Ilustrasi.(Magnific)
AMERIKA Serikat dan Iran secara resmi melewatkan tenggat waktu 60 hari pada Senin (17/8) untuk mencapai kesepakatan pembatasan program nuklir Iran. Kegagalan ini menandai runtuhnya gencatan senjata nan disepakati pada Juni lalu, sekaligus mempertegas kebuntuan janji Presiden Donald Trump untuk mengakhiri bentrok bersenjata tersebut.
Nota kesepahaman (MoU) nan diumumkan Trump dengan meriah dua bulan lampau terbukti berumur pendek. Perjanjian tersebut kandas membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran daya vital nan diblokade Iran sejak akhir Februari setelah serangan oleh Israel dan Amerika Serikat. Konflik ini sekarang memasuki bulan keenam tanpa tanda-tanda penyelesaian diplomatik.
Meskipun berakhirnya tenggat waktu ini dianggap simbolis lantaran kedua belah pihak menyatakan kesepakatan tersebut mati dalam beberapa pekan terakhir, momen ini menunjukkan kesulitan Trump dalam mencapai tujuan perangnya. Upaya memaksa Iran menghentikan ambisi nuklirnya justru membikin pemerintah Iran merasa di atas angin, nan meningkatkan akibat konfrontasi militer lebih lanjut.
Perang Ekonomi dan Blokade Jalur Energi
Analis menilai kedua negara sekarang tengah bersiap untuk kampanye atrisi ekonomi jangka panjang nan berisiko memicu perang terbuka. Iran terus menggunakan kendalinya atas Selat Hormuz untuk mencekik pasar daya global, memberikan tekanan besar pada pemerintahan Trump.
Sebagai respons, pemerintahan Trump mencabut kembali pengecualian hukuman (sanctions waivers) atas minyak Iran nan sempat diberikan selama masa gencatan senjata singkat. Pasukan AS juga kembali memberlakukan blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran dengan angan tekanan ekonomi bakal memaksa Teheran memberikan konsesi.
“Republik Islam mencoba memberikan tekanan ekonomi pada Amerika dan Amerika mencoba melakukan perihal nan sama pada Republik Islam,” ujar Behnam Ben Taleblu, master Iran dari Foundation for Defense of Democracies. Ia memperingatkan bahwa meskipun kampanye ekonomi AS efektif, kepemimpinan ustadz Iran kemungkinan besar bakal merespons dengan eskalasi militer lebih lanjut.
Kegagalan Diplomasi dan Risiko Eskalasi
Perjanjian Juni lampau dikritik lantaran hanya bermaksud gencatan senjata sigap sembari menunda masalah-masalah pelik ke negosiasi masa depan. Para analis beranggapan bahwa bahasa nan ambigu dalam perjanjian tersebut justru menguntungkan Iran dan menunjukkan upaya Trump untuk keluar dari perang nan semakin tidak terkenal menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada November mendatang.
Di lapangan, gencatan senjata tersebut goyah nyaris seketika. Pejabat Iran menggunakan ambiguitas teks perjanjian untuk mengeklaim bahwa kapal-kapal tertentu melintasi Selat Hormuz tanpa izin yang berujung pada tindakan penembakan. Pasukan AS membalas dengan membombardir wilayah selatan Iran, menciptakan siklus serangan jawaban nan terus berulang.
Catatan Konflik: Eskalasi ini sempat membikin Presiden Trump mempertimbangkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran setidaknya dalam dua kesempatan. Namun, rencana tersebut dibatalkan setelah ada desakan dari sekutu regional seperti Arab Saudi serta peringatan dari penasihat Gedung Putih mengenai menipisnya stok amunisi kritis.
Kini, dengan berakhirnya masa bertindak kesepakatan, bumi internasional memantau dengan resah apakah persaingan ekonomi ini bakal meledak menjadi bentrok bersenjata skala penuh di salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia. (New York Times/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·