Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap China. Trump mengisyaratkan bahwa Washington dapat menjatuhkan hukuman terhadap bank-bank China nan dinilai membantu Iran menghindari hukuman AS.
Ancaman tersebut muncul ketika pejabat AS dan China tengah mempersiapkan kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS dalam beberapa pekan mendatang. Mengutip CNBC International, Jumat (28/8/2026), Trump mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintahannya dapat menjatuhkan hukuman terhadap bank China.
"Saya tidak kudu mengumumkan semuanya," ujar Trump ketika ditanya mengenai kemungkinan hukuman tersebut.
Pernyataan Trump muncul setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya memperingatkan bahwa bank-bank China nan menjadi bagian dari jaringan finansial nan membantu Iran menjual minyak dan mengubah hasil penjualannya menjadi duit dapat menjadi sasaran hukuman Washington.
Ancaman tersebut merupakan bagian dari kampanye nan disebut Trump sebagai "economic D-Day" terhadap Iran. AS sekarang berupaya memberikan tekanan ekonomi terhadap Teheran dengan menargetkan negara dan perusahaan nan tetap melakukan upaya dengan Iran.
Bank China Jadi Sasaran
Jika betul diterapkan, hukuman terhadap bank China dapat menjadi langkah signifikan lantaran berpotensi menyentuh sektor finansial nan menjadi salah satu fondasi hubungan ekonomi kedua negara. Namun, hingga saat ini belum ada rincian mengenai bank mana nan bakal menjadi sasaran ataupun corak hukuman nan bakal diterapkan.
Peneliti pascadoktoral di Center for International Security and Strategy (CISS), Tsinghua University, Jodie Wen, mengatakan pernyataan Bessent sejauh ini lebih terlihat sebagai sebuah peringatan. Menurutnya, belum banyak perincian mengenai tindakan spesifik nan bakal diambil AS terhadap lembaga finansial China.
Tekanan Washington terhadap Beijing juga datang ketika hubungan kedua negara sebenarnya tengah memasuki fase nan lebih terkendali. Wen menilai pertemuan Trump dan Xi pada Mei lampau menunjukkan adanya pergeseran menuju "persaingan terkendali", bukan lagi pendekatan nan memandang China sebagai musuh strategis seperti pada era pemerintahan Joe Biden.
Respons China
Di tengah ancaman baru dari Washington, pemerintah China sejauh ini memberikan respons nan relatif hati-hati. Beijing mengatakan bakal mengambil "semua langkah nan diperlukan" untuk melindungi kepentingannya, tetapi tidak menjelaskan secara rinci tindakan apa nan mungkin dilakukan.
Ketika ditanya mengenai komunikasi dengan AS mengenai Iran, ahli bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan tidak ada info nan dapat dibagikan. Namun, China mengonfirmasi bahwa Beijing dan Washington tetap melakukan pembicaraan mengenai rencana pertemuan Trump dan Xi.
Duta Besar AS untuk China David Perdue juga berjumpa dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan sejumlah pejabat China lainnya. Pertemuan tersebut membahas persiapan kunjungan kenegaraan Xi ke Washington. Trump sendiri mengatakan Xi bakal datang ke AS dalam beberapa pekan mendatang.
Perang Ekonomi Belum Usai
Sementara itu, Direktur China Center sekaligus Chair in Taiwan Studies di Brookings Institution, Ryan Hass, menilai Beijing kemungkinan memandang ancaman hukuman terbaru AS sebagai langkah nan lebih berkarakter simbolis.
Menurutnya, kurangnya persiapan nan terlihat sebelum pengumuman "economic D-Day" dapat membikin China menilai langkah tersebut lebih banyak berkarakter pagelaran politik daripada persiapan untuk tindakan besar.
Hass juga menilai gencatan senjata perdagangan (trade truce )antara AS dan China kemungkinan tetap bakal bertahan. Pasalnya, menurut dia, pengganti berupa eskalasi bentrok ekonomi nan lebih besar justru bakal merugikan kedua negara.
Di sisi lain, China mempunyai sistem norma nan memungkinkan perusahaan domestiknya menghadapi dilema ketika berurusan dengan hukuman AS. Managing Director China di The Asia Group dan mantan pelaksana Wells Fargo Bank di China, Han Shen Lin, mengatakan sistem tersebut pada dasarnya mengharuskan perusahaan China berhadapan dengan patokan bank asing nan tunduk pada norma AS.
Namun, ketika berada di wilayah China, norma Beijing tetap menjadi prioritas. Situasi ini menunjukkan rumitnya hubungan AS-China. Di satu sisi, Washington terus menggunakan tekanan ekonomi dan ancaman hukuman untuk membatasi support China terhadap Iran.
Di sisi lain, kedua negara tetap menjaga jalur komunikasi dan mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Xi. Dengan pertemuan kedua pemimpin nan semakin dekat, ancaman terhadap bank-bank China berpotensi menjadi salah satu rumor sensitif nan kudu dinegosiasikan oleh Washington dan Beijing.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]

59 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·