Guru Literasi Jakarta dan Dinas Pendidikan DKI Perkuat Literasi dan Kreativitas Siswa lewat Gebyar Merdeka

55 menit yang lalu 1
Guru Literasi Jakarta dan Dinas Pendidikan DKI Perkuat Literasi dan Kreativitas Siswa lewat Gebyar Merdeka Ilustrasi(MI/FICKY RAMADHAN)

GURU Literasi Jakarta (GliterJak) berbareng Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menggelar Gebyar Merdeka dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian program nan menggabungkan literasi, kreativitas, kepedulian lingkungan, serta penguatan organisasi pembimbing di Jakarta.

Selain perlombaan bagi siswa, Gebyar Merdeka diisi dengan perbincangan interaktif mengenai pengolahan sampah, pameran karya berbahan peralatan bekas, serta pengukuhan pengurus GliterJak tingkat Suku Dinas Pendidikan wilayah kota/kabupaten manajemen di Provinsi DKI Jakarta.

Ketua GliterJak, Sri Kustiah mengatakan, rangkaian aktivitas tersebut dirancang untuk memperluas pemaknaan literasi sekaligus memberikan ruang kepada siswa untuk menunjukkan kreativitasnya.

"Hari ini merupakan puncak aktivitas dari serangkaian lomba nan dilaksanakan oleh Guru Literasi Jakarta alias GliterJak berbareng Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia, kami mengadakan serangkaian kegiatan, tidak hanya lomba, tetapi juga perbincangan interaktif mengenai pilah dan olah sampah serta pameran nan dibuat dari barang-barang bekas," kata Sri di Jakarta, Rabu (19/8).

Sri menjelaskan, GliterJak mau menunjukkan bahwa literasi tidak hanya berangkaian dengan aktivitas membaca dan menulis. Karena itu, lomba dalam Gebyar Merdeka disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan keahlian siswa.

Untuk siswa sekolah dasar digelar lomba konten kreator, siswa SMP mengikuti Junior English Presentation, sedangkan siswa SMA mengikuti lomba Robotics.

"Kami mau mengambil konsep bahwa literasi itu tidak sekadar membaca dan menulis. Anak-anak juga kudu bisa berkomunikasi, berpikir kreatif, menghasilkan karya, dan memecahkan masalah," ujarnya.

Rangkaian aktivitas tersebut mengangkat dua tema utama, ialah "Jaga Sekolah Bersih, Pilah dan Olah Sampah dari Sumbernya" serta "Perpustakaan sebagai Salah Satu Sumber Ilmu Meningkatkan Nilai TKA".

Menurut Sri, tema pengolahan sampah sekaligus menjadi corak support terhadap program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, termasuk Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026.

"Kami mau aktivitas ini bukan seremonial dan bukan template aktivitas semata. Kami mau menunjukkan bukti nyata bahwa sekolah-sekolah sudah melaksanakan Instruksi Gubernur Nomor 5, khususnya mengenai pengolahan sampah," ucapnya.

Salah satu agenda utama Gebyar Merdeka adalah perbincangan interaktif pengolahan sampah. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi guru, siswa, dan penduduk sekolah untuk memahami pentingnya pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.

Sri mengatakan, edukasi mengenai lingkungan perlu diberikan melalui aktivitas nan konkret agar siswa dapat memahami sekaligus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Melalui perbincangan interaktif ini, kami mau anak-anak dan penduduk sekolah tidak hanya mengetahui persoalan sampah, tetapi juga memahami apa nan bisa dilakukan mulai dari sumbernya, termasuk memilah dan mengolah sampah," ujarnya.

Selain dialog, pameran juga menampilkan produktivitas siswa dalam memanfaatkan peralatan jejak menjadi beragam karya.

Perkuat Jaringan 

Di sisi lain, Gebyar Merdeka juga menjadi momentum penguatan organisasi melalui pengukuhan pengurus Guru Literasi Jakarta tingkat Suku Dinas Pendidikan wilayah kota/kabupaten manajemen di Provinsi DKI Jakarta.

