Geger Presiden Surati Raja Inggris, Minta Emas 30 Ton Segera Dicairkan

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah sementara Venezuela meminta Raja Charles III untuk melepaskan sekitar 30 ton persediaan emas negara nan tersimpan di Bank of England (BoE). Aset nan selama ini dibekukan akibat hukuman Inggris itu diharapkan dapat digunakan untuk membiayai rekonstruksi pasca gempa luar biasa nan mengguncang negara tersebut pada 24 Juni.

Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez mengatakan dirinya telah mengirim surat resmi kepada Raja Charles III. Ia memohon emas tersebut dapat dicairkan demi membantu rakyat nan terdampak bencana.

"Emas itu milik rakyat kita dan kudu digunakan untuk mengatasi akibat mengerikan dan tragis dari dua gempa bumi ini," kata Rodríguez dalam konvensi video dengan para pejabat nan menangani kamp-kamp pengungsian, dikutip laman myanmaritv, Jumat (10/7/2026).

Rodríguez menegaskan pemerintah juga tengah mengupayakan pemulihan beragam aset Venezuela nan dibekukan di luar negeri. Menurutnya, negara mempunyai sumber daya finansial nan semestinya dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak gempa nan telah menewaskan sedikitnya 3.800 orang serta menghancurkan puluhan gedung dan membikin ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal.

Selain menyurati Raja Charles III, Rodríguez mengungkapkan dirinya sedang berbincang dengan Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva. Ini juga untuk mencairkan sekitar US$3,568 miliar alias sekitar Rp63,85 triliun dalam corak Hak Penarikan Khusus (Special Drawing Rights alias SDR) milik Venezuela nan tetap tertahan.

Cadangan emas Venezuela sendiri hingga sekarang tetap berada di Bank of England. Sebelumnya, pengadilan Inggris menolak pengalihan kendali aset tersebut kepada pemerintahan Nicolás Maduro setelah memutuskan tidak mengakui pemerintahannya sebagai otoritas nan sah.

Rodríguez, nan menjabat sebagai presiden sementara sejak Januari setelah Maduro ditangkap oleh pasukan militer Amerika Serikat, kembali menyerukan agar hukuman terhadap Venezuela dicabut. Menurutnya, pencairan aset negara menjadi kunci untuk mempercepat pembangunan kembali wilayah nan hancur akibat gempa.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Venezuela Iván Gil juga mendesak pembebasan seluruh aset negara nan dibekukan di luar negeri saat berjumpa secara virtual dengan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).

"Kami mempunyai rekening milik negara Venezuela di beragam bagian bumi nan telah dibekukan sebagai akibat dari hukuman ilegal," ujar Gil.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan Tom Fletcher mengatakan skala kerusakan memaksa PBB meluncurkan permohonan biaya darurat sebesar US$296 juta (sekitar Rp5,30 triliun) guna mendukung operasi kemanusiaan di Venezuela.

Sejumlah negara dan lembaga internasional juga telah menggelontorkan bantuan. Total komitmen support internasional dilaporkan telah melampaui US$600 juta (sekitar Rp10,74 triliun). Amerika Serikat sendiri menjanjikan lebih dari US$386 juta (sekitar Rp6,91 triliun) dalam corak support kemanusiaan, termasuk lebih dari 400 metrik ton logistik berupa makanan, perlengkapan kebersihan, dan kebutuhan tempat penampungan nan disalurkan melalui Palang Merah, UNICEF, dan Program Pangan Dunia PBB.

Meski demikian, kebutuhan pendanaan tetap sangat besar. PBB memperkirakan total kerusakan bentuk akibat gempa mencapai sekitar US$37 miliar (sekitar Rp662,3 triliun), sehingga support internasional nan telah diterima sejauh ini baru cukup untuk memenuhi kebutuhan tanggap darurat, seperti jasa kesehatan dan tempat penampungan sementara bagi para korban.

(tfa/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya