Gempa M7,7 Flores Picu Longsoran Masif di Jalur Trans-Flores

57 menit yang lalu 2
Gempa M7,7 Flores Picu Longsoran Masif di Jalur Trans-Flores Longsoran batu pascagempa menutup total jalan di wilayah Kabupaten Manggarai Barat(Dok Plan Indonesia )

GEMPA bumi bermagnitudo (M) 7,7 nan mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 memicu longsoran masif di sepanjang jalur strategis Ende, Nagekeo, Bajawa, hingga Maumere. Longsoran terjadi akibat kombinasi kerentanan pengetahuan bumi lokal dan besarnya daya seismik nan dilepaskan. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan, kondisi pengetahuan bumi Flores membikin sejumlah wilayah rentan mengalami longsor ketika diguncang gempa kuat.

“Gempa bumi bermagnitudo M7,7 nan mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 memicu longsoran masif di sepanjang jalur strategis Ende, Nagekeo, Bajawa, hingga Maumere akibat kombinasi antara kerentanan pengetahuan bumi lokal dan besarnya daya seismik nan dilepaskan,” kata Daryono, Rabu (19/8).

Menurut dia, Pulau Flores didominasi batuan vulkanik muda dan endapan piroklastik seperti tuf dan aglomerat nan telah mengalami pelapukan lanjut.

"Material tanah dan batuan pelapukan ini mempunyai struktur rentan serta kuat geser nan rendah, sehingga sangat tidak stabil ketika menerima guncangan bergerak secara mendadak,” ujarnya.

Kerentanan tersebut diperparah morfologi Flores nan didominasi pegunungan dan lereng terjal dengan kemiringan ekstrem. Selain itu, pemotongan lereng untuk pembangunan jalur jalan nasional Trans-Flores turut mengurangi tumpuan di bagian bawah tebing dan meningkatkan style pendorong gravitasi.

"Pemotongan lereng untuk jalur jalan nasional Trans-Flores secara alami mengurangi tumpuan bawah tebing dan memperbesar style pendorong gravitasi,” kata Daryono.

Saat gempa M7,7 terjadi, kuatnya percepatan tanah dan lama guncangan nan berjalan lama turut merusak ikatan kohesi antarbutir tanah. Kondisi tersebut memicu runtuhan lereng di beragam titik.

“Ketika gempa M7,7 terjadi, nilai percepatan tanah maksimum terlampaui secara drastis, sementara lama guncangan nan berjalan lama merusak ikatan kohesi antarbutir tanah hingga memicu runtuhan lereng serentak di beragam titik,” jelasnya.

Daryono juga menjelaskan gelombang seismik dapat mengalami pembesaran akibat pengaruh tapak lokal pada lapisan tanah lunak dan kejadian amplifikasi topografi.

“Gelombang gempa memantul serta terkonsentrasi di area puncak bukit dan tebing, membikin guncangan di bagian atas lereng jauh lebih kuat daripada area lembah,” ujarnya.

Guncangan siklik tersebut kemudian dapat menghilangkan daya dukung material tanah dan batuan sehingga memicu runtuhan dalam jumlah besar.

“Guncangan siklik nan seketika menghilangkan daya dukung material dan meruntuhkan ribuan ton tanah serta batuan hingga menutupi akses jalan utama,” kata Daryono.

Kondisi itu menunjukkan akibat gempa terhadap longsor tidak hanya dipengaruhi kekuatan gempa, tetapi juga karakter geologi, kemiringan lereng, kondisi tanah, serta perubahan morfologi akibat pembangunan infrastruktur. (E-4)

Selengkapnya