GOTO Keluar dari Indeks MSCI, Alarm Kualitas Pasar Modal Indonesia

57 menit yang lalu 1
GOTO Keluar dari Indeks MSCI, Alarm Kualitas Pasar Modal Indonesia Pekerja memandang pergerakan saham GoTo (Gojek Tokopedia) di Jakarta, Jumat (18/11/2022).(ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)

KELUARNYA PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari MSCI Global Standard Indexes serta turunnya kelas PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) ke MSCI Small Cap Indexes menjadi sinyal serius bagi pasar modal Indonesia. Perubahan posisi ini dinilai bukan sekadar rotasi rutin, melainkan sirine atas kualitas likuiditas dan daya tarik investasi (investability) emiten di mata penanammodal global.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menegaskan bahwa keputusan MSCI tersebut menunjukkan tantangan pasar modal Indonesia sekarang telah bergeser. Persoalan utama tidak lagi hanya bertumpu pada besarnya kapitalisasi pasar alias jumlah emiten, tetapi sudah menyentuh aspek esensial aksesibilitas bagi penanammodal institusi.

"Ini menjadi sirine bahwa persoalan pasar modal Indonesia bukan lagi sekadar soal jumlah emiten alias kapitalisasi pasar, tetapi sudah menyentuh kualitas likuiditas dan investability," ujar Hendra kepada Media Indonesia, Kamis (13/8).

Parameter Global dan Realitas Pasar

Menurut Hendra, MSCI mempunyai parameter ketat dalam menentukan konstituen indeksnya. Ketika sebuah saham tidak lagi memenuhi standar ukuran kapitalisasi nan dapat diinvestasikan (investable market cap) dan tingkat likuiditas harian, maka penurunan kelas alias penghapusan dari indeks menjadi akibat logis.

Berikut adalah ringkasan perubahan posisi emiten dalam tinjauan MSCI berasas info nan dihimpun:

Emiten Status Sebelumnya Status Terbaru
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) MSCI Global Standard Indexes Keluar dari Indeks
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) MSCI Global Standard Indexes Turun ke MSCI Small Cap Indexes

Kondisi ini menjadi ironi di tengah upaya regulator memperkuat transparansi pemegang saham, meningkatkan free float, dan memperkokoh tata kelola perusahaan (GCG).

Hendra menilai, besarnya kapitalisasi pasar GOTO selama ini tidak serta-merta menjamin tingkat investability nan kuat jika tidak dibarengi dengan kemudahan transaksi dalam volume besar tanpa mengganggu stabilitas harga.

Dampak Aliran Dana Asing

Dampak dari perubahan indeks ini tidak bisa diremehkan. Investor lembaga dan pengelola biaya pasif nan menjadikan MSCI sebagai tolok ukur (benchmark) dipastikan bakal melakukan penyesuaian portofolio. Hal ini berpotensi memicu tekanan jual, terutama jika likuiditas saham di pasar reguler sedang tipis.

Di tengah tren net sell penanammodal asing nan tetap signifikan sepanjang tahun ini, keluarnya emiten besar dari indeks dunia dikhawatirkan memperburuk persepsi pasar. Investor dunia diprediksi bakal semakin selektif dalam menempatkan biaya mereka di Indonesia.

Evaluasi Ekosistem Pasar Modal

Hendra menekankan bahwa kasus GOTO dan CPIN kudu dilihat sebagai momentum pertimbangan menyeluruh bagi ekosistem pasar modal nasional. Menambah jumlah emiten dan produk baru memang penting, namun pertumbuhan permintaan (demand) dan likuiditas jauh lebih krusial.

"Pasar modal tidak hanya memerlukan banyak saham, tetapi juga saham nan aktif diperdagangkan, mempunyai free float nan sehat, serta didukung tata kelola nan andal dan bisa menyerap transaksi penanammodal lembaga dalam skala besar," tambahnya.

Regulator dan Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan tidak hanya memandang likuiditas sebagai masalah teknis perdagangan, melainkan sebagai parameter kualitas pasar. Reformasi pasar modal kudu melampaui pembenahan administratif guna memastikan pasar Indonesia tetap menarik, transparan, dan mudah diakses oleh organisasi investasi global. (Z-1)

Selengkapnya