Gerhana Matahari Total 1868 Ungkap Penemuan Gas Helium

1 jam yang lalu 1
Gerhana Matahari Total 1868 Ungkap Penemuan Gas Helium Fase totalitas selama eklips mentari total pada 8 April 2024 (gambar komposit).(Space.com / Josh Dinner)

PADA 18 Agustus 1868, sebuah peristiwa krusial dalam sejarah astronomi terjadi ketika astronom asal Prancis, Pierre Jules César Janssen, sukses menemukan unsur helium. Penemuan tak terduga ini berjalan saat dia mengawasi kejadian gerhana mentari total di India.

Kala itu, Janssen memanfaatkan perangkat spektroskop untuk mengawasi spektrum sinar nan dipancarkan oleh matahari. Alat ini memungkinkan para intelektual menganalisis dan mengidentifikasi komposisi unsur kimia berasas garis spektrum sinar nan dihasilkan.

Saat mengawasi struktur penonjolan mentari (solar prominences) di tengah berlangsungnya eklips total, Janssen menangkap keberadaan garis kuning terang nan sangat khas. Garis spektrum tersebut berbeda dan tidak cocok dengan materi alias unsur kimia mana pun nan telah ditemukan di Bumi pada masa itu.

Beberapa bulan setelah pengamatan tersebut, astronom asal Inggris, Norman Lockyer, secara independen mengawasi garis spektrum nan sama. Lockyer kemudian menyimpulkan garis sinar misterius itu berasal dari unsur kimia baru nan belum pernah dikenal sebelumnya. Unsur tersebut lantas dinamai helium, nan diambil dari kata Helios, dewa mentari dalam mitologi Yunani.

Keberadaan helium di Bumi baru sukses dibuktikan 13 tahun kemudian. Pada saat itu, fisikawan asal Italia, Luigi Palmieri, menemukan bukti bentuk pertama keberadaan helium di planet ini di dalam sampel lava Gunung Vesuvius.

Deteksi helium pada eklips mentari tahun 1868 mencatatkan sejarah sebagai momen pertama penggunaan instrumen spektroskopi dalam mengungkap keberadaan unsur kimia pada objek astronomi sebelum ditemukan di Bumi. Keberhasilan ini semakin menegaskan bahwa spektroskopi merupakan salah satu perangkat paling andal dalam bumi astronomi modern.

Seiring berjalannya waktu, para intelektual mendapati bahwa helium merupakan unsur paling melimpah kedua di alam semesta setelah hidrogen. Proses fusi nuklir nan mengubah hidrogen menjadi helium merupakan reaksi utama nan menjadi sumber daya bagi bintang-bintang, termasuk mentari kita.

Di era modern, gas helium mempunyai beragam kegunaan krusial, khususnya dalam industri penjelajahan antariksa. Gas helium secara luas digunakan untuk memberikan tekanan serta membersihkan sistem bahan bakar roket. Sementara itu, helium dalam corak cair kerap dimanfaatkan sebagai media pendingin bagi instrumen-instrumen ilmiah sensitif pada wahana antariksa. (Space/Z-2)

Selengkapnya