Ilustrasi(Dok Istimewa)
Semangat perjuangan, harapan, persatuan, dan kecintaan terhadap Tanah Air diangkat melalui movie pendek musikal “Di Bawah Langit Timur”, sebuah karya nan mengambil kisah dari pedalaman Papua dan dipersembahkan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mengambil latar di Distrik Wamena, Papua Selatan, movie nan disutradarai Abet Fahmi tersebut mengikuti perjalanan Libo, seorang anak Papua dari pedalaman menuju sebuah upacara bendera. Perjalanan Libo menjadi pintu masuk untuk mengangkat kisah tentang perjuangan, harapan, dan kecintaan kepada Indonesia sekaligus menghadirkan perspektif Timur dalam memandang makna kemerdekaan.
Melalui keterangannya hari ini, Abet Fahmi mengatakan Papua sengaja dipilih sebagai letak cerita untuk menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai bentang kehidupan dan kisah nan sangat luas.
“Saya pilih Papua lantaran mau menunjukkan bahwa Indonesia itu seluas cerita nan kita punya. Papua bukan hanya soal tempat nan indah, tapi soal manusia dan cerita di sana nan layak didengar. Apalagi movie ini datang di momen kemerdekaan. Buat saya, kemerdekaan itu kudu dirasakan sebagai milik semua orang, dari Sabang sampai Merauke,” ungkap Abet.
Menurut Abet, kehadiran Papua dalam movie tersebut bukan sekadar sebagai latar visual. Masyarakat, karakter, dan kehidupan di Papua menjadi bagian krusial untuk memperlihatkan wajah Indonesia dari perspektif nan selama ini tidak selalu mendapatkan ruang dalam cerita-cerita arus utama.
Utamakan Pemeran Asli Papua
Pendekatan serupa diterapkan dalam proses casting. Abet sejak awal menginginkan pemeran utama merupakan anak Papua original nan memang tinggal di Papua. Ia tidak menjadikan ketenaran sebagai pertimbangan utama. Karakter dan kecocokan dengan cerita menjadi dasar pemilihan pemeran Libo.
“Saat saya bikin cerita ini, saya tidak mengenal mereka, saya mau nan memerankan ini anak Papua original dan memang tinggal di sana, lantaran saya mengejar sesuatu nan organik. Saya memilih Libo bukan lantaran Libo berasal dari media sosial, tapi lantaran saya memandang ada karakter nan sesuai dengan nan kami cari di cerita ini,” ujar Abet.
Pilihan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kejujuran cerita. Kehadiran pemeran lokal diharapkan membikin karakter nan ditampilkan terasa lebih natural dan dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Namun, pendekatan itu juga menghadirkan tantangan tersendiri. Sebagian pemeran sebelumnya terbiasa membikin konten, sehingga kudu beradaptasi dengan tuntutan bermain sebagai karakter dalam sebuah film.
“Tantangannya tentu mengubah kebiasaan membikin konten menjadi bermain sebagai karakter. Di movie kita nggak bisa sekadar menjadi diri sendiri. Tapi justru kejujuran dan sesuatu nan natural dari mereka itu nan mau saya pertahankan,” tambahnya.
Abet menilai spontanitas dan karakter alami pemeran lokal justru menjadi kekuatan nan perlu dipertahankan selama proses produksi.
Kemerdekaan sebagai Rumah Bersama
Lebih jauh, “Di Bawah Langit Timur” tidak dimaksudkan untuk menggambarkan persatuan sebagai keseragaman. Film ini justru membawa pesan bahwa Indonesia dapat menjadi satu kesatuan tanpa kudu menghilangkan identitas dan keberagaman setiap daerah. Abet berambisi penonton dapat memandang Indonesia sebagai rumah berbareng nan dibangun dari banyak budaya, bahasa, tradisi, dan cerita.
“Saya berambisi kita bisa semakin memandang Indonesia sebagai satu kesatuan tanpa merasa kudu menjadi sama. Kita boleh berbeda, punya cerita dan budaya masing-masing, tapi tetap punya rumah nan sama,” tukasnya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan lantaran movie mengambil cerita dari Papua dan menempatkannya dalam momentum peringatan kemerdekaan Indonesia. Selain menjadi persembahan untuk HUT ke-81 RI, Abet berambisi karya ini dapat membuka ruang lebih luas bagi cerita dari beragam wilayah nan selama ini belum banyak terdengar di industri imajinatif nasional.
“Saya berambisi semakin banyak cerita dari daerah-daerah nan selama ini jarang kita dengar bisa punya ruang. nan terpenting dari semua itu semoga Papua bisa menjadi tempat nan kondusif bagi masyarakatnya,” pungkasnya.
Persembahan untuk Indonesia
Dari sisi produksi, Executive Producer Ulta Levenia mengatakan “Di Bawah Langit Timur” dirancang sebagai persembahan imajinatif untuk memperingati HUT ke-81 RI. Film ini diharapkan dapat membujuk masyarakat memandang kembali makna kemerdekaan dari perspektif nan lebih luas. Indonesia, kata dia, tidak hanya dibangun melalui cerita dari pusat-pusat kota, tetapi juga melalui kehidupan masyarakat di pedalaman dan beragam penjuru Nusantara.
