Angry Birds menjadi kejadian dunia sejak dirilis Rovio pada 2009. Simak perjalanan game burung pemarah dari smartphone hingga menjadi budaya pop.(The Guardian)
BAGI generasi nan pernah menggunakan ponsel di awal era smartphone, Angry Birds tentu bukan nama asing. Game nan mempertemukan burung-burung pemarah dengan babi hijau ini sempat menjadi kejadian dunia dan membuktikan bahwa permainan sederhana di ponsel bisa berkembang menjadi budaya pop.
Angry Birds dikembangkan Rovio Entertainment pada 2009. Ide awalnya berasal dari desainer Jaakko Iisalo nan menggambar sekumpulan burung dengan corak bulat, paruh dan alis nan terlihat marah.
Konsep awal permainan rupanya berbeda dari jenis nan dikenal sekarang lantaran belum menggunakan ketapel. Burung hanya dibuat melompat menuju bangunan. Setelah diuji, tim menyadari pemain memerlukan sistem nan lebih mudah dipahami, hingga akhirnya muncul ketapel.
Game tersebut kemudian dirilis untuk perangkat mobile dan mulai mencuri perhatian setelah Apple menampilkannya di laman depan App Store. Hanya dalam beberapa bulan, ketenaran Angry Birds meningkat drastis.
Pada April 2010, game tersebut apalagi sukses menduduki posisi teratas di tangga aplikasi Amerika Serikat sebelum menjadi game nomor satu di App Store.
Merambah Ponsel Jadul
Kesuksesan Angry Birds tidak hanya berjuntai pada smartphone. Pada 2011, Rovio menggandeng Nokia untuk menghadirkan game tersebut pada Series 40, lini feature phone nan terkenal di beragam negara berkembang.
Langkah ini membuka kesempatan bagi Angry Birds untuk menjangkau pasar seperti India, China dan Amerika Latin.
Saat itu, Rovio telah mencatat sekitar 400 juta unduhan, sekaligus memandang potensi besar dari pengguna ponsel nan belum menggunakan smartphone.
Bukan Sekadar Game
Popularitas Angry Birds kemudian berkembang menjadi upaya hiburan. Pada 2012, jumlah unduhan seluruh seri Angry Birds telah mencapai lebih dari 700 juta.
Rovio juga memperluas karakter burung dan babi hijau ke beragam produk seperti boneka, buku, permainan papan dan merchandise.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Angry Birds bukan lagi sekadar game mobile, melainkan telah menjadi sebuah merek dunia nan bisa menjangkau pemain maupun orang nan sebelumnya tidak menganggap dirinya sebagai gamer.
Kini, Angry Birds menjadi salah satu simbol krusial era awal mobile gaming. Dari layar ponsel sederhana hingga ekosistem intermezo nan lebih luas, perjalanan burung-burung pemarah ini memperlihatkan gimana game dengan sistem sederhana dapat memperkuat dalam ingatan publik selama lebih dari satu dekade.
Bagi pemain lama, bunyi ketapel nan ditarik, burung melayang dan gedung babi nan runtuh mungkin tetap menjadi nostalgia tersendiri.
Sementara bagi generasi baru, Angry Birds menjadi pengingat bahwa sebelum game mobile dipenuhi skematis kompleks dan sistem multiplayer, sebuah ketapel sederhana sudah cukup untuk membikin bumi sibuk bermain. (The Guardian/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·