loading...
Faozan Amar, Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA. Foto/SIndoNews
Faozan Amar
Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA
DI tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan meningkatnya kehati-hatian finansial rumah tangga, muncul kejadian menarik nan dikenal sebagai lipstick effect. Istilah nan dipopulerkan oleh Leonard Lauder, Chairman Estée Lauder pada 2001 ini menggambarkan kecenderungan psikologis konsumen untuk tetap mengalokasikan uangnya pada barang-barang tersier berskala mini nan memberikan kepuasan emosional instan, meskipun kondisi finansial sedang tertekan.
Ketika keputusan membeli aset besar seperti rumah, kendaraan, alias peralatan elektronik kudu ditunda, masyarakat justru mempertahankan shopping untuk produk terjangkau seperti kosmetik, kopi kekinian, perawatan diri, hingga langganan intermezo digital.
Fenomena ini kian nyata di Indonesia. Laporan Survei Konsumen Bank Indonesia (Juni 2026) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 123,4. Angka ini mencerminkan kondisi optimis, namun menyimpan pergeseran alokasi pengeluaran nan signifikan. Porsi pendapatan untuk konsumsi harian dan individual care tetap stabil, sementara porsi tabungan serta alokasi investasi peralatan modal condong menurun.
Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2025) mempertegas realitas tersebut dengan mencatat bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung utama Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi sebesar 53,08 persen. Maknanya, masyarakat tidak menghentikan arus belanjanya secara total, melainkan melakukan diversifikasi logis dengan mengalihkan preferensi pada produk terjangkau nan menawarkan pengaruh psikologis positif.
Sinyal Dini dan Pergeseran Nilai Konsumen









English (US) ·
Indonesian (ID) ·