utang ratusan miliar dolar untuk membiayai pusat info AI. Kedua perihal ini tidak bisa berjalan selamanya.

Namun, untuk saat ini, momentum tersebut tetap terus berjalan. Jika AI bisa mewujudkan sebagian mini saja dari apa nan diharapkan para optimis, maka struktur ekonomi dunia mungkin bakal betul-betul berubah menjadi sistem nan menghasilkan kekayaan melimpah dengan keterlibatan manusia nan semakin minim. (The Wall Street Journal/I-2)

Selengkapnya