Menurut Sri, pengukuhan tersebut diharapkan memperkuat jaringan organisasi pembimbing literasi di beragam wilayah Jakarta sehingga program literasi dapat melangkah secara berkelanjutan.

"Pengukuhan ini menjadi bagian dari penguatan organisasi GliterJak di setiap wilayah. Harapannya, teman-teman pembimbing dapat terus bergerak, berkolaborasi, dan menghadirkan aktivitas literasi nan memberikan akibat bagi peserta didik," ungkapnya.

Dalam kesempatan nan sama, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana mengapresiasi aktivitas nan lahir dari inisiatif organisasi guru. Menurutnya, Dinas Pendidikan tidak mau produktivitas di lingkungan pendidikan hanya berasal dari program pemerintah nan berkarakter top-down.

"Dinas Pendidikan memang mengharapkan aktivitas itu bukan hanya template dari kami nan sifatnya top-down. Tetapi gimana produktivitas itu dibangun. Teman-teman pembimbing berkomunitas melahirkan ide, kemudian kami memberikan dukungan," ujar Nahdiana.

Ia menilai pendekatan tersebut dapat mendorong sekolah dan pembimbing lebih aktif menciptakan program sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan lingkungan sekitar.

"Yang paling krusial adalah gimana aktivitas itu tidak berakhir pada acara. Dari pengetahuan literasi, anak-anak kudu diajarkan berpikir kritis dan kemudian mencari solusi untuk lingkungannya," katanya.

Nahdiana menegaskan, aktivitas pendidikan tidak boleh berakhir sebagai aktivitas seremonial. Setiap program kudu mempunyai akibat nan dapat dirasakan dan mendorong perubahan perilaku.

"Bukan selesai aktivitas ini, dibuka, kemudian selesai. Kita lebih kepada dampaknya. Siapa saja nan mengemban amanah pendidikan kudu berkekuatan dan berdampak," tuturnya.

Ia mencontohkan aktivitas pemilahan sampah. Keberhasilannya tidak cukup hanya dilihat dari jumlah sampah nan sukses dikurangi, tetapi dari perubahan kebiasaan dan tumbuhnya kesadaran di lingkungan sekolah.

"Bukan sekadar pencatatan nomor bahwa sampah sudah direduksi sekian. Tetapi gimana ini menjadi gerakan, menjadi habituasi, dan akhirnya menjadi kesadaran bersama," ucapnya.

Menurut Nahdiana, pendidikan nan berakibat memerlukan keterlibatan beragam pihak. Sekolah, keluarga, masyarakat, komunitas, dan media kudu menjalankan perannya masing-masing.

"Saya sering mengatakan bahwa karya bisa berakibat jika ada orkestrasi. Pendidikan tidak bisa kita pisahkan hanya di sekolah alias hanya di rumah. Semua kudu memainkan perannya masing-masing sehingga anak mendapatkan pendidikan nan utuh," katanya.

Ia berambisi kerjasama dengan organisasi seperti GliterJak dapat terus berkembang dan melahirkan lebih banyak organisasi pendidikan nan mandiri.

"Harapannya bakal bertumbuh komunitas-komunitas nan secara mandiri. Kami juga berambisi pendidikan di Jakarta adalah pendidikan nan holistik dan integratif," ujarnya.

Nahdiana menambahkan, pendidikan Jakarta kudu bisa menyiapkan siswa menghadapi perkembangan dunia tanpa kehilangan karakter kebangsaan.

"Anak-anak kudu mempunyai pengetahuan, tetapi juga punya sikap ketika berada di kota nan bakal menjadi dunia city. Mereka juga kudu mempunyai attitude kebangsaan bahwa kita adalah bangsa Indonesia dengan ideologi Pancasila, sehingga anak-anak kita tidak kehilangan jati dirinya," pungkasnya. (H-2)

Selengkapnya