Dengan menggabungkan cerita, visual Papua, dan musik, movie tersebut mencoba menghadirkan pengalaman sinematik nan tidak hanya berbincang tentang perjuangan seorang anak menuju upacara bendera, tetapi juga tentang gimana kecintaan terhadap Tanah Air tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Kekuatan lain “Di Bawah Langit Timur” datang melalui original soundtrack (OST) “Fajar Indonesia” nan digarap Penata Lagu Sastro Adi. Sastro menjelaskan, musik tersebut berangkat dari Mantra Mukaddimah Fajar Indonesia.
“Matahari su terbit, Nafasku su di sucikan, Cinta par tanah airku, Sa rela jalan sampai tujuan,” jelasnya.
Mantra tersebut menjadi fondasi musikal sekaligus pendapat utama soundtrack. Cinta kepada Tanah Air dianalogikan seperti mentari nan tidak memerlukan argumen untuk menyinari Ibu Pertiwi. Selama napas tetap dikandung badan, manusia semestinya terus berkhidmat bagi negeri.
Karena itu, “Fajar Indonesia” tidak ditempatkan sekadar sebagai lagu pengiring. Musik tersebut membawa refleksi tentang nasionalisme, pengabdian, persaudaraan, dan kesinambungan perjuangan Indonesia dari satu generasi ke generasi berikutnya. Puncak pesannya adalah kesadaran untuk bersedia menjalani peran sebagai anak bangsa, apa pun tantangan nan dihadapi.
Rangkai Falsafah dari Berbagai Penjuru Nusantara
Sastro merangkai lirik “Fajar Indonesia” dari beragam falsafah dan ungkapan budaya Nusantara. Nilai Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge dari Bugis-Makassar dipertemukan dengan Sipamandar dan Siamasei dari Mandar. Kemudian datang falsafah Dayak Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata, serta nilai Banjar Baiman, Baadab, Bauntung, Batuah.
Dari Jawa terdapat falsafah Memayu Hayuning Bawana, sementara Sunda menghadirkan Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh. Nilai Minangkabau diwakili ungkapan Dima bumi dipijak, di siko langik dijunjuang, sedangkan Batak menghadirkan Dalihan Na Tolu.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa pesan persatuan dalam “Fajar Indonesia” dibangun dari kekayaan nilai nan hidup di beragam penjuru Nusantara. Dengan demikian, musik menjadi jembatan nan mempertemukan beragam kearifan lokal dalam satu pesan kebangsaan.
Sastro mengatakan proses imajinatif “Fajar Indonesia” berjalan secara organik dan kolaboratif. Ia sejak awal tidak mempunyai ekspektasi mengenai siapa nan kudu membawakan lagu tersebut. Lirik juga tidak lahir dalam satu waktu, melainkan mengalir selama sekitar delapan hari, dengan sumber pendapat utama tetap berasal dari Mantra Mukaddimah Fajar Indonesia.
Proses produksi movie pun tidak dipandang semata sebagai proyek kerja, melainkan seperti jam session bersama. Sutradara terbuka terhadap beragam ide, produser memberikan ruang dan apresiasi, sementara setiap personil tim mendalami keahliannya masing-masing. Proses tersebut dibiarkan mengalir secara natural hingga menghasilkan karya bersama.
Bagi Sastro, proses imajinatif nan organik justru memungkinkan pesan nan mau disampaikan melalui musik terasa lebih jujur.
Nasionalisme Dari Kesadaran Diri
Bagi Sastro, kecintaan kepada Indonesia tidak semestinya dimulai dengan menuntut perubahan dari orang lain. Nasionalisme justru berasal dari kesadaran pribadi. Ia menyampaikan angan tersebut melalui refleksi nan menjadi salah satu inti emosional “Fajar Indonesia”.
“Saya tidak pernah berambisi apapun kepada Indonesia, justru saya berambisi kepada diri saya agar senantiasa diberikan kesadaran bahwa mencintai Indonesia adalah tujuan saya dilahirkan. Demikian titik dan tidak pakai koma.”
Pesan tersebut menempatkan nasionalisme bukan sekadar semboyan dalam seremoni kemerdekaan, melainkan kesadaran dan pilihan hidup untuk terus memberikan pengabdian kepada negeri.
Pada akhirnya, “Di Bawah Langit Timur” berupaya membawa satu pesan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah milik seluruh rakyat, termasuk mereka nan hidup jauh dari pusat kekuasaan dan hiruk-pikuk kota.
Dari pedalaman Papua, kisah Libo bergerak menuju upacara bendera. Dari kisah seorang anak, movie ini kemudian berbincang tentang sebuah bangsa. Sebuah kisah dari Timur, tentang Indonesia, untuk seluruh Indonesia.
Film Pendek Musikal "Di Bawah Langit Timur" dapat diakses melalui link kanal YouTube.(H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·