Jakarta, CNBC Indonesia - Gempa berkekuatan Mw7,4 mengguncang Kolombia pada Senin (10/8/2026). Gempa tersebut mengakibatkan ribuan gedung hancur dan menewaskan sedikitnya 250 orang.
Badan mengenai mengungkap gempa tersebut disebabkan oleh deformasi internal alias patahan di dalam Lempeng Nazca nan sedang menunjam ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan. Dalam bahasa teknis, peristiwa ini dikenal sebagai gempa intraslab, ialah gempa nan terjadi di dalam tubuh lempeng nan sedang menunjam, tapi bukan pada bagian pertemuan dua lempeng alias area megathrust.
Menurut Daryono dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Indonesia juga pernah mengalami gempa dengan proses nan serupa, ialah Gempa Padang-Pariaman berkekuatan Mw7,6 nan terjadi pada 30 September 2009.
"Tampaknya Gempa Padang-Pariaman 2009 tetap menjadi gempa intra-slab nan terkuat di dunia, dengan korban jiwa meninggal 1.117 orang dan 2.180 orang terluka," ungkap Daryono, dalam keterangan nan diperoleh CNBC Indonesia, dikutip Rabu (12/8/2026).
Sejarah mencatat, Gempa Padang-Pariaman terjadi pada 30 September 2009 pukul 17.16 WIB. Berdasarkan catatan BPBD Kota Padang, gempa berkekuatan Mw7,6 tersebut mengguncang wilayah Sumatra Barat dengan episentrum sekitar 50 kilometer barat laut Kota Padang dan hiposenter sekitar 71 kilometer.
Hanya dalam waktu 41 detik, sebagian besar wilayah Sumatra Barat merasakan guncangan hebat. Bangunan nan tidak bisa menahan guncangan pun langsung ambruk. Kondisi ini disaksikan langsung oleh salah satu korban bernama Anuar.
Kepada Yayasan Tzu Chi, Anuar bercerita banyak gedung runtuh saat gempa, termasuk tempat pengarahan belajar nan didatangi anaknya, Adit. Saat tiba di lokasi, dia memandang gedung tersebut sudah porak-poranda. Lantai dasarnya telah runtuh, sementara lantai dua dan tiga turun ke bawah dalam kondisi tak berbentuk.
Ketika tim pemindahan tiba, orang tua para siswa berbareng penduduk menemukan Adit tetap dalam kondisi sadar. Namun, kakinya tertimpa bagian gedung nan runtuh hingga akhirnya kudu diamputasi.
Lantas, Mengapa Guncangannya Bisa Sangat Kuat?
Menurut Daryono, salah satu aspek nan memengaruhi proses terjadinya gempa tersebut adalah style tarik lempeng ke bawah alias slab pull, serta tekanan akibat tekukan lempeng alias bending stress. Perubahan kondisi di dalam lempeng nan menunjam, termasuk proses dehidrasi mineral, dapat memicu patahan dan pelepasan daya dalam jumlah besar.
Pada Gempa Padang-Pariaman, patahan terjadi di dalam Lempeng Samudra Indo-Australia nan menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Sumber gempa berada pada kedalaman menengah, sekitar 80 hingga 90 kilometer.
Meski berada cukup dalam, karakter batuan pada lempeng samudra nan padat dan kaku membikin gelombang seismik dapat merambat dengan kuat. Akibatnya, guncangan nan sampai ke permukaan dapat terasa sangat menghentak dan menghasilkan percepatan tanah nan tinggi.
"Dari kacamata seismologi, batuan lempeng samudra nan padat, homogen dan kaku berfaedah sebagai penghantar gelombang seismik nan sangat efisien, membikin gelombang berfrekuensi tinggi merambat ke permukaan tanpa mengalami peredaman (attenuation) nan berarti," kata Daryono.
Dampaknya kemudian diperparah oleh kondisi wilayah. Kota Padang, misalnya, berada di atas endapan aluvial nan relatif lunak sehingga dapat mengalami pengaruh amplifikasi alias penguatan guncangan.
Selain itu, gempa juga memicu tanah longsor di area perbukitan Pariaman. Kombinasi kekuatan gempa, karakter gelombang, kondisi tanah, dan kerentanan gedung membikin dampaknya menjadi sangat besar, sekalipun tidak memicu tsunami dan bukan tergolong megathrust.
Tak hanya itu, Daryono menambahkan, musibah gempa Sumatra Barat pada 2009 diperburuk oleh rangkaian kejadian gempa besar. Pada 30 September 2009 terjadi gempa besar di sekitar Pariaman dengan magnitudo sekitar Mw7,6 (BMKG mencatat M7,9), pada kedalaman sekitar 70-80 km.
Sehari kemudian, 1 Oktober 2009 pukul 08.52 WIB, terjadi gempa sekitar M6,6 di sekitar Sungai Penuh pada kedalaman dangkal.
"Kedua kejadian tersebut terjadi dalam selang waktu kurang dari 24 jam, tetapi mempunyai sumber tektonik nan berbeda," kata Daryono.
"Kedua gempa itu bukan sekadar "dua gempa di letak relatif berdekatan". Secara tektonik sumbernya berbeda. Gempa Pariaman terjadi pada kedalaman menengah di lingkungan subduksi, sedangkan gempa Sungai Penuh merupakan gempa dangkal nan berangkaian dengan sistem Sesar Sumatra," jelasnya.
Akibatnya, menurut info BPBD, 1.117 orang tewas dan 2.180 orang terluka. Lalu ribuan bangunan, jalan, dan akomodasi lain luluh lantak dalam waktu kurang dari 1 menit.
Keruskaan saat gempa melanda Padang Pariaman di Provinsi Sumatera Barat tahun 2009. (Dok. usgs.gov) Foto: Keruskaan saat gempa melanda Padang Pariaman di Provinsi Sumatera Barat tahun 2009. (Dok. usgs.gov)
(mfa/mfa)
[Gambas:Video CNBC]

57 menit yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·